Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 28 September 2026
Cerpen

Surat Untuk Orangtuaku

* Karya Mar’i Mahmud, SMAN 2 Rantau Selatan, Rantauprapat
- Minggu, 22 Januari 2017 20:30 WIB
436 view
Mak, kutulis surat ini bukan karena aku tidak punya pulsa untuk meng-SMS atau menelepon. Aku cuma ingin berkomunikasi tanpa emosi. Maksudku, kalau ngomong sama mamak, kadang lupa mengontrol hingga nada suara menjadi keras. Kadang, karena baper aku tiba-tiba bisa berontak dengan kata-kata menusuk. Ntar mamak tuduh pula aku anak durhaka.

Mamak kan gak mau kalau kisahku dijadikan sinetron Malin Kundang Pulang Kandang, kan? Pokoknya, aku ingin mamak paham betapa aku kini hidup seperti terdampar di pulau tak berpenghuni dengan lingkungan asing. Ngeri kurasa...

Mak, aku sehat-sehat aja. Kuharap mamak juga begitu di kampung. Yang belum sehat adalah pikiranku. Pikiranku tentang sosok ayah. Mamak ingat seminggu sebelum aku pergi dari rumah. Mamak meralat semua cerita yang mamak sampaikan selama ini. Mamak memastikan ayah masih hidup tapi tak mau bertemu dengan anak-anaknya karena malu sebab selama ini sudah mengelak dari tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.

Sebelumnya, mamak bilang ayah sudah menghadapNya. Ketika kami desak di mana kuburannya, mamak bilang sudah terkikis abrasi sungai yang kini jadi laut.
Ketika itu, saat mamak menangis menceritakannya, aku juga tak bisa menahan air mata. Tetapi, ketika kuberanikan diri menyampaikan kabar tentang keberadaan ayah, emak mulai lupa tentang apa yang mak sampaikan sebelumnya.

Ketika mak mulai jujur mengatakan ayah masih hidup, aku sebenarnya mulai bahagia karena kurasa tabir itu mulai terbuka. Soalnya, aku juga selalu menangis sendiri ketika kawan-kawan memandangku dengan sebelah mata karena aku lahir tanpa ayah yang jelas.

Saat itu, aku memang terguncang. Hidupku seperti tamat. Bahkan aku ikut-ikutan menghakimin ayah sebagai manusia jahat. Tetapi, mamak tahu gak... sebelum mamak berterus terang tentang ayah, aku sudah dapat sebagian info tentang sosok lelaki yang kurindu itu dari pihak lain. Cerita yang kudapat dari orang-orang, terbalik 180 derajat dari apa yang selama ini mak sampaikan. Dari sana, ayah digambarkan sosok yang baik, sosok yang dibanggakan.

Sudahlah, Mak. Aku tak mau menambah kekacauan pikiranku. Setelah lama aku berpikir sendiri, menangis sendiri bahkan sampai menyalahkan diriku sendiri, aku mau mengubur segala cerita yang mendatangkan air mata. Kupikir, memang lebih baik aku tidak ikut campur dalam cerita kehidupan orangtua yang melahirkan, membimbing dan membina kami.

Aku yakin, sangat yakin bahwa mamak sangat mengasihiku. Tak ada mahkluk di dunia ini yang tidak menyayangi anak yang dilahirkannya. Mamak bahkan perempuan kuat dan hebat. Mamak pahlawanku karena mengasuh sendiri sampai aku remaja. Kupikir, hanya perempuan pilihan saja yang bisa berlakon seperti apa yang mamak lakukan padaku.

Pada posisi ini, aku tetap berdoa dan bermohon padaNya kiranya mamak semakin kuat, semakin memiliki tenaga istimewa dalam memerhatikan, mengurus serta mengantar kami. Tetapi, aku ingin juga berdoa pada ayah agar pada satu titik, tapi entah kapan, dapat bertemu.

Aku yakin. Saat kusebut ayah, pasti mamak membayangkan apa yang seperti kubayangkan. Sejak dulu, sampai sekarang ini, aku tetap menginginkan bertemu dengan ayah. Mungkin, waktu aku kecil, ketika mencari dan berteriak menyebut ayah, mamak marah atau apalah yang mamak lakukan demi menyudahi tangisku. Tetapi, jeritan itulah yang sekarang masih tertanam dan tersimpan rapi di relung batinku.

Mak, aku pun yakin. Jika surat ini sampai akan membuat pikiran mamak semakin melayang entah ke mana. Mungkin mengenang masa manis yang pernah mamak jalani bersama ayah atau sebaliknya. Pada posisi sebaliknya itulah aku ingin agar mamak tidak menyimpan dendam. Buanglah amarah itu, Mak. Soalnya, di situlah aku yang menjadi semakin menderita, semakin tertusuk batinku dan semakin deras air mataku mengalir. Kupikir, tangisku sia-sia karena selama ini aku tidak mampu menuntut pada mak.

Mak, melalui ini, aku pun titip cinta pada ayah. Aku yakin, mamak pasti bertemu dan masih akan berjumpa dengannya. Jika nanti bersua, ketika membicarakan aku, cobalah mamak menatap mata ayah. Di sorot matanya itulah, pasti ada aku... aku yang terus menangis serta merintih merindukannya. Saat itu, kuharap mamak ikut bayangkan tersiksanya batinku yang tak pernah bertemu dengan ayah.

Padahal, sampai saat ini aku tetap berdoa kiranya impianku terwujud. Mak, mak tahu, aku pernah marah pada Sang Pencipta karena permohananku tak juga dikabulkanNya. Padahal, aku sudah berdoa belasan tahun. Tetapi, amarah itu ternyata salah. Buktinya, seminggu aku tidak dekat sama mamak, doaku langsung dikabulkanNya. Sekarang aku sudah mau dan kuat bercerita tentang kita, mengenai nasib kita yang selama ini dilalui dengan air mata, menjadi secercah harapan. Harapan itu pasti terwujud jika mak mau melakukannya. Itu saja kuncinya.

Mak, sampai di sini dulu suratku ini. Satu permintaanku, jangan mak simpan dendam itu karena semakin rapi diendapkan di hati mamak maka di situlah hatiku semakin teriris. Aku menyayangi mak sepenuh hati, hanya secuil saja untuk ayah. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru