Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 04 Agustus 2026

Yuni Lahirkan Seekor Bayi Gajah di CRU Tangkahan

- Rabu, 22 Juli 2015 09:59 WIB
212 view
 Yuni Lahirkan Seekor Bayi Gajah di CRU Tangkahan
Medan (SIB)- Salah satu gajah bernama Yuni melahirkan seekor bayi gajah di Conservation Response Unit (CRU) Tangkahan. Bayi gajah berjenis kelamin perempuan lahir dalam kondisi sehat dengan ukuran lingkar dada 100 cm dan tinggi badan 83 cm. Saat ini di CRU Tangkahan masih terdapat 2 gajah betina bernama Olive dan Agustin yang sedang hamil dan akan melahirkan dalam waktu dekat.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Andy Basrul, mengatakan, bayi gajah yang lahir pada hari Minggu (19/7) dini hari tersebut saat ini belum diberi nama. Dia berharap Menteri LHK atau Dirjen KSDAE berkenan untuk berkunjung ke Tangkahan sekaligus memberikan nama.

Menurutnya, induk gajah di Tangkahan sudah beberapa kali berhasil melahirkan namun anak-anak gajah tersebut belum berhasil bertahan hidup hingga dewasa. Hal tersebut dikarenakan sangat rawan terhadap beberapa jenis penyakit. "Bayi gajah yang baru lahir saat ini diharapkan bisa survive dan dapat tumbuh dengan sehat," katanya kepada wartawan via telepon seluler, Selasa (21/7).

Lebih lanjut Andi Basrul menegaskan, kelahiran gajah di Tangkahan ini membuktikan bahwa pengelolaan gajah jinak bersama masyarakat tetap memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan satwa, sehingga terjadi kehamilan dan kelahiran.

Keseluruhan gajah dewasa di  CRU Tangkahan, katanya berjumlah 7 ekor, betina 6 ekor dan jantan 1 ekor. Gajah-gajah tersebut digunakan melakukan patroli pengamanan kawasan TNGL. Selain itu keberadaan gajah di kawasan pariwisata alam Tangkahan juga dimanfaatkan dalam program patroli parsipatif yang dikembangkan bersama masyarakat Tangkahan sekaligus menambah daya tarik bagi para pengunjung.

"Penggunaan gajah jinak untuk pengamanan kawasan TNGL bisa berarti secara langsung digunakan untuk patroli hutan, maupun secara tidak langsung dengan pengembangan program patroli partisipatif yang dikombinasi dengan pariwisata alam oleh masyarakat lokal Tangkahan melalui Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT). Hal ini sangat memberikan manfaat akan keberadaan hutan dan gajah bagi masyarakat secara berkelanjutan, memanfaatkan tanpa merusak hutan dan membunuh gajah. Akhirnya masyarakat pun akan secara aktif ikut menjaga dan melindungi kelestarian hutan TNGL. Ini merubah cerita masyarakat Tangkahan 180 derajat, yang sebelumnya menjadi pelaku illegal logger menjadi pelestari dan pelindung hutan,” lanjut Andi Basrul.

Dia menambahkan, keberadaan gajah selama ini sangat membantu petugas mengamankan kawasan TNGL. Pengelolaan gajah jinak di Tangkahan, kata dia, saat ini merupakan wewenang dari Balai Besar TNGL, dalam pelaksanaannya bekerjasama dengan CRU Tangkahan dan didukung oleh Vesswic dalam monitoring kesehatan, serta pengembangan patroli partisipatif bersama LPT.

Perawatan dan monitoring kesehatan gajah dilakukan secara rutin oleh dokter hewan. Terutama bayi gajah sangat membutuhkan perawatan yang intensif.  Makanan yang dikonsumsi gajah berasal dari pelepah kelapa sawit, kulit durian dan tumbuh-tumbuhan yang ada di hutan. (A18/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru