Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 30 Juli 2026
Curhat

Dagang Gorengan untuk Latihan Memandirikan Pribadi

* Mala, Al-Falah - Sukaraja Medan
- Minggu, 09 April 2017 22:03 WIB
615 view
Jika orang lain bisa, aku pun harus bisa! Super sekali ya. Tetapi ini memang tekadku agar bisa menjadi individu yang setara dengan rekan-rekan sesekolah. Mereka datang dari keluarga dengan orangtua yang memiliki penghasilan tetap.

Bila ingin sesuatu, misalnya memenuhi kebutuhan sekolah, langsung memiliki. Andai mau makan enak, contohnya fast food, gampang aja. Tetapi, tidak denganku karena orangtuaku beda seperti ayah-bunda mereka.

Ayahku punya pendapatan yang dicari pagi dihabiskan malamnya. Bundaku sih ikut membantu. Kebetulan ia jago masak. Apalagi untuk jajanan warga, ia jagonya. Mulai bikin gorengan dengan hal yang lebih njelimet seperti kue-kue tradisional.

Sepulang kerja, bundaku membuat camilan tersebut untuk didagangkan pada orang-orang di lingkungan kerjanya. Aku selalu terlibat. Mulai dari ikut membeli bahan baku hingga mengadon sampai menggoreng. Atau, kalau membuat bubur, aku ikut campur dengan menuangkan bubur ke wadah-wadah dengan volume 400 ml.

Lama-lama otakku pun ikut berputar. Kan tidak ada salahnya berdagang gorengan di lingkungan kawan-kawan. Tetapi, ah... ntar rekan-rekan di sekolah pada kepo. Masih mending sekadar usil. Jika jadi bahan olok-olok, repot juga lho.

Aku memberanikan diri melakukan seperti apa yang dilakukan bundaku. Tetapi berdagang di lingkungan rumah bersama orangtuaku. Hasil yang terkumpulkan, kualihkan untuk dagang pulsa.

Kalau pulsa smartphone, rata-rata sahabat di lingkungan rumah dan dalam sekolah, butuh. Kumulai melakukan hal tersebut.

Tak disangka, titik cerah ada. Kawan-kawan muda tahu kalau aku berdagang pulsa. Kabar tersebut cepat menyebar. Aku merasa kekurangan modal untuk deposit.
Kendala kuhadapi karena pembeli mulai ngebon. Soalnya, kalau mau beli pulsa tidak langsung bertemu tapi boleh melalui SMS atau menelepon. Ada pula yang usil. Menggodaiku. Mulai yang serius naksir hingga yang macam-macam. Aku tidak mengacuhkan. Kuanggap saja mereka memang mengagumiku.
Kuikuti aja iramanya karena semua kujadikan pelajaran memandirikan diri sendiri. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru