Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026
C u r h a t

Aku Masih Menunggu Waktu

* Adi S Purba - Perbaungan, Serdangbedagei
- Minggu, 09 Juli 2017 19:05 WIB
475 view
Aku Masih Menunggu Waktu

Aku berteriak-teriak menyebut namanya, ketika gerbong kereta api baru dibuka. Penumpang terlalu banyak hingga harus berebutan. Ketika kuulurkan tangan untuk menyambut, ia minta padaku untuk pergi mencari tempat duduk. Begitu sampai, kami duduk bersebelahan.

Tidak disangka. Meskipun selalu chating di medsos tapi bertemu dengan sahabat lama dalam satu perjalanan yang tak direncanakan memberi kebahagiaan.

Aku larut pada masa dulu, tujuh tahun lalu. Ketika sama-sama berjuang mengisi sejengkal kampung tengah. Kami cerita ke sana ke mari. Bertanya kabar dan bertukar pengalaman.

Aku cerita ingin melanjutkan studi. Kupikir, gelar yang kuperoleh saat ini belum cukup untuk menempa hidup ke depan. Ia menyarankan padaku untuk mencari info beasiswa pascasarjana ke luar negeri.

Sahabatku itu tahu kalau aku konsentrasi pada agribisnis. Disarankannya padaku untuk menimba ilmu di Thailand atau Jepang yang dikategorikan lebih maju ketimbang negara lain se kawasan Asia.

Kami masih cerita soal sahabat-sahabat yang lain, yang dulu satu kawah candra dimuka. Ada yang sudah berumah tangga. Kini, giliran aku yang ditanyai soal rencana kehidupan.

Jujur, aku masih fokus sekolah. Mengenai pacar, apalagi sampai calon istri, sama sekali belum terpikirkan. Soalnya, aku merasa belum terlalu tua, apalagi sebagai pria.

Kawanku terdiam. Kulihat ia menghitung-hitung dengan jarinya. Aku terpukul karena kupikir yang dikalikannya adalah usiaku. Kan, benar... kawanku bilang bahwa aku sudah terlalu matang untuk berumah tangga.

Aku semakin terpojok karena rekan-rekan yang lebih junior semua sudah menikah. Bahkan sudah punya anak. Kawanku terus menohokku dengan pertanyaan,'
Aduh, aku jadi benci... benci. Meski perjalanan Binjai - Medan hanya 30 menit, kok rasanya seperti 30 hari. Aku mencoba mengelak dari topik menikah sehubungan usiaku tapi tetap saja pertanyaannya memukul hatiku.

Terakhir, aku bilang bahwa langkah dan jodoh sudah diaturNya. Penegasanku itu semakin memojokku karena cara pemikiran itu sama seperti orangtua kolok! (l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru