Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 28 September 2026
Cerpen

Penantian Yang Sempurna

* karya Junardi Simbolon, Politeknik Negeri Media kreatif Medan
- Minggu, 11 Desember 2016 16:14 WIB
363 view
Libur t'lah tiba... libur t'lah tiba. Tetapi setiap libur datang dan jalan bareng kawan kerja, aku jadi tersiksa. Mereka berdua, aku sendiri. Apalagi setelah keliling dan letih. Masing-masing mengambil lokasi. Aku ditinggal sendiri.

Padahal, jujur kukatakan, wajahku tidak jelek-jelek amat. Emang tidak ganteng banget sih, tapi masih bisa dibawa ke tengah. Kalau di urutkan ada 10 cewek dengan nilai sempurna sepuluh, aku berada di peringkat dua. Paling rendah nilai delapanlah. Tetapi itu tadi, tak ada cewek. Lebih tepat, belum ada yang nempel.

Aku kadang bingung sendiri. Ada perempuan mendekat, tapi aku tak terpikat. Ada wanita menggoda, aku justru tak selera. Sahabatku sampai mencurigai orientasi seksku. Mereka menuduhku homo, gay.

Kalau sudah begitu, benci kali aku. Kadang mau kutunjukkan saja kepunyaan. Sebagai bukti bahwa aku punya seperti mereka. Saking kesal, kalau di kamar kos dan kedan-kedan mau datang, aku sengaja pakai CD aja.

Sudah begitu kulakukan, tetap saja aku dilesengi. Dibilangnya aku punya kelainan.  "Kalau punya kelainan kenapa? Yang penting aku ada nafsu. Tengok aja nanti siapa yang lebih dulu punya momongan," geramku.

Kuledakkan begitu, mereka justru terbahak-bahak. "Punya anak? Bertelur dulu kau baru tetaskan anak," balas Naga.

Aduh, bertelur. Emang aku ayam, ular atau apalah... tetapi ejekan tersebut membuatku semangat. Aku terus berdoa, minta padaNya disatukan dengan cewek. Perempuan ideal sesuai seleraku.

Ketika khusyu berdoa, nantulangku telepon. Ia mengajak mendaki Gunung Sibayak. Aku menolak. Malaslah hiking... nanti aku jadi obyek ejekan lagi.
"Aku gak ada waktu, Nantulang. Mau ibadah!"

"Ibadah apa? Ibadah pun bisa di puncak gunung. Kecuali Minggu, baru ke gereja!"

"Aku mau berdoa. Doa minta jodoh!"
"Kwkwkwkw... kayak mana punya jodoh kalau tak selera sama wanita," umpatnya dari sana. "Nanti kukenalkan sama bebek, mau!"
"Nantulang kok ngejek?"

"Kwkwkwk... kan mau bertelur," balasnya. "Cepatlah. Kami pun yang bayar!"

Malas-malas aku ikut. Sepanjang jalan aku berdoa, minta hujan serta angin kencang biar rencana batal. Tetapi yang datang justru bulan bintang terang benderang.

Rombongan kami muda-muda semua.  Nantulangku membawa kawannya, mulai Gina, Naomy, Yuliana Nia  hingga Yuni. Di rombongan itu ada Carles Bancin dan Antonius Sitohang. Aku selalu menghindar karena takut jadi obyek. Jomblo ini memang menyiksaku.

Aku sengaja berpencar dan mencari kelompok lain di dekat kawah Gunung Sibayak. Hup, ada kelompok pria yang berapi unggun dan bergitar. Setelah menyiapkan api unggun untuk kelompok kami, aku melangkah.

Tiba-tiba Gina mendatangiku. Ditawarinya aku mi instan. Duhai, jadi malu aku. Kuambil tapi kupegang saja. Berselang beberapa menit, ia datang lagi. Memberi makanan lain dan minta berada di kelompok kami.

Hmm... emang sejak pertama melihatnya, jantungku bergetar kencang. Sorot matanya lembut, senyumnya tipis, gesture tubuhnya menusuk hati. Sekilas seperti ibuku. Suer...

Aku jadi rindu pada perempuan yang melahirkanku itu. Kuhubungi omakku tapi tak nyambung. Kwkwkw, mana ada sinyal dari puncak gunung. Padahal aku mau ceritakan tentang Gina.

Tiba di bawah, aku langsung lapor pada omak tentang Gina. Omakku terbahak-bahak mendengar laporan anaknya, si doli naburju. Omakku mendorongku untuk memacari Gina. Ia minta, nanti saat Tahun Baru, aku bawa si Gina ke bona pasogit.

Pretlah... padahal aku mau nanya tentang cewek kawan sekolahku yang tinggal di Belanda namun awal Bulan Christmas sudah mudik. Kalau sama itu, aku naksir. Tetapi omakku justru memaksaku untuk membawa Gina. Aneh, dengan nama Gina kok suka.

Aku jadi pening. Gimana caranya? Apakah harus sewa cewek dan kutabalkan sebagai Gina? Ginaaaa...

Aku berteriak. Emang ajaib dunia ini. Bersaman itu Gina menelepon. Langsung kubilang, omakku ingin melihatnya. Belum sampai Natal, minggu ini juga aku membawa Gina. (l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru