Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026

Anak Jalanan yang Mengambil Hikmah di Libur Lebaran

- Minggu, 02 Juli 2017 22:05 WIB
412 view
Medan (SIB)- Libur Lebaran 2017 dimaksimalkan anak jalanan di Medan dengan kerja sosial.  "Kami cuma ingin membangun solidaritas sesama anak kos, yang tidak mudik tapi harus berbuat untuk memberi dan mengambil hikmah sebagai anak bangsa," ujar Ceperianus Gea saat memasang spanduk di persimpangan Kampung Lalang, dini hari dalam Ramadan 1438 H.

Bersama komunitasnya- seperti Genesa Rumapea, Michael Laksamana Sinaga, Adrianus B Sianipar, Rico Padang dan Gabrial Sinaga-Ceperianus Gea menempelkan spanduk sesuai permintaan pemesan. Isi spanduk harus benar-benar steril dari hal-hal negatif. "Kami kan kerja sosial, volunter... jadi apa yang kami lakukan harus bermanfaat positif. Tidak sebaliknya," tambah Genesa Rumapea.

Pekerjaan tidak dilakukan siang hari untuk menghindari lalu-lintas yang padat karena kemungkinan besar mengganggu pengguna jalan. Karena pekerjaan itu pula waktu tidur tersita tapi justru memberi kekayaan batin. Tetapi, bila ada kegiatan sosial lain yang menuntut dilakukan siang hari, tetap dikerjakan.

Pengalaman lain, saat memasang spanduk, berhadapan dengan pemuda setempat yang tendensinya memanfaatkan situasi dengan alasan keamanan spanduk. "Jika sekadar untuk uang rokok dan cara mintanya mengena di hati, dikasih. Tetapi, bila dengan melotot dan bernada koersif, pasti kami 'beli',"  cerita Ceperianus.
Bersikap seperti itu karena ia tahu peraturan dan pengertian dalam pergaulan di jalanan. "Pemerintah kan lagi gencar memberangus pungli dengan Saber Pungli. Kami harus dukung," tegasnya. Konsekuensi sikapnya itu kadang menyakitkan, misalnya spanduk yang dipasang malam hari, keesokannya sudah tidak ada di tempat atau robek.

Jika sudah demikian, anggota komunitas mencari tahu siapa pelakunya. Bukan untuk adu otot tapi sekadar ingin berteman lebih dekat. "Mungkin karena belum dekat hingga spanduk yang dipasang divandal."

***
Komunitas yang dianggotai nama-nama tersebut di atas bukan seperti anak jalanan sesungguhnya. Ceperianus Gea, misalnya. Ia seorang intelektual muda. Kos-kosannya di bilangan Harmonika Padangbulan Medan kerap menjadi sekretariat tak resmi kumpulan mahasiswa untuk membahas persoalan bangsa. "Kami analisis sendiri, kami cari jalan ke luar sendiri sesuai pola pikir generasi muda," tambahnya.

Genesis lahir di Tetehosi Owaena, Gido, Gunungsitoli pada 9 September 1996. Putra padangan Otoli Gea-Hileria Br Sitanggang itu menimba ilmu SD Marihatraja, berlanjut ke SMPN 4 Dolokpanribuan hingga di SMAN1 Panribuan. Berprestasi di sekolah, masuk ke FH-USU melalui jalur undangan.

Tak jauh beda dengan latar belakang rekan komunitasnya. "Kunci kebersamaan kami, berbuat sekecil apapun dalam hal positif adalah keharusan!" tutup Genesa Rumapea. (R10/d)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru