Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026
Cerpen

Siraman Genangan untuk Kenangan

* Karya: Hotmarulitua Siagian - SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 21 Mei 2017 19:29 WIB
717 view
Ketika diam mengajarkan kecewa, maka pergi mengajarkan kehilangan. Merasa tak sanggup berdiam diri di dekatnya, aku memutuskan untuk pergi melangkahkan kaki ini. Aku benar-benar memohon kepada kedua kaki ini untuk tidak berbalik arah.

Pagi ini, angin datang menyambar keras wajahku. Meski sejuk tapi kesadaran akannya membuatku harus rela tak dapat bersamanya lagi. Yang kumaksud adalah Vamay. Kami sudah berteman sejak kanak-kanak hingga di bangku SMA kelas 2. Karena orangtuanya pindah, kami harus berpisah.

Menjelang hari H, aku sengaja menjauh darinya. Vamay mungkin berniat baik, permisi terbuka tapi bagiku sangat menyakitkan. Ketika tahu ia akan pergi, aku mengunjunginya untuk melihatnya terakhir kali.

Aku sengaja memakai busana termasuk jaket hadiah HUT ke-17. Tetapi pertemuan itu tidak berkesan sama sekali karena diisi dengan pertengkaran. Aku ingin Vamay tetap bersamaku tapi tak bisa karena ia takut pada orangtuanya. Kupikir, sangat mudah baginya untuk tetap tinggal di sini untuk menimba ilmu tapi menurutnya tak bisa.

Aku terbeban. Pikirannya terus tak beranjak darinya. Tubuhku jadi lunglai. Ingin istirahat tapi pikiranku melayang. Ketika terjaga, kulihat jam dinding pukul 14.00 WIB. Kutancap gas sepeda motor ke rumah Vamay.

"Vamay sudah berangkat duluan!" ujar Om Sam, ayahnya Vamay, menyambutku. Senyumnya emang lebar tapi menikam jantungku.

Aku langsung pulang tanpa pamitan.
***
Hari pertama di sekolah tanpa Vamay. Sangat berat buatku, tapi aku berusaha tegar. Semua hal terkait Vamay sangat menggangguku.

Di kantin aku sengaja memesan makanan yang biasa kami konsumsi. Semua terasa hambar. Kupukul mangkok baksoku hingga isinya berlompatan. Semua seperti buah busuk di lidahku. Kumuntahkan.

Sekonyong-konyong datang seorang cewek. Ia mengenalkan sebagal Bella. Aku benci, tapi kusambut saja tangannya sambil mengatakan 'Andreas'.
Kututup hari-hariku dengan gontai. Ketika pagi hendak berangkat mama mengatakan Vamay tadi malam menelepon ke nomor nyokap, aku jadi deg-degan. Apakah aku harus senang atau sedih karena telepon itu. Soalnya, kok ke aku langsung.

" Ya udah Ma, bilang aja aku baik-baik aja," jawabku, cuek.

Sepanjang jalan ke arah sekolah, aku menyesali diri. Kenapa tidak bialng ke mama, bahwa nomorku sudah ganti, biar Vamay kelimpungan seperti aku.
Di sekolah ketemu Bella. Ia makin manis dengan hijab. Lama-kelamaan jadi enak berkomunikasi dengan Vamay. Apalagi Bella menjadi teman segrupku belajar. Aku ingin menjadi terbaik agar bisa masuk PTN favorit, mengungguli Vamay.

Obsesiku tercapai. Aku lulus melalui jalur undangan. Kupikir, Vamay pasti tahu keberhasilanku. Sekarang aku berharap ia menelepon dan mengucapkan selamat.

Bella memilih jurusan yang sama denganku. Katanya ingin sama-sama seperti saat SMA. Aku harus menyemangatinya. Ketika namanya tertera, kami berdua melompat-lompat riang. Aku melihat senyum yang sangat indah di wajah Bella. Padahal saat pengumuman itu, ia menangis. Terharu. " Makasih ya, Ndre, kalau nggak karena kamu aku mungkin gak lolos."
"Ah, yang benar ajalah kau!"
***
Aku dan Bella jadi semakin kompak. Apalagi tiap hari pergi dan pulang ke kampus sama. Saat merayakan yudisium fakultas, aku terperangah pada seorang gadis. Itu pasti Vamay, batinku. Soalnya ia memakai jaket kesayanganku.

Aku langsung memeluknya, meskipun Vamay belum melihatku. Sangking girangnya, air mataku menitik. Hatiku seperti tersiram embun.
Vamay pun menitik air mata. Setelah sama-sama diam, aku baru sadar Bella menatapku dalam-salam. Menutup kekhawatiranku, cepat-cepat aku mengenalkan Bella pada Vamay.

Aku bersyukur, kenangan semasa SMA terulang lagi. Sekarang aku justru punya dua teman dekat wanita. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru