Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 28 September 2026

KLB Ganda di Labura, Kasus Malaria Capai 1.300 hingga Agustus 2026

Leo Bastari Bukit - Minggu, 27 September 2026 19:36 WIB
204 view
KLB Ganda di Labura, Kasus Malaria Capai 1.300 hingga Agustus 2026
Kasi P2PM Dinkes Sumut dr Nora Nasution

Medan(harianSIB.com)

Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Provinsi Sumatera Utara (Sumut), menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) ganda penyakit menular. Pemerintah Kabupaten Labura menetapkan KLB malaria dan dengue menyusul peningkatan kasus di sejumlah wilayah.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut mencatat, hingga Agustus 2026 terdapat sekitar 1.300 kasus malaria di Labura. Dari jumlah tersebut, sekitar 900 kasus ditemukan di wilayah Tanjung Leidong.

Kepala Dinkes Sumut melalui Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Sumut, dr Nora Nasution mengatakan Labura menjadi salah satu daerah dengan kontribusi kasus malaria terbesar di Sumut.

"Total seluruhnya dari Januari sampai Agustus kemarin mereka 1.300-an. Jadi mereka menyumbang sepertiganya kasus di Sumut," ujar Nora, Minggu (27/9/2026).

Menurutnya, Tanjung Leidong menjadi wilayah dengan kasus malaria terbanyak, disusul Kampung Masjid. Kondisi ini menjadi perhatian karena kasus malaria di Labura sebelumnya sempat ditekan secara signifikan.

Nora mengatakan penelitian yang dilakukan Prof Ayodhia di Tanjung Leidong pada 2021 hingga 2024 pernah menurunkan kasus malaria hingga 64 persen. Namun, setelah program tersebut tidak lagi dilanjutkan, kasus kembali meningkat. "Dulu di tahun sebelumnya kasusnya turun, ada 64 persen. Sekarang naik lagi," katanya.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah malaria akibat Plasmodium vivax yang dapat mengalami kekambuhan. Nora menjelaskan, pengobatan terhadap jenis malaria tersebut membutuhkan terapi selama 14 hari.

Dalam penelitian sebelumnya, dilakukan penyesuaian dosis dengan durasi pengobatan lebih singkat. Namun, terapi tersebut harus didahului pemeriksaan G6PD. Menurut Nora, pola penanganan tersebut tidak lagi berjalan seperti sebelumnya sehingga kasus kembali meningkat.

Selain malaria, KLB dengue di Labura juga menjadi perhatian. Dinkes Sumut mencatat 128 kasus dengue sepanjang Januari hingga Agustus 2026, dengan satu kasus kematian.

Korban meninggal merupakan seorang pelajar perempuan berusia 14 tahun. Peningkatan kasus dengue disebut mulai terjadi sejak Mei 2026 hingga akhirnya ditetapkan sebagai KLB.

"Kalau dengue, terjadi peningkatan kasus yang dua kali lebih besar dari bulan sebelumnya. Kemudian ada kematian tadi satu," ujar Nora.

Nora menjelaskan, pasien sempat menjalani perawatan dan kondisinya membaik. Namun, pasien kembali mengalami demam ketika memasuki fase kritis dengue.

Pada fase tersebut, pasien dapat mengalami kebocoran plasma dan perdarahan yang menyebabkan kondisi memburuk. Korban kemudian dirujuk ke rumah sakit di Medan, namun akhirnya meninggal dunia.

Dinkes Sumut juga menemukan jentik nyamuk saat melakukan survei di wilayah yang banyak ditemukan kasus dengue. Temuan tersebut menunjukkan masih terdapat tempat perkembangbiakan nyamuk yang perlu diberantas.

Nora menegaskan, penanganan dengue tidak cukup hanya dengan melakukan fogging. Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus dinilai menjadi langkah penting untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk. "Yang paling efektif adalah PSN 3M Plus," tegasnya.

PSN 3M Plus dilakukan dengan menguras dan menutup tempat penampungan air serta mengelola barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Upaya tersebut juga dapat diperkuat dengan penggunaan kelambu, kasa, repellent maupun ikan pemakan jentik.

Menurut Nora, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyelesaikan sumber persoalan apabila jentik masih dibiarkan berkembang.

Selain Labura, Dinkes Sumut juga mencatat KLB dengue di Tapanuli Tengah, Labuhanbatu dan Mandailing Natal. Sementara KLB malaria ditemukan di Dairi, Serdang Bedagai dan Labuhanbatu Utara.

Labura menjadi daerah yang mendapat perhatian khusus karena menghadapi dua KLB sekaligus, yakni dengue dan malaria.

Nora menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam memutus mata rantai penularan penyakit, terutama melalui pemberantasan tempat-tempat yang menjadi sarang dan tempat berkembang biak nyamuk.

"Yang paling penting untuk memutus mata rantai penularan: peran aktif dari masyarakat," pungkasnya. (*)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru