Malam dingin sepi. Di luar awan tebal dan angin kencang. Hujan turun, kadang deras tapi tiba-tiba hilang. Aku sendirian di tengah gelapnya kamar tidur kakek. Bukannya listrik sedang padam, namun aku hanya ingin menangis di tengah kegelapan.
Tadi siang kakek pergi. Bukan ke rumah cucunya yang lain, tapi menemui Yang Esa di usianya yang memang sebentar lagi mencapai satu abad.
Aku satu-satunya cucu kakek yang sangat dekat dan lekat dengan dirinya sejak aku terlahir di dunia ini. Kakek adalah manusia yang selalu membujukku bila aku menangis mencari mamak dan bapak.
Saking perihnya batinku melolong, rasanya kakek datang. Ia pakai busana serba putih. Aku berpisah dengan kakek setelah terdengar suara ribut di luar kamar.
Ah, sudah pagi. Bahkan menjelang siang. Aku merasa dibangunkan kakek dan diarahkan membuka buku Die Tgebuch. Tulisan tangan yang rapi membuat kesan kusamnya hilang seketika. Bau khas buku lama langsung menyusup ke dalam hidungku.
Aku menatap halaman pertama dan terpampang wajah kakek. Ini jurnal kakek, atau buku harian miliknya.
20 Mei 1998
Aku tidak menyangka anak bungsu yang aku didik dengan penuh kasih sayang tidak suci lagi dibuat bujangan kampung sebelah. Namanya senantiasa di dalam doaku, tapi Tuhan kenapa Tuhan memberikan bencana ini untuk masa depannya?
20 Mei 1999
Sudah kuduga bahwa anak itu berbohong, dia hanya ingin mendapatkan gadisku saja. Aku harap ia bisa membahagiakan anakku di kemudian hari.
20 Mei 2000
Tepat saat fajar memuculkan dirinya, muncul pula anggota baru dalam keluarga kami. Wajahnya sangat mirip dengan bidadariku yang sekarang mungkin sedang tersenyum di atas sana.
20 Mei 2001
Aku seperti mempunyai anak lagi yang lahir dari rahim istriku tercinta. Ia tidak seperti cucuku yang lain. Kami punya kelekatan yang sangat berbeda.
20 Mei 2002
Dalam 19 tahun terakhir, aku belum pernah menangis.
20 Mei 2003
Untuk pertama kalinya malaikat kecilku meniupkan lilin yang tertancap di sebuah kue kecil atas namanya. Wajah bulatnya membuatku tidak perlu meminum kopi pakai gula, ia sungguh manis.
20 Mei 2004
Kakinya terluka, tapi hatinya bahagia seketika. Aku sedikit khawatir ketika darah mengalir dari lututnya saat berlari menghampiriku yang membawakan kue. Awalnya aku kira ia akan menangis, tapi diusianya yang masih belia ia sudah kuat menahan rasa sakit. Aku harap ketika aku pergi ia juga seperti ini, tidak menangis.
20 Mei 2005
Tawanya terus terngiang-ngiang di telingaku saat belajar naik sepeda tadi. Bahkan untuk tidur pun aku sulit, ia sangat mirip dengan istriku. Tahun depan aku akan membelikannya yang lebih agar tawa tadi siang terulang lagi.
20 Mei 2006
Sayang sekali aku hanya bisa memberikan ia hadiah dengan mendaftarkannya ke sekolah dasar. Krisis ekonomi membuat tawa yang aku inginkan musnah.
20 Mei 2007
Sekarang aku bukanlah satu-satunya laki-laki yang akan menggendongnya. Ia mendapat satu lagi, yang mungkin kuat menggendongnya kesana kemari. Bahkan kue ulangtahunnya kali ini bertambah satu.
20 Mei 2009
Bisa-bisanya salah. Ada salah, dimana tahun 2008? Apa kakek tidak menulis sesuatu di tahun itu? Atau mungkin kertasnya terlepas dari buku dan hilang? Tidak mau ambil pusing, aku kembali melanjutkan membaca
20 Mei 2009
Bisa-bisanya saat ia terbaring lemah, keduanya malah tidak menyempatkan untuk melihat sebentar saja. Malaikatku terpaksa tinggal kelas hanya karena tidak mengikuti sekolah selama beberapa bulan saja.
20 Mei 2010
Tangisannya pecah tadi sore. Rambut panjang nan indahnya terbakar, walau hanya sedikit. Padahal tadi itu momen bagus untuk meniup lilin.
20 Mei 2009
Bisa-bisanya saat ia terbaring lemah, keduanya malah tidak menyempatkan untuk melihat sebentar saja. Malaikatku terpaksa tinggal kelas hanya karena tidak mengikuti sekolah selama beberapa bulan saja.
20 Mei 2010
Tangisannya pecah tadi sore. Rambut panjang nan indahnya terbakar, walau hanya sedikit. Padahal tadi itu momen bagus untuk meniup lilin.
20 Mei 2011
Badut spongebob sengaja aku datangkan untuk menghasilkan tawa yang selalu aku rindukan. Ia begitu girang dan sempat mencium pipiku beberapa kali.
20 Mei 2014
Dia sudah bisa menggunakan bahasa isyarat. Di ulang tahunnya kalinya, ia mengatakan bahwa ia sayang padaku. Andai saja kemarin-kemarin aku tidak membangkang, ia tidak perlu belajar bahasa isyarat.
20 Mei 2015
Melihat teman-temannya sudah menggunakan jempolnya untuk mengirim pesan. Aku pun memberikannya hadiah tahun ini sebuah telepon genggam yang uangnya kuambil dari dana pensiunku. Dia begitu sumringah mendapatkan benda itu, tapi aku jauh lebih senang melihatnya. Dia anugerah terindah yang aku miliki.
20 Mei 2016
Ia sudah mengenal lawan jenis. Ia begitu semangat menceritakan sosok lelaki yang ia kagumi di sekolahnya. Aku turut senang mendengarnya, apalagi si lelaki memberikannya kejutan ulang tahun tadi pagi. Walaupun ia tidak sempat meniup lilin pada kue yang kubuatkan, tapi aku tetap senang ia sudah beranjak dari masa kanak-kanaknya. Aku takut tahun depan aku tidak dapat melihatnya meniup lilin lagi dan memberinya kecupan sayang lagi. Aku sangat menyayanginya sebagaimana aku menyayangi diriku.
19 Mei 2017
Besok ia akan semakin dewasa. Semoga saja Tuhan memberiku kesempatan untuk melihatnya meniup lilin serta tawanya yang aku sukai. Mentari ku adalah penghangat hidupku.
***
Ada rasa bangga pada kakek, tapi aku sedih dengan cerita batin kakek. Kututup buku kakek dengan perlahan. Kemarin catatan terakhir kakek dan kemarin pula aku tidak menyempatkan waktuku untuknya.
Aku sibuk dengan duniaku. Aku coba melupakannya kemarin.
Hari ini, 20 Mei 2017 aku mencintai kakek lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Aku sangat menyayangi kakek, semoga engkau tidak sedih melihatku berlinang air mata di sini.
Kakek!