Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 28 September 2026
Curhat

Yang Terluka Bawa Bahagia

* Marcellus Hia, Bukit Alverna, Sinaksak- Pematangsiantar
- Minggu, 20 November 2016 13:05 WIB
369 view
Yang Terluka Bawa Bahagia
Ebbiet itu sepertinya bagian tak terpisahkan di Indonesia. Di era 1980-an, ada musisi legenda yang sampai sekarang terus melahirkan lagu puitik. Saat ini, Ebbiet jadi bagian dari nadiku. Padahal, orangnya biasa saja. Bersahaja.

Aku dan Ebbiet berteman baik. Karena sama-sama jauh dari keluarga, berdua kami membentuk kekerabatan tersendiri. Tetapi, entah kenapa, tiba-tiba ia minta aku menulis tentangnya. "Tulis tentang cerita kita hari ini, ya! Hari ini saja!"

Aku manut saja. Bagiku, permintaan itu seperti guru karena melatihku untuk semakin lancar menuangkan imaji ke dalam tulisan. Apalagi tentang Ebbiet.
Entah mengapa pula. Setiap kali Ebbiet minta tulisan tentang hari kami berdua, angin sepoi membelai lembut manja. Saat aku menulis, tak terasa aku terlelap dalam ilusiku. Aku baru bangun ketika Ebbiet datang menggelitikkan kata dan desahan nafas di pangkal telinga.

Setiap malam, apalagi jika malam Minggu hingga menjelang Senin, Ebbiet terus saja minta aku menuliskan hari-hari bersama. Aku melakukan dengan riang. Kali ini, ia minta dituliskan berjudul Teman Tapi Mesra.

Tawa kami berdua berderai seperti cemara yang condong ke kanan-kiri disebabkan angin. Kupikir, aku dan Ebbiet lebih dari sekadar teman tapi mesra. Aku saja tidak tahu mengklasifikasikan apa jenis hubungan kami ini. Yang pasti, aku merasa senapas dengannya.

Hanya saja, kali ini aku menulis hari-hariku saat ini dengan derai air mata dan elaan napas sedih. Setelah ia minta cuti, dari kampungnya dapat kabar Ebbiet sudah menghadapNya karena jantung.

Aku tak percaya karena selama berteman dengannya tidak ada keluhan terkait jantung. Ebbiet segar-bugar. Bahkan kala terakhir mengantarnya ke stasiun tujuan ke kampung halamannya, wajahnya bersemu merah.

Ada sih makna tersirat dari sorot wajahnya yakni air mata menitik. Saat itu, aku berpikir Ebbiet terlalu melankolik. Soalnya, ia yang permisi ke kampung meninggalkanku kok Ebbiet pula yang menangis.

Angin sepoi kembali membelaiku tapi kali ini Ebbiet sudah tiada karena sakit jantung. Jantung yang sama pula pernah kugetarkan ketika aku pertama kali memberanikan diri memosisikan sebagai teman tapi mesra.

Bahagialah engkau di alamNya, Ebbiet. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru