Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 28 September 2026
C u r h a t

Maafku Ikhlas Untukmu

* Merry Andriani Ginting, SMA Van Duynhoven - Saribudolok
- Minggu, 05 Februari 2017 19:03 WIB
358 view
Tak ada kabar yang memuaskan lagi darinya. Hari pertama, masih membalas komenku di akun pribadiku. Minggu pertama, masih rutin tapi kuantitasnya berkurang. Bulan pertama, masih sama. Memasuki hari pertama di bulan kedua, sudah tidak lagi mengomentari komenku. Di bulan kedua tersebut, kadang ada nongol di dunia maya tapi selalu tiarap.

Kupikir, dia sibuk. Biasalah. Ini kan hari-hari rawan baginya karena punya agenda yang padat. Mulai dari mengerjakan tugas kampus hingga, katanya... ingin mencari kerjaan.

Merantau memang butuh kekuatan, fisik dan psikis. Aku saja sampai tak dapat membayangkan betapa orang spesialku itu sekarang seperti apa! Pagi-pagi harus bangun untuk persiapan kuliah. Pulang kuliah harus ngojek. Alasannya untuk menempa mental. Biar cepat mandiri.

Menurutnya, orangtuanya rutin mengirim biaya tapi ia ingin mengurangi ketergantungan. Aku bangga sekali dengan prinsipnya. Itulah yang membuatkan tak pernah berhenti berdoa agar Yang Maha Kuasa memberi kelimpahan mahasempurna padanya.

Tetapi, karena tak ada kabar yang seperti kuinginkan, aku jadi khawatir. Banyak sekali keraguanku dan semua bertumpu pada kekhawatiranku pada fisiknya.
Soalnya, aku terlalu berharap agar hubungan spesial tak semata hanya sampai begini-begini saja. Tuhan, masihkah Kaulindungi ia di sana kan! Aku yakin itu.

Karena tak pernah ada kabar di akun medsosnya, aku jadi semakin terpaku dengan dunia maya. Tanpa sadar, aku melihat fotonya bersama sekumpulannya.

Jantungku sampai tak tahan menampung getaran. Si diaku hadir di foto itu dengan rekan-rekannya. Kuhitung-hitung, jumlahnya genap. Artinya, satu orang punya pasangan seorang yang lain. Apakah ia juga sudah punya pasangan lain?

Buru-buru aku menghubunginya. Memburunya dengan pertanyaan curita tapi ia membantah. Yang terakhir, aku ingin kejelasan, kenapa membuka akun baru tanpa memberitahuku? Ia tergagap dan tak bisa menjawab sama sekali.

Aku menangis sejadi-jadinya. Ia minta maaf. Aku langsung memaafkan karena orang minta maaf harus diberi. Sang Pencipta saja memaafkan umatNya yang berdosa. Apalagi aku... manusia lemah ciptaanNya. Tetapi, yang memberatkan, soal akun barunya.

Itu yang membuatku menangis  dan menangis lagi... Sampai titis air mata terakhir, aku masih tak habis pikir, kenapa ia mencurangiku dengan cara yang tidak masuk dalam pikiranku. Meski begitu, aku tetap berdoa dan minta agar ia diberi kesuksesan dan tidak melakukan hal serupa pada orang lain.

Cukup aku yang disakiti. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru