Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026

Langit Mendung di waktu Senja

* karya Muhammad Fria Fachrama Sumitro, SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 02 Juli 2017 22:09 WIB
542 view
Aku menatap purnama tapi ia diam seperti tak bernyawa. Sama seperti ketika kau paksa aku untuk mengurungkan niat mencintaimu karena keegoanmu. Kemudian, aku mengalihkannya ke bentuk surat, yang ditujukan kepada entah barantah.

Kepada dia yang berada di negeri tak bertuan, sampaikan salamku kepada pangeran yang senang berfoto itu. Nyatakan bahwa aku ingin jatuh pada pelukannya, tulisku.

Tangan secara spontan merangkai kumpulan huruf tersebut. Sedikit janggal, namun aku menyukainya. Mulut berkata, namun tak bersuara.
Bencinya aku. Terjadi sebuah adegan sinetron di mana kau menghampiri diriku. Jantungku berdegup kencang tapi kau pukul hatiku dengan godam sambil memerhatikan foto selfie itu.

"Maaf, ya, karena memotretmu tanpa izin," katamu dan memaksaku menerima foto.

Kau langsung pergi. Hanya lambaian tangan sebagai representasi ucapan-ucapan ku. Serasa lidah ini kehilangan kata-kata. Tapi, hati sedang berteriak ria karena saking senangnya.

14 Desember 1996. Aku mencoba lagi 'tuk menemuimu. Dan ternyata kau ada di sana, di tempat yang sama. 'Apakah ini yang dinamakan takdir ?' batinku. Muncul banyak ide di sana-sini setelah melihat diri mu. Aku pun mencoba untuk melanjutkan surat. "Sejak kala pertama kumelihatmu, hati memberitahuku bahwa ia rela memberikan dirinya untukmu."

"Apa kau suka dengan pemandangan di taman ini ?" tanyamu untuk pertama kalinya.

Kau tak membalas pernyataanku lewat kata-kata, tapi lewat senyuman itu saja sudah begitu jelas bagiku. Aku tak tahu apa yang kau rasakan, karena aku bukanlah cenayang. Aku hanya manusia biasa. Tapi kalau bisa kutebak, diriku tergambar jelas lewat senyuman itu. Hanya saja, kau sepertinya juga takut untuk melampiaskan yang ada di dalam sanubari.

Hari berputar. Tuhan kurasa sangat baik denganku karena setiap kali datang ke taman tempat kita pertama kali bertemu, kau pun hadir.

"Selama aku mendatangi taman ini, tak pernah kujumpai wanita semenarik dirimu. Aku tak perlu berbohong, ini seperti cinta pada pandangan pertama," katamu.
Aku menjadi ciut. Harapan yang tadi mengecil menjadi menghilang. Ada perasaan menyesal karena selama ini telah mencintai mu. Aku berkata, "Aku mungkin akan terluka jika tidak mencintaimu, tapi aku akan lebih terluka jika aku tak dapat menemui mu lagi. Kalau begitu, aku akan menghilangkan semua perasaan yang ada agar aku tetap bisa bersamamu."

Kau lagi-lagi diam tapi senyummu sudah begitu membahagiakanku.

Kedua mata ini sedang memandangi seseorang yang pernah ku kasihi dan bersama untuk sesaat. Dan kau benar-benar memberikan tatapan yang sangat dalam kepadaku. Kupeluk kau erat-erat agar kau tak akan pergi. Tiba-tiba, cahaya muncul dari tubuhmu. Kulihat, ujung jarimu mulai memudar. Aku tak dapat lagi merasakan jemarimu yang halus.

Dalam tangisan, aku lalu teringat dengan surat yang ku hadiahkan kepadanya. "Tak bisakah kau membaca barang sekata dalam surat yang telahku buat untukmu?" pintaku.

"Simpanlah itu. Suatu saat nanti, kamu pasti akan dijumpai seseorang yang benar-benar dapat mencintaimu."

Semakin kupeluk dengan erat, semakin tak dapat kurasakan tubuh hangatmu. Kau semakin menghilang. Kau berkata dan tersenyum lebar, "Terima kasih karena telah memberikan hati mu dan jatuh ke pelukanku."

"Kau 'kan terus menjadi pangeran di dalam hati ku ini," kata ku.

Tangis kupecah. Kau menghilang dan pergi untuk selamanya. Awan-awan itu tak sanggup lagi menahan air. Hujan pun turun dan langit seolah-olah ikut menangis.
Batin masih belum sudi akan kepergianmu. Sedikit ada penyesalan saat menyusun surat itu. Kenapa kau harus melakukan itu? Kenapa tidak kemarin? Minggu lalu? Atau bulan lalu? Kenapa harus sekarang ketika cinta sudah terajut dengan rapi?

Tetap dalam kesedihan, aku mencoba merelakannya. Mungkin suatu saat, aku akan menemui orang lain dan menghadiahkan surat ini untuk dia yang datang itu. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru