Dokter Tifa Didakwa Berlapis, Sidang Lanjut 9 Juli
Jakarta (harianSIB.com)Sidang perdana perkara dugaan fitnah dan pencemaran nama baik terkait tudingan ijazah palsu Presiden ke7 RI, Joko Wi
Menjelang akhir tahun, negara kembali sibuk berbicara. Capaian dipamerkan, anggaran diklaim terserap, stabilitas disebut terjaga. Namun di tengah hiruk-pikuk laporan itu, publik justru kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: penjelasan yang jujur dan pertanggungjawaban yang utuh. Negara rajin mengumumkan, tetapi kerap menghindari kewajiban menjelaskan.
Pola ini bukan hal baru. Setiap akhir tahun, pemerintah seolah memasuki musim seremonial kebijakan. Yang ditampilkan adalah angka-angka keberhasilan, bukan proses pengambilan keputusan. Yang disorot adalah hasil akhir, bukan persoalan struktural yang melatarinya. Padahal, dalam demokrasi, kebijakan publik bukan sekadar soal apa yang dicapai, melainkan bagaimana dan untuk siapa kebijakan itu dijalankan.
Beberapa bulan terakhir, publik disuguhi polemik berlapis. Kebijakan berubah cepat tanpa komunikasi memadai. Bantuan sosial kembali menjadi isu rutin. Penanganan bencana terasa reaktif dan simbolik. Namun benang merahnya sama: negara lebih nyaman mengumumkan keputusan ketimbang membedah konsekuensinya. Kritik tidak dijawab dengan penjelasan berbasis data, melainkan dengan klaim normatif bahwa semua sudah berjalan sesuai rencana.
Ruang digital memperparah kecenderungan ini. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang dialog publik justru berubah menjadi arena pembelaan. Ketika kritik muncul, respons negara sering kali bersifat emosional dan defensif. Perdebatan kebijakan direduksi menjadi adu persepsi, bukan pertukaran argumen. Kebijakan publik diperlakukan seperti konten: yang penting ramai, bukan benar.
Kasus bantuan sosial mencerminkan problem tersebut. Setiap akhir tahun, bansos ditampilkan sebagai bukti kehadiran negara. Angka penyaluran diumumkan dengan bangga. Namun evaluasi terbuka mengenai ketepatan sasaran, kebocoran dan dampak jangka panjangnya nyaris absen. Publik hanya diminta percaya. Kritik dianggap tidak empatik, seolah mempertanyakan kebijakan identik dengan menolak bantuan bagi rakyat miskin. Logika semacam ini menutup ruang koreksi dan mematikan akuntabilitas.
Baca Juga:
Hal serupa terlihat dalam penanganan bencana. Setiap musibah memunculkan ritual yang nyaris seragam: kunjungan pejabat, pernyataan duka dan janji perbaikan. Namun pertanyaan mendasar—tentang tata ruang yang kacau, kerusakan lingkungan, serta lemahnya pengawasan—sering dibiarkan mengambang. Bencana direduksi menjadi peristiwa alam, bukan kegagalan kebijakan yang terus berulang. Negara hadir di lokasi, tetapi absen dalam refleksi.
Situasi ini menjadi semakin problematik dalam iklim demokrasi pasca-kontestasi politik. Kritik mudah dicurigai bermuatan kepentingan. Perbedaan pandangan dilabeli tidak konstruktif. Stabilitas dijadikan alasan untuk membungkam perdebatan. Padahal, demokrasi tidak tumbuh dari keseragaman suara, melainkan dari ketegangan gagasan. Negara yang kuat tidak takut dipertanyakan; negara yang rapuh justru alergi terhadap kritik.
Generasi muda ikut terdorong ke dalam pusaran ini. Mereka aktif bersuara, tetapi sering dipaksa memilih antara ikut bising atau diam. Ruang berpikir kritis yang tenang semakin menyempit. Padahal, yang dibutuhkan bangsa ini bukan lebih banyak slogan, melainkan keberanian untuk berpikir jernih dan konsisten.
Akhir tahun seharusnya menjadi momentum evaluasi kolektif, bukan sekadar penutupan laporan. Pertanyaan penting mesti diajukan dengan jujur: apakah kebijakan yang dijalankan benar-benar menyelesaikan masalah publik, atau hanya meredam kegaduhan sementara? Apakah negara hadir sebagai penjelas yang bertanggung jawab, atau sekadar sebagai pengumum yang rajin berbicara?
Tanpa penjelasan yang terbuka, pengumuman hanya akan menjadi kebisingan. Dan kebisingan, betapapun rapi dikemas, tidak pernah bisa menggantikan akuntabilitas. (**)
Baca Juga:
Jakarta (harianSIB.com)Sidang perdana perkara dugaan fitnah dan pencemaran nama baik terkait tudingan ijazah palsu Presiden ke7 RI, Joko Wi
Tapteng(harianSIB.com)Polres Tapanuli Tengah (Tapteng) merespons cepat laporan dugaan aktivitas galian ilegal kabel optik milik PT Telkom di
Lubukpakam(harianSIB.com)Beredar informasi yang menyebutkan seorang kepala daerah di Sumatera Utara diduga diamankan oleh Komisi Pemberantas
Medan(harianSIB.com)Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Pirngadi Medan mengakui adanya penggeledahan yang dilakukan Tim Penyidik Tin
Medan(harianSIB.com)Media sosial instansi pemerintah daerah idealnya tidak lagi sekadar menjadi wadah publikasi kegiatan seremonial. D
Medan(harianSIB.com)Forum Wartawan Pemprov (FWP) Sumut menyatakan komitmennya mengerahkan seluruh potensi diseminasi informasi guna menggaun
Rantauprapat(harianSIB.com)Seorang mahasiswi Telkom University bernama Nadira AzZahra (21), yang akrab disapa Dira, dilaporkan hilang setel
Medan(harianSIB.com)Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menutup Rapat Kerja
Aekkanopan(harianSIB.com)Komandan Kodim (Dandim) 0209 /Labuhanbatu, Letkol Kav Hanung Kaptiaji, menghadiri acara coffee morning bersama insa
Sidikalang(harianSIB.com)Wakapolres Dairi, Kompol Diarma Munthe SH memimpin upacara kenaikan pangkat 22 personel Polres Dairi, Kamis (2/7/20
Balige(harianSIB.com)Sebuah hotel berdiri megah persis di tepi Danau Toba di Desa Lumban Silintong, Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.
Deliserdang(harianSIB.com)Menjadi bagian dari perhelatan akbar nasional, Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) menghadiri acara Gala Dinner punca