Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 31 Juli 2026
Curhat

Lima Belas Tahun Tidak Lama

* Samuel A Sihaloho, SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 12 April 2015 16:36 WIB
326 view
Lima Belas Tahun Tidak Lama
Kota kami sudah setengah abad. Saat merayakan hari jadinya, ragam kesenian ditampilkan. Mulai yang serius hingga bikin orang meringis. Soalnya yang disuguhkan bikin jantung berdebar sebab tariannya erotis.

Di depan pentas itu pula massa berbondong berebut ingin lebih dekat ke bibir panggung. Padahal matahari menimpa dengan terik. Aku justru menepi, mendekati seorang bocah yang berteduh di antara umbul-umbul berisi ucapan peringatan.

Lama aku berdiam sendiri tapi sekonyong-konyong melihatnya. Pandangan kami beradu dan begitu manisnya senyum si bocah. Aku melangkah mendekatnya.
Pertemuan langsung mencair karena anak baru gede itu menjulurkan tangan dan mengajak kucerita. Tetapi ketika dikatakannya sudah kelas 10, aku terperangah.
Kan gak mungkin anak semungil itu sudah SMA. Aku yang kelas 11 saja sudah gede, masak hanya beda setahun tapi tubuhnya mungil seperti bocah.

Setelah cerita ke sana ke mari tak tentu arah, anak kecil itu curhat bahkan cerita tentang keinginannya memiliki sepatu seperti yang kupakai. Sudah lama ia mengidamkan sepatu. Alasannya agar berpenampilan seperti gadis.

Ha, gadis? Anak kecil itu ternyata punya kelainan genetik. Bahkan, setelah memerhatikan dengan seksama, kakinya beda dengan milik orang kebanyakan termasuk denganku. Bangun tubuh kakinya tidak simetris seperti orang-orang lain. Selain itu, yang kiri jauh lebih besar ketimbang yang kanan.

Memastikan posturnya, aku sebenarnya mau ketawa tapi karena dia cerita begitu serius, aku urungkan dan tahan kegelian tersebut. Semakin banyak komunikasi, aku jadi semakin yakin bahwa usianya sudah 15 tahun lebih. Tetapi, ya itu tadi... karena ada kelainan genetik membuatnya beda bertumbuh.

Yang kutangkap darinya, sahabat baruku itu ingin sepatu. Soalnya, seperti pengakuannya, selama 15 tahun usianya,  belum pernah memakai alas kaki seperti yang diinginkan. Apalagi sampai memiliki. Itulah yang membuatku memutar otak karena ingin memberi. Namun aku bingung, bagaimana caranya membelikan sepatu yang amat beda antara yang kiri dan kanan.

Selain itu, aku juga gak punya uang untuk membeli sepatu sebagus yang kupunya. Soalnya, aku saja dibelikan uda yang bertugas di London, Inggris.

Sepatu yang kupakai sama dengan yang digunakan adikku dan abang tertuaku. Hanya saja, punya abangku sudah rusak sebab ke mana pun dipakainya. Tapi karena sayangnya dengan benda itu, sepatunya masih disimpan.

Tiba-tiba mengalir ide meminta padanya. Dengan senang hati abangku memberi. Kebetulan yang rusak sebelah kiri. Tanpa pikir panjang kucuri sepatu adikku. Tapi yang kanannya saja.

Jadi, sepatu kiri dari abangku  yang bagian kanan milik adikku. Cepat-cepat kuantar pada sahabat baruku.

Menerima pemberianku, betapa senangnya. Meskipun yang kanan masih longgar tapi dipas-paskannya dengan menyumpalkan kertas.

Sampai di rumah, kegaduhan muncul. Adikku kehilangan sepatu, tapi cuma sebelah saja. Aku tak mau mengaku dan pura-pura tak tahu. Sudah hampir dua bulan dan adikku sudah lupa dengan kehilangannya, tiba-tiba sahabatku datang ke rumah dan memakai sepatu curianku.

Hadew... hajab! Sekonyong-konyong pula adikku berteriak-teriak dari depan pintu mengabarkan sepatu kesayangannya tiba-tiba datang.

Kutarik rekanku ke kamar. Sambil mengintip, tatkala adikku masuk, sepatu yang dibawanya ke dalam kuambil lagi dan cepat-cepat aku pergi dengan sahabat istimewaku.

Apapun penilaian padaku, aku cuma ingin berbagi. Soalnya, adikku sudah puas dengan banyak sepatu. Sementara rekanku baru kali ini. (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru