Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026

Merah Putih Tetap Melekat di Hati

* Frans Sianipar, Lawedesky - Aceh
- Minggu, 13 Agustus 2017 19:05 WIB
519 view
Ini cerita di SD HKBP Lawedesky, Aceh. Setiap memasuki Bulan Merdeka, aktivitas pelajar makin tinggi. Semua berkaitan dengan peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Selain persiapan diri secara pribadi, juga dalam kelompok serta  dalam kelas. Soalnya, ada pertandingan yang dimungkinkan dikuti perorangan, kelompok dan kelas.

Sebagai orang Batak, tentu punya suara yang keras dan dilatih menjadi merdu karena selalu marende di Sekolah Minggu. Masing-masing individu menampilkan kemahiran pribadi. Rasanya, ingin lebih maksimal untuk memenangkan kompetisi.

Yang paling riuh ketika pertandingan antarkelas. Misalnya, kebersihan lokal di sekolah. Seluruh murid berlomba rajin. Selain membersihkan kelas, menghias ruangan dengan kertas warna-warni yang didominai merah-putih.

Saat pertandingan antarsekolah di lapangan, hiruk-pikuk makin membahana. Masing-masing membikin yel-yel. Teriakan yang makin keras, rasanya lebih unggul.
Seusai seluruh pertandingan, kegiatan dipusatkan di lapangan untuk pengibaran Sang Merah Putih. Sebelum ke lapangan, ketika hendak berangkat ke sekolah, masih disibukkan dengan urusan bendera.

Antara lain, mengingatkan pada kawan-kawan agar memasang bendera di depan rumah. Membawa bendera kecil di tangan untuk dikibarkan bila pejabat melintas.
Saat mendengar sirene diikuti iring-iringan mobil, kami menepi dan mengibaskan bendera kecil di tangan. Saking antusiasnya, tak sadar bahwa pijakan kaki di tepi parit terlalu lemah hingga terjerembab.

Aduh, sepatu putih dengan kaus kaki bersih berubah warna. Jadi hitam. Sudah begitu, lengket. Aku tertawa-tawa seperti menaklukkan Gunung Leuser.

Meski demikian, perjalanan tetap dilanjutkan menuju lapangan. Bertemu dengan kawan-kawan yang berbusana adat adalah ritual membahagiakan.

Sampai petang masih berada di lapangan. Apalagi pertunjukan belum usai. Ada penampilan ratusan bahkan ribuan penari Saman. Tarian khas Gayo itu semakin dinamis bila dilakukan secara beramai-ramai.

Sekarang, jauh dari kampung halaman kelahiran. Jauh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merayakan dirgahayu negara dengan melantunkan Indonesia Raya hanya seorangan. Ingin sekali mengulang kebahagiaan masa kanak dulu. (z/t)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru