Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 26 Juni 2026

Sekolah Rakyat Menyalakan Mimpi Anak Tukang Kayu, Medali Emas Karate Jadi Bukti Awal

Christopel H Naibaho - Jumat, 26 Juni 2026 16:41 WIB
231 view
Sekolah Rakyat Menyalakan Mimpi Anak Tukang Kayu, Medali Emas Karate Jadi Bukti Awal
Foto: harianSIB.com/Christopel Naibaho
Siswa SRMP 2 Medan, Arozak Damar Ramani saat memperlihatkan jurus karate.

Medan(harianSIB.com)

Posturnya boleh kecil, tapi setiap pukulan dan tendangan yang dilepaskan Arozak Damar Ramani berbuah poin hingga mengantarkannya berdiri di podium juara. Di balik medali emas karate yang diraih siswa Sekolah Rakyat itu, justru tersimpan kisah perjuangan seorang anak tukang kayu yang tumbuh dalam keterbatasan, tetapi tak pernah kehilangan mimpi.

Lahir dari keluarga sederhana yang tinggal di rumah sewa kawasan Medan Timur, Arozak cuma seorang bocah yang nyaris tak punya banyak pilihan mengubah nasibnya. Ayahnya bekerja sebagai tukang kayu harian. Gaji jauh dari cukup. Sementara sang ibu berjuang mengurus keluarga dengan segala keterbatasan menghidupi lima anaknya.

Lahir pada 21 November 2013, Arozak merupakan anak kelima dari pasangan Yunda Ramani dan Wasiati. Sejak kecil, ia terbiasa melihat kedua orang tuanya bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga. Penghasilan sang ayah tentu tidak menentu. Tak jarang dia menyaksikan sang ayah harus meminjam uang.

Meski hidup serba sederhana, orang tuanya tak pernah berhenti menanamkan harapan agar anaknya bisa sukses.

Baca Juga:
Kesempatan mengubah masa depan datang ketika ibunya mendapat informasi tentang Sekolah Rakyat, sekolah berasrama yang digagas pemerintah melalui Kementerian Sosial untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Tanpa ragu, sang ibu mendaftarkannya.

Bagi Arozak, keputusan itu bukan perkara mudah. Ia harus meninggalkan rumah dan hidup jauh dari kedua orang tuanya. Rasa sedih karena berpisah dengan keluarga masih sering datang, apalagi ayah dan ibunya hanya bisa menjenguk sebulan sekali.

Namun, ia memahami bahwa pengorbanan itu adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik. "Orang tua selalu titip pesan agar rajin belajar supaya sukses. Jangan seperti bapak dan mamak," katanya.

Di Sekolah Rakyat, seluruh kebutuhan hidupnya dipenuhi. Tempat tinggal yang layak, makan bergizi, perlengkapan sekolah hingga laptop untuk menunjang pembelajaran disediakan tanpa biaya. Hal-hal yang dulu terasa mustahil bagi keluarganya kini menjadi kenyataan.

Setiap hari Arozak bangun pukul 04.30 WIB. Ia merapikan tempat tidur, mandi, salat, lalu memulai aktivitas belajar. Selepas sekolah, waktunya kembali dipenuhi berbagai kegiatan pengembangan diri.

Hari Selasa diisi latihan kebugaran, Rabu boxing, Kamis karate, Jumat bola tangan, Sabtu Pramuka atau kebugaran, sementara Minggu digunakan untuk membersihkan lingkungan asrama, menjemur kasur hingga beristirahat bersama teman-teman.

Rutinitas yang padat itu justru membentuk disiplin yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Dari Sekolah Rakyat juga, Arozak berkenalan dengan karate. Dia berlatih di sana. Baginya, karate bukan sekadar olahraga, tetapi jalan untuk menjadi pribadi yang kuat. Ia bahkan bercita-cita menjadi seorang polisi. "Saya ingin jadi polisi karena kelihatan gagah," katanya polos.

Belum genap setahun menekuni karate secara serius, Arozak berhasil meraih medali emas kelas Kumite 40 kilogram pada Open Karate Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) Cup 2026.

Di balik medali emas yang menggantung di lehernya, tersimpan air mata kedua orang tua yang selama ini berjuang dalam diam. Seorang ayah yang setiap hari mengayunkan palu dan gergaji demi menghidupi keluarga, kini melihat anaknya berdiri di podium juara.

Awal masa depan cerah Arozak mulai terlihat. Ia bermimpi bisa terus berprestasi hingga tingkat internasional. Ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya dan membuktikan bahwa anak dari keluarga kurang mampu bisa mengukir prestasi.

"Saya ingin sukses supaya bisa membahagiakan keluarga," ujarnya.

Kisah Arozak menjadi gambaran nyata bagaimana Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar. Program ini menghadirkan kesempatan yang selama ini sulit dijangkau anak-anak dari keluarga miskin.

Di sana, mereka tidak hanya memperoleh pendidikan gratis, tetapi juga tempat tinggal yang layak, makanan bergizi, pembinaan karakter, pengembangan bakat, hingga fasilitas belajar yang memadai.

Anak-anak dibimbing untuk disiplin, mandiri, berkarakter, sekaligus diberi ruang mengembangkan potensi di bidang akademik maupun olahraga.

- Sekolah Rakyat Hidupkan Mimpi Setiap Anak

Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) tak terkejut dengan bakat dan prestasi siswa Sekolah Rakyat. Hal itu dikatakannya saat menghadiri Open House Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, Senin (15/6/2026).

Bagi Gus Ipul, prestasi Arozak maupun siswa Sekolah Rakyat lainnya, menjadi bukti nyata bahwa bakat anak-anak tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi keluarganya. Ketika negara menghadirkan pendidikan yang berkualitas, lingkungan yang mendukung, serta pembinaan karakter yang baik, anak-anak dari keluarga kurang mampu mampu tumbuh menjadi pribadi yang berprestasi dan percaya diri.

"Dulunya anak-anak ini tidak seperti sekarang. Dulu lebih banyak bermain. Sekarang di sini lebih disiplin, percaya diri, pintar, dan optimistis menghadapi masa depan. Ini hal yang kita syukuri bersama," ujar Gus Ipul.

Ia menilai perubahan yang dialami Arozak dan siswa-siswa lainnya menunjukkan Sekolah Rakyat bukan sekadar memberikan pendidikan gratis, tetapi juga menghidupkan kembali harapan anak-anak yang selama ini terhambat oleh kemiskinan. Program tersebut menjadi jalan bagi mereka untuk menemukan bakat, mengejar cita-cita, sekaligus memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Sekolah Rakyat dirancang untuk melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan memiliki keterampilan sehingga mampu bersaing di masa depan. Apalagi Presiden Prabowo Subianto, kata dia, sangat memberikan perhatian besar terhadap pengembangan program tersebut agar semakin banyak anak dari keluarga miskin memperoleh kesempatan mengubah nasib.

Kisah Arozak tentu satu dari sekian banyak bakat siswa Sekolah Rakyat lainnya. Dari keterbatasan, berubah jadi harapan dan mimpi untuk masa depan lebih baik. Dari anak tukang kayu, kini berdiri di podium juara. Kalungan medali emas jadi awal. Suatu hari nanti kesuksesan juga akan jadi milik Arozak.( *)

Editor
: Eva Rina Pelawi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Mahasiswi USU Juara Karate Asia
Mensos Puji Pretasi Karateka SRMP 2 Medan, Bukti Sekolah Rakyat Cetak Generasi Unggul
UKT Karate Dojo TAKO Budi Murni Cetak Karateka Berkarakter dan Berprestasi
SD Budi Murni 2 Medan Juara II Umum Kejuaraan Karate TAKO Kota Medan
Piala Kadisporasu, Dojo Polres Batubara Raih 2 Emas, 2 Perak
Kadispora Sumut Buka Turnamen Karate, 938 Atlet Ambil Bagian
komentar
beritaTerbaru