Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 28 September 2026

Bolu Buah Tangan

* karya Agam Kristianus Zebua, Laverna - Gunungsitoli
- Minggu, 20 November 2016 13:09 WIB
505 view
Bolu Buah Tangan
Buah tangan menjadi kewajiban Natalia bila mengunjungi kerabatnya. Kali ini, atas permintaan famili yang di Jakarta, ia membeli bolu khas Medan.
Sepanjang waktu menuju ke toko, Lia terus fokus pada pesanan tapi ketika sampai di gerai penjualan, pikirannya berubah. Contoh yang disodorkan padanya beda dengan apa yang dilihat di foto. Ketika mencomot sepotong tester yang dihidangkan padanya, keinginannya semakin bertambah.

Mula-mula tertarik dengan warna, tapi berubah lagi karena aroma. Setelah dimakan, niatnya bergeser lagi ke bentuk yang lain. Ingin sekali semuanya dimiliki tapi ketersediaan uang tak memadai.

Otaknya terus berputar tapi tak juga sampai pada kesimpulan. Saking lamanya berpikir, pelayan pun meninggalkannya di depan display makanan.
Dihitung-hitungnya sendiri dalam hati. Ketika melihat arloji di pergelangan tangannya bergerak begitu cepat, Lia menutup mata dan secara acak menunjuk bolu. Ah, tetap juga seperti yang diinginkan.

Dengan sangat hati-hati ia menjinjing bolu tersebut. Soalnya, kalau berubah bentuk bisa membuat rasanya tidak lagi enak. Meski terkantuk-kantuk di ruang tunggu keberangkatan ke Jakarta, fokus utama pada buah tangan tersebut.

Begitu lama menunggu, Lia sampai tertidur dan baru terbangun ketika tersesak hendak ke kamar mandi. Buru-buru masuk ke bilik dan ketika kembali ke bangku semula tersadar bahwa bungkusan buah tangannya sudah entah ke mana.

Seluruh lingkungan lokasi duduknya diamatinya. Melihat ke bawah kolong, bahkan ke terowongan yang jauh di sana, juga tak ada. Ketika pandangannya beradu dengan seorang pria yang mencoba tersenyum padanya, Lia jadi marah sendiri. Batinnya mengatakan, pria itulah yang mengambil buah tangannya.
Di dalam hati ia mengumpat sendiri. Kalau suka sama bolunya, bilang... jangan pakai mencuri. Atau, makan sedikit saja. Ia semakin geram.  Rasa bencinya pun semakin tinggi karena pria yang diduganya mengambil bungkusannya itu berada di kursi seberangnya.

Saking geramnya, Lia memeluk semua yang dijinjingnya. Bahkan barang yang dimasukkan ke bagasi atas tempat duduknya, terus diperhatikannya. Takut, kalau-kalau si pria tadi juga mengambilnya.

Yang di pikirannya, bagaimana harus mengutarakan pada kerabatnya tentang bolu tersebut. Soalnya, ketika hendak membayar tadi, Lia masih sempat mengirim foto melalui WA dan dibalas dari sana dengan kegirangan.

Tatkala pilot mengatakan penerbangan hampir sampai ke Bandara Soekarno - Hatta Cengkareng, Tengerang, Banten, Lia semakin merasa tak enak. Apalah yang harus diutarakan pada kerabatnya tentang bolu dimaksud.

Dalam hitungan menit tersebut Lia berdoa. Ia minta padaNya agar kerabat yang hendak didatangi menerima alasan yang dikemukakan nantinya. Tetapi, batinnya berbicara sendiri, kalau mengatakan bungkusan hilang, sepertinya tak masuk akal.

Lia menyusun skenario sendiri bahwa bungkusan tertinggal di lobi bandara. Tetapi, ah... kalau di lobi kan langsung dibroadcast bahwa ada bungkusan tertinggal.

Ia jadi semakin pusing memikirkan ucapan apa yang tertepat. Kalau mengatakan tertinggal di toko, kan gak mungkin karena ingatannya memastikan berangkat dari toko ke bandara, masih dipegang.

Sekarang pramugari mendatangi penumpang untuk memastikan bahwa sandaran sudah ditutup dan kursi ditegakkan. Lia jadi takut. Saking takutnya, tidak jadi berdoa seperti hasrat semula. Padahal, dari jendela sudah terlihat Selat Sunda yang mengartikan ketinggian pesawat sudah menurun.

Lia menatap geram pada lelaki yang masih juga mencuri pandang padanya. Rasanya, ingin meludah tapi kan kampungan amat kalau membuang air liur di dalam pesawat. Tatkala pesawat mendarat, jantungnya jadi berdebar kencang. Sangat menyakitkan hatinya. Soalnya, terbayang betapa tak enaknya menemui kerabatnya tanpa buah tangan.

Ketika ada aba-aba boleh meninggalkan pesawat, dengan geram Lia menyentuhkan tasnya ke kaki si pria yang sudah divonisnya mencuri bolu khas Medan tersebut. Maling, teriaknya. Tetap di dalam hati.

Dibenturkannya lagi tas jinjingnya ke paha si pria. Tidak ada mimik marah dari wajah itu. Si pria bahkan tersenyum tapi dibalas Lia dengan ekor matanya. Penuh kebencian.

"Kenapa, Dik. Penat ya!"
"Hmm...," balasnya. Pura-pura ramah. Makanmulah bolu itu, makinya dalam hati. Tidak akan jadi daging itu, umpatnya.

"Boleh saya bantu membawa bawaannya, Dik," tawarnya ketika merasakan hentakan bawaan Lia semakin keras memukul langkahnya.

Saking kerasnya, tas jinjing Lia terlepas. Buru-buru si pria mengambil hingga kepala Lia terantuk.

Saat itu terbuka tasnya. Terlompat pula bungkusan bolu dari dalam yang membuat Lia terbengong.

Cepat-cepat diraihnya tangan si pria. Dikeluarkannya bolu tersebut. "Kita berbagi ya, Mas. Bagi dua!"

Tawaran Lia ditolak tapi dipaksanya. "Kenapa diberi ke saya? Kalau tadi saat di Medan, kan bisa dimakan bersama!"

"Ambilah, Mas," suara Lia memelas.

"Meskinya saya yang memberi," ujar si pria. "Enakkah bolunya, Dik?"

"Ya. Pasti enak!"

"Kalau enak, terima kasih. Jika tidak enak, mohon saran dan kritiknya!"

"Maksudnya?"

"Sayalah pengusaha bolu itu!"

Lia tak dapat berkata apa-apa lagi. Belum siap rasa sesal karena menuduh, semakin menyesal sebab tak diberi kesempatan minta maaf karena si pria kadung dijemput dengan mobil mewah.

"Adik mau ke mana. Jika berkenan, boleh saya antar!"

Lia tak menjawab tapi berulang kali menunduk-nunduk sebagai penebus kesalnya. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru