Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 28 September 2026
Curhat

De Amicitia

* Christian De Young, Bikap St Francisco Pematangsiantar
- Minggu, 15 Januari 2017 18:22 WIB
466 view
Makna Amicitia kuketahui ketika aku ingin melepas usia remaja. Menurut Kitab Hukum Kanonik, Kanon 656 Kodeks 1983, orang yang dikategorikan sah harus genap 18 tahun. Sesuai Kanon 1083, saat ini aku sudah lebih dua tahun untuk dikatakan dewasa.

Maksudnya, pria belum 16 tahun dan wanita belum genap 14 tahun, tak boleh menikah secara sah. Ditarik ke aku, berarti aku sudah mulai boleh menikmati rasa yang ada dalam hati. Beranjak dari isi kitab tersebut, sudah saatnya aku menikmati hati yang mencinta. Ya, mencinta adalah menembus masuk ke dalam diri yang dicinta. Seperti kata pepatah, eius dulcis praesenti - keberadaan orang yang dicinta begitu manis namun yang lebih manis adalah kehadirannya.

Sama seperti aku dan Bintang. Entah mengapa, selama ini aku sangat sulit mencintai. Bagiku, cinta itu adalah bila masing-masing pribadi secara bebas dan penuh menyingkapkan kepada yang lain apa yang menyebabkan situasi yang sama sekali baru. Pandangan tersebut adalah pandangan filosof. Padahal aku tidak seorang filsuf, hanya seorang teolog.

Tentang aku dan Bintang, sama-sama memiliki rasa. Itu sebabnya, tidurku selalu terjaga. Begitu terbangun, yang ada dalam pikiranku adalah Bintang. Aku yakin dengan Bintang, juga menyimpan rasa tersebut.

Aku ingin sekali Bintang membuka pintu cintanya. Kuyakin, bila ia tahu ada rasa itu, aku akan tidur dalam cinta. Tetapi, hingga kini, aku terus menanti. Kepalaku sampai basah terkena embun malam, rambutku... dan aku terus mengetuk pintu harapan hingga kaku.

Aku pernah memberanikan diri mengetuk hatinya. Bahkan, aku sampai memasukkan tanganku ke celah pintu batinnya, tapi belum juga terwujud. Aku mengimpikan Bintang bersedia melewati malam dan menemaniku.

Tetapi, hasratku belum sampai. Bintang tetap bertatapan dengan malam yang gelap, yang sama sekali tak kelihatan bila hujan turun. Apalagi disertai petir, maka Bintang akan lenyap. Aku pun menjadi terseok tanpa pernah dapat meraihnya.

Suatu kali aku tahu persis bahwa Bintang ke luar menembus malam mencari harapan hatinya, mencari siapa yang pernah mengetuk pintu hatinya tapi sia-sia. Hanya pelita cinta yang menjadi pemandu untuk mencari sang aku dalam gelapnya malam yang mencekam: de amicitia! (l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru