Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026

Berkarya MemuliakanNya untuk Hempang Hoax di Dunia Maya

- Minggu, 15 Oktober 2017 18:14 WIB
834 view
Berkarya MemuliakanNya untuk Hempang Hoax di Dunia Maya
Glandy Tulus Halattu
Medan (SIB)- Dunia maya adalah media yang paling intim dengan anak-anak muda milenial. Tetapi, dalam digitalisme tersebut ada ragam noktah yang hendak memangsa, mulai hoax, hate speech hingga hal yang lebih merusak. Mezbah ingin menghempang hal negatif tersebut bersamaan memuliakanNya. "Mezbah tidak bicara agama, kami bicara kehidupan. Mezbah bukan mencari ketenaran atau kekayaan, kami mencari kedamaian," ujar Glandy Tulus Halattu, penggagas Mezbah di Medan, Jumat, (13/10) didampingi male singer Liberti Marbun, Indah Sihombing, Evi Sembiring, Apriani Laia di female singer, Rizky Nainggolan (rhytm guitar), Dodi Sinaga (melody guitar), Wahyu Ginting, Frans Hia, Bill Fajar, Lois Purba di beatbox, dokumenter Zion Pesolima, Manto Sigalingging dan Ricardo Siallagan (publikasi).

Mezbah adalah kumpulan anak-anak muda berbakat yang menuangkan ide melalui gospel tapi genrenya hip hop dan beatbox. Karya yang dihasilkan, dipublikasikan melalui jejaring sosial. Terakhir kali, pada Minggu, (8/10), video berjudul Maria Magdalena diunggah ke publik.

Seperti kehidupan Maria Magdalena yang dikotori hal-hal duniawi, Mezbah mengetengahkan  hal sekuler untuk dijadikan kontemplasi. "Kehidupan adalah proses tapi jangan sampai menjauh dari ajaranNya. Seperti di Mezbah, personelnya semua bukan orang menjalankan perintah agama, tapi kami ingin menjadi orang yang takut berbuat berseberangan dengan perintah Tuhan," tambah Glen berfilosofi.

Tekad seperti itulah yang dipegang personel Mezbah dan menyebarkan virus positif pada lingkungan anak muda. "Jalur musik, hip hop dan beatbox kan yang paling rekat dengan anak muda. Dengan demikian, Mezbah ingin semakin banyak anak-anak muda bersama kami memuliakanNya melalui keterampilan sesuai talenta yang diberikanNya," tambahnya.

Glen mulai bermusik tahun 2009, yang ditularkan rekan sebangkunya di SMA Immanuel Medan, Febri Aritonang. Saat itu Glen tak suka musik karena fokusnya olahraga beladiri, yang diajarkan papanya.

Ia membentuk Maximus Effeck di tahun 2009 dengan personel awal Bram Sembiring, Erick Panjaitan serta William Firman Sianturi dan Ricardo Sialagan. Kamar pribadinya di Jalan Sei Putih 80 dijadikan studio sekaligus base camp.

Anak pertama dari 3 bersaudara pasangan Godlief Hallatu - Ny Sondang Silalahi, itu mulai ngerap di kampusnya FH UHN. Ia mengembangkan kemampuan di bidang digital dan musik, Glen menemukan software lagu dan rekam hingga bikin lagu. Karya pertamanya diperkenalkan pada Bram tapi masih berwarna duniawi.

Oleh rekannya yang aktivis gereja, syair digubah ke lagu rohani. Lagu pertama yang digubahnya adalah Dihapuskan Dosaku yang diambil dari Kidung Jemaat 26. Selain lagu religius, Glen mengasah jiwa sosial dengan kritik. Seperti lagu Mati Lampu lahir tatkala sedang menulis lagu, tiba-tiba listrik padam.

Lagu-lagu sekuler terus mengalir. Mulai yang bergenre dangdut seperti Mau Bilang Apa hingga lagu patah hati terinspirasi dari rekannya. Tetapi, seiring kematangan bermusik, Glen fokus pada lagu surgawi. Alasannya, semakin banyak generasi penerus terjerumus pada hal duniawi seperti Narkoba. "Mezbah harus berbuat menyelamatkan mereka," tutup Glen yang berprofesi  sebagai auditor di BFI Finance Indonesia. (t/R10/d)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru