Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026

P u i s i

- Minggu, 09 Juli 2017 19:06 WIB
405 view
LIDAH

Lidahku tak sesempurna tarian nada
Yang mampu dengungkan irama manis
Bukan juga seindah sang pujangga
Yang menari dalam sajak rayuan puitis
Lidahku sama seperti lidahmu
Kadang keru kadang tak sanggup bersua juga
Jika aku bukanlah sang nada atau sang pujangga
Adakah hati untukku kau tetap di sisi
Mampukah kau menjadi madu penghias lidahku
Kadang getir, ter sambar pahitnya dunia
Bisakah kau berikan rasa manismu untukku
Udah ini kian mati rasa
Hapuskan rasa pahit berkecutkan luka ini
Selaksa aroma duka telah lama bersarang
Beri aku rasa manismu
Dan kuberikan nada sempurna buatmu

Merry Andriani br Ginting,
Alumni SMA Van Duynhoven Saribudolok

BUKU CURHAT

Dear diary...
Ketika aku senang kau slalu ada
Ketika aku sedih kau slalu ada
Ketika aku susah kau slalu ada
Kau tempatku mengadu
Kau teman curhat terbaikku
Setiap hari...aku selalu menulismu dengan tinta
Meluangkan sluruh isi hatiku
Aku merasa lega...
Ketika bebanku hilang sekejap
Buatku tersenyum kembali
Buat hari-hariku menjadi lebih indah

Siska Agustina Sirait,
SMA Negeri 1 Siantar Narumonda

RUMAHKU

Atap tempat berlindung ku sebut rumah
Tempat jiwa-jiwa bertahan hidup
Panas terik hingga rintik hujan
Tak mampu mengusik ketentraman
Rumahku...
Tempat aman bersama ayah dan ibu
Tempat aku mengenal banyak hal
Keluarga kecilku dibangun di dalamnya
Rumahmu, surga kecil nan sederhana
Tak semegah istana
Tapi banyak coretan kisah di setiap dindingnya
Sejuta rajutan kisah menjadi warna
Mengukir sejarah, keluarga kecilku pernah ada
Rumahku, tempat yang penting berharga

Merry Gitzu Bre Caroona,
Desa Bunuraya Baru Tigapanah

RANGKAI KEHIDUPAN

Masa demi masa berlalu sudah
Kemana kaki harus melangkah
Liku kehidupan mengukir sejarah
Kini saatnya bersadar diri
Berbenah dari segala keburukan
Meningkatkan semua kebaikan
Saatnya tuk membuka pintu hati
Semua kekilafan
Menjalani kehidupan dengan senyuman
Bersyukur atas pemberian yang telah dibuat
Mengabdi pada apa yang diperbuat

Anggraini R.Lubis,
SMP Budi Murni 3 Medan

KEKASIH

Kau merayuku
Membelai rambutku dengan lembut
Membisikkan kata-kata cinta
Membuatku merasa terbang
Melayang ke angkasa

Zefanya,
SMP BM 1 Medan

PENGAMPUNAN TUHAN

Tak dapat kukira
Dan tak dapat terpungkiri
Telah banyak dosa yang kuperbuat
Didalam hati setiap insan
Telah lelah aku menahan dosa ini
Dosa yang menggoreskan hati
Dan ingin kusandarkan dosa ini sejenak
Agar kudapat pergi dari kelelahanku
Tak mungkin semua
Dapat kuhapuskan
Tak mungkin semua
Dapat kuhilangkan
Keyakinanku membawaku padamu Tuhan
Agar ku dapat memohon ampun darimu
Atas segala perbuatan dan perkataan
Yang salah di hadapanmu

Domsy Sukir Pakpahan,
SMA St Thomas 3 Medan

MENGAPA

Mengapa kau pergi
Pergi kau mengapa
Kau mengapa pergi
Mengapa pergi kau
Kau pergi mengapa
Pergi mengapa kau

Trisna Ginting,
SMA Swasta Pantiharapan Lawedesky

KEHILANGANMU

Sorot matamu
Seakan akan memberiku isyarat
Pandangan yang begiu tajam
Tertuju pada diriku
Kubertanya pada hati
Apa yang akan terjadi?
Apa mungkin akan ada sebuah gelombang kehidupan?
Rasa resah, gundah dan hampa merasuki diriku
Kucoba tuk memadamkan api
Yang menebak dalam diriku
Kucoba tuk memadamkan api dan menghidupkan
Kembali irama yang hilang dalam diriku
Tapi kini kusadar aku telah kehilanganmu

Adelia Kesia Nauli Naibaho,
SMA Nasrani 3 Medan

JIKA

Jika aku salah langkah
Siapa yang akan meluruskan?
Jika aku keliru
Siapa yang akan beri petunjuk?
Jika aku kesasar
Siapa yang akan beritahu?
Jika aku sedih
Siapa yang akan menghibur?
Jika harapanku tak kesampaian
Mesti memulai dari awal lagi

Nova Widyawati Sinaga,
SMA 1 Siantar Narumonda

KAKAK

Hidupku hidupnya?
Tidak, tidak mungkin
Ini hanyalah mimpi, kalian berbohong
Bangunkan aku, tolong...
Tidak Tuhan
Tolong aku, aku ingin bangun
Bangunkan aku dari kenyataan ini Tuhan
Di mana engkau Tuhan
Mengapa, mengapa kau biarkan aku tergeletak seperti ini
Aku belum mati Tuhan
Mereka sudah menjadikanku angin
Dihiraukan dan tak dianggap
Ini Semenjak peri jahat itu datang
Dia menghancurkan rumah kami
Dia mengambil ayahku
Aku hanyalah debu yang tak berarti
Walau sering kali aku membuat pedih matanya
Karena aku ingin dia peka terhadapku
Dan berkata awas ayah, dia bukan bidadari tapi penyihir jahat
Dahulu rumah adalah segalanya bagiku
Tempat aku merangkul ayah dan ibu
Kini Rumah menjadi sarang lebah
Yang setiap saat dapat menyengat mental dan pikiranku
Ayo dik...kita pergi bersama bendera putih ini
Kakak akan menjemput ibu
Nanti...karena ibu serupa dengan ayah
Semuanya telah berakhir dik

Evan Kurnia Sari,
Universitas Sultan Ageng Teritayasa Banten
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru