Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026

Cerpen Pulang... Aku Ingin Pergi

* karya Iwan Alfian Marpaung - SMA Saurmatua Simalungun
- Minggu, 15 Oktober 2017 18:17 WIB
2.108 view
Cerpen Pulang... Aku Ingin Pergi
Aku ingin pulang. Entah kenapa, tiba-tiba ingin ketemu sama mamak. Padahal baru Senin lalu aku pulang ke kampung.

Mamak sampai heran. Ada apa denganku, kok tiba-tiba ingin pulang tanpa alasan jelas. Namun aku ngotot ingin pulang tapi mamak tetap saja bertanya-tanya. Aku tahu kok, dari nada bicaranya mamak keberatan kalau aku pulang. Sampai mamak mengancam tidak memberi ongkosku untuk kembali ke kost.

"Mamak sampai hati aku nembak naik kereta api?" rajukku.
"Kalau ongkos aja, adalah. Tapi, untuk yang lain, jangan harap!"
"Pokoknya, aku mau pulang!"

Entah tak suka atau low bat, tiba-tiba komunikasi terputus. Aku coba lagi. Di seberang sana, mamak menyahut. Ketika kutanya kenapa diputus, Mamak langsung menerkamku dengan pertanyaan kapan aku pulang.

Aku girang. Cepat-cepat kutarik ranselku. Kujejalkan baju kotorku. Meskinya, hari ini, aku mencucinya. Tapi, lumayanlah... pulang kampung. Nanti setibanya di rumah, mamak pasti mengambil tasku dan mengeluarkan isinya. Satu keinginanku, mamak mencuci bajuku.

Sampai di ujung halaman rumah, aku teriak-teriak. Memanggil mamak, tapi tak ada jawaban. Aneh... pintu rumah terbuka. Biasanya, pasti ada orang. Mamak pasti di kamar.

Namun, tidak ada. Aku semakin keras berteriak memanggil namanya. Yang menyahut adalah kakakku. Ah, si judes ini. Aku takut mulutnya bersuara. Ibarat senapan, mulut kakakku sama seperti DSR-Precision DSR 50 Sniper Rifle yang bisa memuntahkan 100 peluru dalam hitungan tak sampai lima menit.

Meski demikian, aku dekat dengan kakakku. Ia pengertian. Meski suka merepet tapi kalau soal duit, ia tak pelit. Aku pun pura-pura lemas di depannya.

Sama seperti mamak, kakakku pun bertanya kenapa aku pulang begitu cepat. Sebaliknya, aku mencari tahu mamak ke mana. Karena kudesak, ia merepet panjang lebar.

Yang paling tak enak, kakak pun ternyata tak tahu ke mana mamak pergi. Aduh, udahlah aku direpeti tapi jawaban kosong.

Aku pun putar pikiran. Merayu kakakku untuk mencuci baju kotorku. Soalnya, semakin membuang waktu, akan semakin sulit dipastkan kapan bajuku kering. Belum lagi siapa nanti yang menyetrika.

Gak mungkin aku bisa mengerjakan dengan cepat. Soalnya, aku ingin pergi lagi balik ke kos. Lusa ujian.

Setelah capek manganju, kakakku mau mencuci baju dan bila kering, langsung menyetrika. Sambil menemaninya, aku terus mencari tahu mamak di mana.

Tetapi, sungguh kakakku tak tahu. Menurutnya, ketika tadi hendak tidur, ia melihat mamak di kamar. Melipat dan menyusun baju. Namun tak tahu untuk apa baju-baju itu.

Aku jadi takut. Jangan-jangan mamak pergi. Cepat-cepat kuterobos kamar mamak. Yeah... mamak kujumpai pulas tidur.

"Hei... Mak," kukejutkan sambil merangkul badanku.

Mamak merepet. Kubalas dengan repetan juga. Kubilang, mamak tidur kayak kena tuak sejerigen. Pulaaas.

Kali ini mamak yang merepet. Aku pura-pura tak dengar. Kukusuk kakinya. Pindah ke tangannya. Punggungnya kupijat juga.

Aku kagum kali sama mamakku. Di usia yang tak lagi muda, masih ulet bekerja. Ke sawah, oke. Memasak, sudah biasa. Setiap aku pulang dan hendak pergi ke kos, segalanya disediakan untukku. Tetapi, yang paling kusuka sambal teri lengkap dengan singkong ungu.

Aku menolaknya tapi mamak tetap memasukkan ke ranselku. Kadang, makanan itu tak kukonsumsi. Kukasih sama orang-orang yang kujumpa. Yang utama bagiku, ongkos dan uang sakunya.

Seperti kali ini, meski mamak sudah mewanti-wanti tidak akan memberi ongkos buatku tapi aku tetap diberinya. Hanya saja, jumlahnya tak sebanyak seperti biasa.
Aku menerima dengan bersungut-sungut. Kakakku ikut campur. Ia ikut memberi tapi aku tak puas karena pemberian mamak tidak seperti biasa.

Sambil meninggalkan rumah, aku menangis. Kakakku kemudian mengejar dan menambah uang sakuku. Satu hadiah lain, ia mencubitku. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru