Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 28 September 2026
Cerpen

Sang Masa Lalu

* Karya Rizky Wati Situmorang, SMA Negeri 4 Pematangsiantar
- Minggu, 12 Februari 2017 18:46 WIB
762 view
Risau tak tertahankan saat mendapati binar matanya. Kilau matanya merusuhkan hati yang telah lama berusaha meninggalkan berjuta kisah dengannya. Masih ada cinta tergores di biji matanya, begitupun denganku. Maksud hatinya terpampang di setiap jejak matanya. Namun tulah ini mengikatku.

Aku mencintainya, tapi juga orang lain. Hati kecil ini terlalu sempit untuk mampu menampung keberadaan dua manusia yang selalu hadir di lintas hidup hampa.
Kedua kaki melangkah berat di lorong kelas. Kali pertama di tahun ajaran baru, aku akan berjumpa kembali dengan para siswa lainnya. Namun gelisah di hatiku tak kunjung reda. Terlalu banyak kekhawatiran muncul di sana. Betapa lelahnya otakku berkelana memikirkan apa yang akan terjadi bila bertemu dengan kedua orang itu. Namun keadaan ini tetaplah kenyataan yang harus dihadapi.

Satu persatu ujung kaki memasuki ruangan kelas. Mata mulai liar mencari sepasang mata yang cukup membuat diriku tertimpa rindu selama cuti sekolah beberapa waktu lalu. Tanpa persetujuanku dia mencuri tatapanku. Memang cukup mengejutkan, namun kembali perasaan tak layak dan tidak tenang hinggap.

Serasa sinar matanya semakin berpendar. Tak kuat diri menerima tembakan matanya. Mencari sesuatu di luar bukan merupakan hal yang buruk. Segera kulayangkan pandanganku ke luar untuk melihat apakah si malaikat ada di luar sana. Ternyata tidak ada. Tetaplah kuambil langkah seribu berharap aku akan mendapatkan ketenangan di luar sana.

"Winda!" panggil seseorang dari sisi kelas. Dia Heri. Dia terbilang sebagai sahabatku. Kami saling mengenal lewat berbagai perbincangan panjang di pesan singkat media sosial.
"Ada apa Heri?"
"Kau benar putus dengan sahabatku?"
"Iya, benar. Aku sebenarnya tak ingin mengingat ini kembali. Biarkan aku tak membahas ini!"
"Baiklah. Bila kau perlu teman untuk curhat, aku akan ada untukmu."
"Terima kasih! Aku akan menghubungimu."

Heri pergi dengan perlahan. Aku tertunduk dalam hening di depan kelas hingga punggung Heri tak nampak lagi di penglihatanku. Malaikatku tak kunjung hadir. Kelasnya di depan kelasku. Padahal ku harap senyum simpulnya dapat sekedar menghilangkan luka perpisahan di tubuh lunglai ini.

Aku yakin betul saat aku merajut kasih dengan masa laluku, aku sedang mencintai sosok malaikat. Sebenarnya malaikat itu terus menciptakan kisah di dalam kepalaku. Tak ku pahami mengapa aku mampu mencintai sang masa lalu dan sang malaikat secara bersamaan dan dalam kadar yang seimbang. Dan aku tak mempunyai alasan kuat mengapa aku menerima sang masa lalu dahulu. Maka aku tak memilih untuk bertahan dengan siapapun. Mungkin kebimbangan merupakan sebab diriku meninggalkan semuanya dan pergi menghilang dari mimpi sang masa lalu.

Sang malaikat beberapa hari ini sering menampakkan wajahnya. Aku dapat melihatnya dengan jelas melalui jendela kelas yang terbuat dari kaca. Wajah rupawannya dan sikap tenangnya membuat diriku terpana selalu. Aku kadang khawatir ini hanya perasaan semu. Sebab kuyakini masa laluku tak pernah lelah menghantuiku dan selalu menunjukkan cintanya.

Kini giliran sang masa lalu yang bermain. Memang jarak kami tak cukup jauh untuk dapat saling menggapai. Namun perasaan risau ini yang membuatnya terasa jauh. Aku merasa aku hanya ingin menjadi sahabatnya seperti yang kami lakukan dulu. Namun terasa sekali dia menginginkan hal yang lebih. Sang masa lalu mulai mendekat dan memulai perbincangan.

"Winda!," suara anak manusia kembali memanggil. Kali ini dengan lembut namun penuh ketegasan.

"Ada apa?"
"Aku akan tetap mencintai dan menunggu walaupun kau nampaknya tak melakukan yang kulakukan. Cintaku tulus adanya kepadamu!"

"Apa yang kau katakan? Kenapa kau segitu berjuangnya untuk kembali menduduki hatiku? Aku tak layak untukmu. Masih banyak yang menginginimu. Untuk apa kau menungguku? Padahal aku telah cukup menyakitimu. Lagi pula orangtuaku tak mengingini hubungan ini."

"Aku terlanjur terpental dalam keelokan jiwa yang tak pernah kudapatkan dari siapapun. Termasuk dengan para mantan kekasihku."

"Aku tak mengerti dengan cara pikirmu. Namun aku tak mau berjanji apapun kepadamu. Hanya Tuhan yang tahu dengan cara apa kita dapat bertaut lagi."
"Baiklah. Aku akan bersedia menerima semua tulah indah ini."

Tubuhku kaku selepas kepergiannya dari mejaku. Aku semakin tak tahan dengan semua keadaan yang datang menghempas. Selepas bel pulang sekolah nyaring, akupun memilih mengutarakan semua yang kurasakan kepada Heri. Karena ku yakini hanya dia sahabat yang dapat kupercaya dan mampu membuat perasaanku lebih stabil.

Sang masa lalu dan sang malaikat saling bertarung untuk mendominasi pikiranku. Aku tak dapat menerka siapa nantinya yang akan mampu menjatuhkan hatiku kepadanya namun sebagai orang satu-satunya. Namun aku berusaha tak mau terlalu menyusahkan pikiranku dengan apa yang terjadi sekarang.

Yang kutahu, Tuhan akan mengatur semua pilihan menjadi sebuah putusan yang benar. Yang ku tahu, sang masa lalu mencintaiku . Aku mencintai sang masa lalu. Dan aku juga mencintai sang malaikat. Namun aku tak tahu malaikat juga mencintaiku atau tidak. Dan Heri? Dia mencintaku. Semua di terungkap secara tak sadar di media sosialnya.

Semuanya kembali ke cinta Ilahi yang telah tercuri. (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru