Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 28 September 2026

Tangkal Hoax di Kalangan Muda dengan Budaya

- Minggu, 29 Januari 2017 17:57 WIB
340 view
Medan (SIB)- Ketua Punguan Pomparan Pu Ni Halibutongan Marpaung Liberty Marpaung mengatakan menangkal hoax dengan pemahaman dan pengamalan budaya. Menurutnya, berita-berita bohong yang berseliweran di jagat maya otomatis terfilter bila netizen memiliki kualitas kepribadian bersumber dari budaya pribadinya. "Bangso Batak memiliki Dalihan Natolu sebagai filosofis atau wawasan sosial-kultural yang menyangkut budaya kehidupan sehari-hari. Bagi orang Batak, Dalihan Natolu menjadi kerangka yang memetakan hubungan-hubungan kekerabatan secara idealis. Bila memahaminya, tak mungkin satu pihak dengan pihak lain, baik dalam individu maupun komunitas yang lebih besar, melakukan 'serangan' di luar budayanya," tegasnya di Sekretariat Pomparan Jalan Pelita I No 42 Kp Durian Medan, Kamis, (26/1).

Ia mengatakan, kelompok dewasa pasti lebih bijaksana menanggapi hoax. Tetapi, anak-anak dan remaja atau kaum muda, lebih rentan atas virus hoax karena usia muda lebih reaktif. "Di titik itulah perlunya pemahaman dan pengamalan budaya," harapnya.

Didampingi sekretaris Anwar Marpaung, pria purnawira pendidik di SMPN 13 Medan itu mengatakan, sejak internet masuk dalam kehidupan bangsa Indonesia, pihaknya sudah memrediksi hal negatif dari perkembangan teknologi digital tersebut. "Memfilternya dengan budaya masing-masing suku karena di dalamnya ada kearifan masing-masing," tegas Liberty Marpaung sambil mengatakan pihak otoritas pun memiki kemampuan menangkal dengan sajian konten yang sehat.

Itulah sebabnya kenapa pihaknya dalam setiap iven kegiatan, nonformal maupun formal, tetap memasukkan unsur adat-istiadat. "Bila sudah paham adat-istiadat, pastilah mengamalkannya. Muaranya, pribadi yang beradat itu tidak akan berani memanipulasi hal-hal positif menjadi negatif, tidak mampu mencaci maki apalagi sampai menfitnah dalam bentuk apapun terhadap siapapun," tegasnya sambil mencontohkan tidak mungkin seorang anak berani berbuat negatif pada orang yang lebih dewasa darinya bila yang bersangkutan mengamalkan adat-istiadat. "Itu sebabnya, adat-istiadat diamalkan berbarengan dengan pemahaman soal ketuhanan!"

Ia menunjuk organisasi yang dipimpinannya. Keluarga besar Marpaung asal Sitio, Tabasamosir dalam tiap pertemuan tetap memadukan hal ketuhanan dan adat-istiadat karena memang satu kesatuan. Alasannya, adat-istiadat mengatur pola kehidupan kekerabatan, ketuhanan mengatur manusia pada hal yang benar dan sebaliknya terkait imannya. "Kalau sejak dini diajarkan adat dan ketuhanan, tak ada hoax itu. Biar saja pihak luar menyerbu dengan hoax karena pasti tidak diterima secara akal orang beradat dan berketuhanan,"  ujar Liberty Marpaung sambil mengatakan orang yang beradat dan berketuhanan pasti memiliki cara berkomunikasi untuk menangkal hoax.

Ia menunjuk Partangiangan Bona Taon 2017 di Wisma Bethesda Medan Pasar III Medan yang diadakan Minggu, (29/1). Kegiatan diisi dengan kebaktian dengan pengkhotbar Biv Lamria Simanungkalit dengan liturgis St DM Br Panjaitan serta doa syafaat St Buha Marpaung. Setelah itu, diadakan acara adat dengan penekanan seluruh anak-anak dan remaja manortor bersama. "Maknanya tak sekadar manortor, tapi memahami untuk memedomani tata-cara berkerabatan. Meski sesama orang muda, naposo itu harus memiliki sopan santun," tutupnya. (r9/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru