Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 01 Mei 2026

Terlalu Cinta, Seorang Wanita Ditipu Hingga Rp10 Triliun

- Minggu, 03 September 2017 20:11 WIB
486 view
Singapura (SIB) -Cinta itu buta, begitulah sebuah bunyi pepatah yang umum kita dengar. Tidak peduli sang pujaan kekasih sedang berada di mana. Namun, aneh jika belum pernah bertemu dengan seseorang yang dikatakan sebagai kekasih sama sekali, bahkan rela melakukan apa saja kepada orang yang belum jelas apakah benar atau hanya menggunakan identitas palsu. Seperti halnya yang menimpa wanita ini.

Seorang wanita asal Singapura bernama Grace - nama samaran- telah 10 kali bepergian ke Malaysia selama empat bulan. Tidak hanya bepergian, ia mengeluarkan uang tunai dalam jumlah besar, totalnya mencapai 1,1 juta dolar Singapura (sekira Rp10,8 miliar). Grace berharap, uangnya dapat membebaskan "teman dekat" yang mengaku bernama Lee (52) dan ditahan di Kuala Lumpur karena pencucian uang.

Grace bercerita, mengenal Lee melalui Facebook pada September 2016. Namun lama-kelamaan mereka berdua sering bertemu serta makan dan minum bersama. Lee mengklaim bahwa dia berencana untuk bermigrasi ke Singapura dan ingin mengetahui bagaimana Grace, seorang penduduk tetap Singapura, dapat tinggal di Singapura lebih dari satu dekade.

Suatu malam pada awal 2017, Lee menelefon Grace mengatakan bahwa dia berada di Bandara Malaysia dan memerlukan uang. Ia mengatakan, tengah membawa uang tunai sebesar 2,7 juta dolar Singapura (Rp26 miliar) yang rencananya digunakan untuk membeli rumah di Singapura.

"Dia (Lee) menyerahkan telefon ke petugas bea cukai... bea cukai mengatakan bahwa mereka harus menahannya karena dia membawa banyak uang dan dia tidak boleh melakukannya," kata Grace. "(Lee) meminta bantuan dari Kanada dan temannya membawa seseorang dari PBB untuk membantunya," tambahnya.

Menurut laporan dari Straits News, Senin (28/8), Grace kemudian diperkenalkan ke "petugas PBB" yang mengatakan bahwa Bea Cukai Malaysia menginginkan USD250 ribu (Rp2,4 miliar sebagai imbalan atas pembebasan Lee. Grace enggan memberikan uangnya, namun 'pria PBB' tersebut memintanya untuk mencoba dan mengumpulkan dana. Pria tersebut juga menyarankan Grace agar pergi ke Bandara Kuala Lumpur.

Ketika dia pergi ke Malaysia pada Februari, oknum petugas PBB menggiringnya ke sebuah ruang rapat dan menunjukkan barang bawaan yang diklaim milik Lee. Tas tersebut penuh terisi dengan uang pecahan USD100 yang dibalut plastik. "Itu uang sungguhan. Dari situ saya percaya kasus ini serius. Saya merasa ia benar-benar membutuhkan pertolongan saya," ungkap Grace.

Lee kemudian menyuruh Grace agar membayarkan dana sertifikat dengan akun bank Kanada-nya. Namun, Grace tidak dapat menarik uang dari rekeningnya. Anehnya, ia bisa mentransfer dana ke perusahaan pelayaran saat dia harus membayar perusahaan tersebut dengan suatu alasan.

Grace melakukan perjalanan ke Johor Baru dan Kuala Lumpur setiap beberapa minggu dengan uang tunai. Uang itu diserahkan kepada "pekerja PBB" untuk mendapatkan sertifikat yang konon membuktikan bahwa Lee tidak bersalah.

Hal ini berlanjut sampai Mei. Oknum petugas PBB terus menelefonnya siang dan malam. Akhirnya, suatu hari Grace diberi tahu bahwa Lee akan dideportasi ke Kanada kecuali dia memberikan uang sebanyak USD150 ribu (Rp2 miliar). "Saya bilang saya tidak punya uang lagi... saya tidak bisa membantu lagi," kata Grace.

Setelah Lee "dideportasi", Grace menyadari bahwa situs perbankan online yang diberikan Lee adalah duplikat sebuah bank di Kanada alias palsu. Bahkan, nama domain itu baru dibeli pada Januari 2017. "Keluarga saya tidak tahu tentang ini, mereka tahu setelah saya lapor polisi," katanya. Dia tidak mencoba menghubungi Lee atau kaki tangannya setelah kejadian tersebut. Kasusnya termasuk di antara 349 penipuan berkedok cinta yang dilaporkan di paruh pertama 2017. Menurut polisi, jumlah kasus semacam ini naik jika dilihat dari statistik kejahatan. (okz/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru