Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 01 Mei 2026

Sosok Peduli Terhadap Pelestarian Budaya, Malay Heritage Centre Singapura Anugerahi Soekirman Penghargaan

*Majelis Adat dan Budaya Kerabat Kesultanan Singapura YAM Tengku Mohamed Shawal Sematkan Tengkuluk Melayu kepada Soekirman * Laporan: Robert Banjanahor
- Kamis, 23 April 2015 21:28 WIB
567 view
Sosok Peduli Terhadap Pelestarian Budaya, Malay Heritage Centre Singapura Anugerahi Soekirman Penghargaan
Dinilai sebagai sosok yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya, Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Ir H Soekirman mendapat simpati dari berbagai kalangan penggiat budaya. Bukan saja penggiat budaya lokal, tetapi penggiat budaya dari negara luar, seperti Singapura. Negara yang dikenal sukses di bidang bisnis ini, ternyata  juga memberikan perhatian  terhadap pelestarian budaya di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Serdang Bedagai.  Lalu, atas dedikasi ini, para penggiat budaya merasa patut memberikan suatu penghargaan kepada orang yang dinilai berjasa dalam  upaya menyelamatkan keberlanjutan masa depan budaya.

Belum lama ini, Kamis (16/4), bertempat di Gedung Mamanda Istana Kampong Glam, Kawasan Taman Warisan Singapura, Malay Heritage Centre (MHC) Singapura,   Soekirman yang didampingi istri  Ny Hj Marliah Soekirman, mendapat kehormatan dan didaulat menjadi tamu istimewa pada suatu acara sarasehan budaya.  Di sana, atas kepeduliannya terhadap kelestarian budaya, pria berdarah Jawa kelahiran Perbaungan, Sergai ini pun dianugerahi penghargaan oleh Majelis Adat dan Budaya Kerabat Kesultanan Singapura, YAM Tengku Mohamed Shawal. Acara juga ditandai dengan penyematan tengkuluk Melayu oleh YAM Tengku Mohamed Shawal kepada Soekirman.

YAM Tengku Mohamed Shawal pada acara yang dihadiri Kesultanan Malaysia, Kesultanan Bugis, Yogyakarta dan penggiat budaya tuan rumah Singapura ini mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi sikap Soekirman yang sangat peduli terhadap keutuhan budaya.  Bukan hanya di Indonesia, penggiat budaya di Singapura juga terus memantau kalangan dari negara lain yang dinilai peduli terhadap masa depan budaya. “Penghargaan ini layak diberikan kepada Soekirman sebagai sosok pemerhati yang peduli terhadap kelestarian budaya yang merupakan warisan leluhur. Budaya harus hidup dan terus bertumbuh terutama kepada generasi di bawah kita,” harapnya sembari mengucapkan selamat kepada Soekirman.

Selain penghargaan dari Majelis Adat dan Budaya Kerabat Kesultanan Singapura, pada hari dan di tempat yang sama,  Soekirman yang beristrikan perempuan berdarah Batak yang lahir dari boru Panggabean ini, juga mendapat penghargaan dari Bebadan Museum Puro Pakualaman Budaya Kesultanan Yogyakarta yang diserahkan langsung oleh Ir KRAY SM Anglingkusumo SP.  Menurutnya, sebagai kepala daerah, Soekirman mampu menyatukan masyarakatnya yang multikultural dengan beragam budaya, adat dan bahasa dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.  

Soekirman kepada SIB  mengaku sangat bangga atas penghargaan yang diperolehnya. Dia tidak menyangka akan mendapatkannya. Apalagi, penghargaan terkait pelestarian budaya tersebut diperolehnya dari negara  luar. Ini bukan perlombaan atau pertandingan. Tetapi, merupakan hasil pandangan yang jujur atas sebuah prestasi dan tidak semua orang bisa mendapatkannya. “Ini membuktikan, bahwa pekerjaan yang baik yang kita lakukan, akan sangat dihargai dan tidak akan pernah sia-sia,” tegasnya.

Dari berbagai catatan SIB, prestasi seni dan budaya yang dihasilkan Soekirman di Sergai di antaranya,  kegiatan rutin seni dan budaya seperti ‘Kangen Suko Budoyo’ yang diisi dengan pagelaran wayang, ludruk dan kesenian lainnya. Kegiatan yang sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Kegiatan ini dijadwalkan secara bergantian di setiap kecamatan dan tetap dihadiri oleh Soekirman. Apalagi, pada momen pagelaran wayang, Soekirman selalu tampil sebagai ‘dalang’ yang menjadi kegemarannya. Karenanya, oleh masyarakat, Soekirman pun dikukuhkan sebagai Bapak Bedah Budaya. Kemudian, pelestarian budaya Melayu berupa tari-tarian yang selalu ditampilkan pada acara-acara tertentu yang digelar oleh Pemerintah Daerah Sergai. Dan, tarian Melayu seperti tarian ‘persembahan’ menjadi tarian wajib untuk menyambut tamu-tamu pada acara-acara penting di Sergai.

Di Sergai, kerukunan hidup umat beragama dan antar adat cukup kondusif. Bahkan masyarakat yang tergabung dalam Himpunan Masyarakat Adat (Himasdat) mendaulat Soekirman sebagai sosok yang menghargai dan peduli adat. “Soekirman sosok pemimpin yang ‘pluralisme’”, kata Sahril Matondang, ketua Himasdat Sergai pada satu kesempatan di Sei Rampah.   Selanjutnya, dukungannya atas keberadaan wadah dari etnis Batak dan Jawa yakni,  Kerukunan Masyarakat Batak (Kerabat) dan Sibaja (Si Batak Jawa). Lembaga ini tumbuh eksis dengan jumlah massa yang cukup besar.  â€œMasyarakat di Sergai cukup heterogen. Namun, hubungan antar etnis dapat terbina dengan baik serta penuh semangat persatuan dalam kebersamaan. Semangat kebersamaan ini merupakan aset andalan dalam membangun Sergai,” ungkap Drs Jonni Walker Manik MM dan Drs Janter Siregar MM selaku ketua dan sekretaris DPC ‘Kerabat’ Sergai. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru