Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026

P u i s i

- Minggu, 08 Juli 2018 19:01 WIB
828 view
P u i s i
PURNAMA

Sinarmu indah malam ini
Pasti karena hari-hari indah
Yang telah kaulalui
Bersama bintang-bintang
Tidak banyak yang bisa kubuat
Hanya ucapan selamat
Yang kutitipkan kepada angin malam
Semoga awan hitam tak memudarkannya
Purnama masihkah engkau mengingatku
Kala aku membisikkan sesuatu
Engkau membalasnya
Sungguh aku mengenang itu
Namun aku hanya bisa berbisik
Dan menatapmu dari kejauhan
Ingin rasanya terbang tuk meraihmu
Tapi aku tak bisa
Purnama izinkan aku membisikkan sesuatu lagi
Kenangan lalu menumbuhkan rasa kagumku padamu
Perasaan ini telah lama kupendam
Mungkin inilah saatnya tuk kusampaikan
Tapi tenanglah aku tak berharap banyak
Aku hanya ingin engkau tahu
Betapa dalam rasa di kalbu
Purnama tetaplah bersinar di sana
Aku jadi pengagummu di sini

R Chrisanct
Pematangsiantar

TAK PATAH HATI

Aku tak muak, apalagi benci
Tapi pesanmu yang kautitipkan pada orang lain
Membuatku tak enak makan
Tak dapat tidur
Tak merasa kantuk
Tapi hidupku rasanya seperti terhenti
Apakah ini yang disebut patah hati
Aku tak mau mati
Tak ingin mati rasa
Tak hendak kautinggal pergi
Tapi dasar kau bangau terbang tinggi
Yang tiba-tiba patah sayap
Hingga tak tahu apakah aku masih berharap 
Aku terus menunggu
Tapi kau anggap tak ada lagi kayu
Yang bakal menghembuskan kabar darimu
Yang hendak menikah itu
Kini aku seperti kau salib
Kemudian kau lempar aku dengan batu koral
Yang menimpuk jidat
Jadi benjol...
Apakah ini dikatakan patah hati
Aku tak mengerti
Yang pasti hatiku luka
Seperti kena sepakan first time penyerang Belgia
Dries Mertens ke gawang Panama
Aku jadi babak belur...
Kau kubur dalam kubangan lumpur
Mungkin kau pikir aku bahagia
Padahal sesungguhnya aku terluka
Tapi semua kututup dengan tawa
Aku mencoba berlapang dada
Melangkah menjauh darimu
Semogalah kau bahagia
Menikah dengannya
Tepat di hari ulang tahunku
Kau kejam membuatku hampa

Harry Purnama Gurusinga
Patumbak Deliserdang

GAK JELAS

Ntah sampai kapan angin berubah arah
Tak hanya dari utara ke selatan
Tak harus menebar busuk seperti sampah
Tak juga dari lambung ke buritan
Tingkahmu kadang memberi angin segar
Seperti memberi kesempatan padaku
Untuk masuk ke hatimu yang kekar
Dan membuatku terus menunggu
Kaubawa aku ke seberang jalanmu
Dengan janji dan sumpah seperti madu
Setelah aku terbuai, kaujauhi aku
Membuat aku mati dan tubuhku kaku
Aku seperti patah hati
Tapi aku semakin tak perduli
Hatiku jadi seperti sapu lidi
Yang terserak masuk selokan
Cepat atau perlahan
Kau kan pasti merasakan
Sakit sekali bila ditinggalkan
Penantianku, sakit hatiku akan kulumat
Seperti bau kentut
Dari tetanggaku yang gendut
Untuk membuatmu semaput...
Kau pengecut 

Arlen Armansyah,
Pulobrayan Bengkel Medan


JINGGA BAHAGIA

Walau senja melangkah merenungkan sepi
Aku tak takut akan sinar jingganya
Karena malam pasti datang bersama
Serta tak pernah berhenti menyapa
Jika pun embun akan pergi
Aku tak gentar akan pekata malam
Karena bakal datang temaram
Menjadi modalku menggenggam
Impian yang selama ini sudah padam
Kuyakin mentari telah pudar
Pergi bersama takdir
Membawamu bersama cinta
Barumu yang kaupungut dari bekas luka
Di hatiku, di lubuk terdalam di pelupuk dada
Menyulam rindu itu gampang
Karena seperti air
Datang dan pergi dengan semilir
Seperti angin yang terus berhembus
Meski menyambutku dengan tangis
Kuakui, bersamamu telah menusir
Memori yang seperti pasir
Hilang begitu ombak berdesir
Aku pun lapar
Aku yakin dengan pasti
Saat hati dirundung sepi
Jangan pernah menyerah dengan pilihan hati
Karena pasti ada cinta sejati
Yang mungkin kini sedang pergi
Aku tak menuduhmu pecundang
Tapi tingkah dan janji pun memang
Seperti rendang
Sepotong lengkuas seperti daging
Bakal terbuang
Tak ada guna mengulang cerita indah yang telah berlalu
Karena senja tak bakal datang
Ia sudah berganti waktu
Seperti aku yang tak henti berjuang
Menggapai mimpi di masa datang
Senja dipedihku pasti terganti
Tapi aku tetap berdiam
Agar tirai luka pergi dari bias-bias mimpi
Meski terlelap, indah mata
Kau adalah hitam dalam dimensiku
Aku tak mau malamku berganti pagi
Hanya dengan dendam hati perih 
Biarlah embun yang menyirami
Sejuk malam dalam kasih
Kubiarkan cintamu terbang
Seperti kepakan bangau
Seminggu, sebuan bahkan setahun kan terbilang
Aku tak pernah galau
Bersamaku bahkan setelah kematian
Hingga Tuhan mempersatukan kita kemudian

Mas Budi, 
Marelan-Meda
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru