Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 02 Mei 2026

Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua (Refleksi Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026)

Oleh: Benyamin Nababan SH SPd MM
Redaksi - Sabtu, 02 Mei 2026 08:00 WIB
158 view
Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua (Refleksi Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026)
harianSIB.com/Dok
Benyamin Nababan SH SPd MM

(harianSIB.com)

Pendidikan menempati posisi fundamental dalam pembangunan sumber daya manusia. Mutu pendidikan berpengaruh langsung terhadap kapasitas bangsa menghadapi kompetisi global yang semakin dinamis. Realitas empiris menunjukkan bahwa capaian pendidikan nasional belum sepenuhnya merata, baik dari sisi akses, kualitas pembelajaran, maupun relevansi lulusan terhadap kebutuhan dunia kerja. Kondisi tersebut menuntut penguatan partisipasi semesta sebagai strategi kolektif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Kerangka hukum pendidikan nasional telah tersusun secara komprehensif. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan pendidikan sebagai usaha sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik secara utuh. Prinsip penyelenggaraan menekankan keadilan, demokrasi, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 mengatur Standar Nasional Pendidikan sebagai tolok ukur mutu. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 mengatur profesionalisme guru dan dosen. Regulasi tersebut mencerminkan komitmen negara, meskipun implementasi menghadapi kendala struktural dan kultural.

Kondisi pendidikan Indonesia menunjukkan dinamika yang kompleks. Data Badan Pusat Statistik (2024) mencatat Angka Partisipasi Kasar Pendidikan Anak Usia Dini berada pada kisaran 37 persen. Angka tersebut mengalami peningkatan, namun tertinggal dibanding negara dengan sistem pendidikan maju. Pada jenjang pendidikan dasar, Angka Partisipasi Murni mencapai lebih dari 97 persen, menunjukkan akses relatif merata. Persoalan utama terletak pada kualitas pembelajaran. Hasil Programme for International Student Assessment tahun 2022 menunjukkan skor literasi membaca Indonesia sebesar 359, matematika 366, sains 383, berada di bawah rata-rata OECD. Data tersebut mengindikasikan rendahnya kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik.

Pada tingkat pendidikan menengah, Angka Partisipasi Kasar mencapai sekitar 92 persen. Disparitas kualitas antarwilayah masih terlihat jelas, terutama antara daerah perkotaan dan wilayah tertinggal. Fasilitas pendidikan, akses teknologi, serta ketersediaan tenaga pendidik berkualitas menjadi faktor penentu. Pendidikan tinggi mengalami ekspansi signifikan. Kementerian Pendidikan mencatat lebih dari 4.000 perguruan tinggi dengan Angka Partisipasi Kasar sekitar 31 persen pada tahun 2024. Angka tersebut meningkat, namun belum menyamai negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga:
Kualitas lulusan menjadi perhatian utama. Laporan World Bank menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri. Lulusan perguruan tinggi dalam negeri cenderung lemah pada aspek soft skills, termasuk komunikasi, kolaborasi, serta kemampuan analitis. Lulusan luar negeri memiliki keunggulan pada pendekatan problem solving akibat sistem pembelajaran berbasis riset. Namun, lulusan domestik memiliki keunggulan kontekstual terkait pemahaman kondisi sosial nasional. Reformasi kurikulum berbasis kompetensi menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan daya saing lulusan.

Ketersediaan lapangan kerja menjadi indikator relevansi pendidikan. Badan Pusat Statistik tahun 2024 mencatat tingkat pengangguran terbuka lulusan perguruan tinggi berada pada kisaran 5-6 persen. Angka tersebut menunjukkan adanya mismatch antara output pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja terdidik. Pendidikan tinggi perlu mengembangkan orientasi kewirausahaan. Lulusan perguruan tinggi memiliki potensi sebagai pencipta lapangan kerja melalui inovasi berbasis teknologi. Ekosistem kewirausahaan di negara maju menunjukkan efektivitas dalam mendorong lulusan menjadi job creator.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Indonesia-Belarus Sepakati Kerja Sama Riset dan Teknologi
Kejari Lubukpakam Dinas Pendidikan Gelar Gebyar Kreativitas Budaya untuk Anak SD dan SMP
BPPT Kurangi Dosis Teknologi Asing untuk Perkapalan
LKP Ayu Salon P Siantar Buka Program Pelatihan Pendidikan Kecakapan Wira Usaha
Dewan Pendidikan Minta Disdik Pematangsiantar Data SD yang Siswanya Sedikit
Mahasiswa Unpab Juara II Inovasi Teknologi Nasional
komentar
beritaTerbaru