Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 28 September 2026

Puisi

- Minggu, 29 Januari 2017 17:58 WIB
334 view
KELINCI

Selalu membuatku tertawa!
Selalu melakukan tingkah yang aneh
Hatiku Senang!
Warna bulumu indah membuatku lebih menyayangimu!
Engkau tak pernah membuatku marah
Jikalau aku menangis engkau mendekati
Agar aku tidak bersedih lagi!
Kelinciku

Lewi Anasta P,
SMP Budi Murni 3 Medan

SALAH

Dosa dan dunia
Gemuruh ombak berbuih putih
Menyatu disuatu daratan hampa
Sentuhan-sentuhan iblis
Menghanyutkan diri
Segenggam dosa
Telah tertanam di dunia

Meisya Simanjuntak,
SMP Budi Murni 3 Medan

SEPEDA ITU

Letih aku menempuh arah tak sampai
Batu telah menjadi pasir
Dedaunan mengeluarkan keringat tak jenuh
Sang raja hari tlah tiba
Panasnya terik menusuk tubuh
Arah tujuan tak tercapai
Tak sengaja ku lihat sebuah sepeda tak ter ayuh
Ku jamah dengan senyuman
Terdiam aku duduk di atas tempat tak terhuni
Ku ayuh sepeda itu
Meninggalkan kenangan sedihku
Udara menghapus kelelahanku
Tercapailah arah tujuan yang kunantikan

Suryadi Saragi,
SMA Nasrani 3 Medan

MASA INDAH

Kulangkahkan kakiku
Hampiri kau yang kusayang
Kautatap wajahku dengan kebahagiaan
Aku terbujur malu dengan kebahagiaan
Seakan terbang bagaikan benda ringan
Yang jatuh di atas bunga
Seakan bagaikan bunga yang bermekaran di pagi hari
Tetesan air hujan membasahi tubuhku
Kau peluk erat dengan cintamu
Terasa kaku tak berdaya
Tapi itu hanya kenangan belaka
Kau tlah memilih dia meninggalkanku
Sendiri dengan tetesan air mata
Sayang aku akan tetap selalu mengingat masa indah kita
Karna aku masih sayang padamu

Hermita Situmorang,
SMA Nasrani 3 Medan

ASA

Hitam tiada kelam
Mata tiada berbentuk
Alir membutakan asa
Melawan harap musnah
Ingin sampai buka asa
Ingin pulang hati tak sampai
Kunci bukanlah pilihan
Membawa keujung hari
Hari-hari tiada terkira
Meriuk, membungkuk, mengerang
Sampai pada titik gelisah
Harap musnah menulang

Yohana Imelda Lubis
SMAN 1 Siantar Narumonda

TAK PASTI

Mungkin aku terlalu bodoh untuk mengerti
Mungkin aku tak sengaja menyakiti
Andai aku tau isi hatimu
Andai kesempatan itu kembali lagi kepadaku
Tetapi sekarang itu mustahil
Bahkan menyentuh bayang mu aku tak sanggup
Sekarang aku terpuruk dalam jurang
Sesalkan dan cinta ini jadi sesak
Dalam dadaku

Hatia Loing Siahaan,
SMP Budi Murni-3 Medan

JERITAN TENGAH MALAM

Bunyimu aku kesal
Kau mungil
Wujud mu digandrungi
Tiap jeritan mu jadi musuh
Saat terbawa mimpi kau menjerit
Buluku meninggi

Nova Simbolon
SMAN 1 Siantar Narumonda

TAK BERARTI

Tidakkah kau lihat
Seribu merpati yang tulus membencimu
Tidakkah kau merasa
Ratusan semut ingin menggigit kakimu
Tidakkah kau dengar
Puluhan serigala ingin mencabik bagianmu yang tak bertulang
Tidakkah kau cium
Satu bunga mawar yang wangi berubah menjadi berbau busuk
Tidakkah kau menyadari itu semua
Mengapa semua insan menganggapmu tak berarti
Bahkan meraka tak ingin mendengar juga melihat
Tulisan seputih salju
Bunga mawar sepuih kapas
Gemuruh seakan memecahkan telinga
Mereka tak ingin menyentuh sutra yang tertanam di benda bulat berwarna coklat
Mereka seakan ingin mengeluarkan cairan dari lubang kecil yang sudah dibentuk
Mereka seakan ingin membuat pecahan logam
Dan membuangnya ketumpukan jerami yang berbentuk gunung

Rismauli Manurung,
SMAN 1 Siantgar Narumonda
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru