Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 31 Juli 2026
Cerpen

Bunga untuk Bunda

* Karya: Hendra Maringga - Biara Kapusin St Fransiskus Pematangsiantar
- Minggu, 31 Mei 2015 17:50 WIB
348 view
Bunga untuk Bunda
Pagi-pagi benar. Di kala mentari belum meninggalkan peraduannya, aku telah meninggalkan buaian alam mimpiku. Senter kecil menjadi pemanduku menembus kegelapan. Aku menuju taman bunga di depan rumahku. Langkah kakiku begitu pelan agar tak ada satu pun anggota keluargaku mendengarnya. Di taman aku segera memetik beberapa bunga yang baru mekar. Sesudah itu aku kembali ke kamarku merangkai bunga-bunga itu. Meski tak sebagus dan seindah rangkaian bunga para suster di Gereja, aku cukup puas memandangnya. Bunga-bunga itu kuletakkan di samping seorang wanita berpakaian putih dengan mantol biru. 

Jika mentari telah terbit, namaku pasti yang pertama dipanggil oleh ibu. "Adel …," teriakan ibu yang melengking selalu menghiasi pagiku. Suara itu seperti petir yang menggelegar di antara rintik-rintik hujan. Gendang telingaku malah bergemuruh sakit mendengarnya. Jika ada burung Hantu bertengger di plafond rumah menikmati buaian mimpi dalam tidurnya, pastilah langsung tersentak. Dia mengepakkan sayapnya, terbang mencari tempat yang aman untuk kembali ke peraduannya.

Aku sendiri langsung pasang kaki seribu menghadap ibu. Beberapa detik kemudian, aku telah berhadapan dengannya. Dalam situasi seperti itu aku ibarat berada di kursi pesakitan. Ibu seperti hakim agung yang akan segera memberi vonis atas kesalahan yang kulakukan. Meski takut aku menatap wajah ibu. Dia pun balik menatapku. Tatapan yang membuat jantungku langsung berdegup dengan kencang. Barangkali lebih cepat dari langkah kaki para pelari dunia, saat mereka mengikuti pertandingan.

"Kamu tahu apa kesalahanmu," suara ibu meninggi. Mendengar suara ibu seperti itu biasanya bulu kudukku langsung merinding. Lutut kakiku ikut gemetar. Kalau ibu tidak selalu berdiri tepat di depan pintu, aku pasti akan melesat sekencang angin menerobos pintu untuk berlari menyelamatkan diri.

Aku tertunduk. Diam. Tak memberi satu kata pun sebagai jawaban atas pertanyaan ibu. Aku hanya berharap dalam hati, ada orang yang dapat segera mungkin melepaskan aku dari situasi itu. Harapan itu terjadi, karena ayah keluar dari kamarnya. Dia menjadi sosok penyelamatku, sehingga vonis pada akhirnya tidak jadi diberikan ibu kepadaku. 

Meski wajah ayahku sangar dan badannya berotot, ia memiliki penampilan lembut. "Sudahlah, bu. Jangan marah-marah lagi. Tidak bagus didengar tetangga lho," suara ayah yang lembut meneduhkan hati ibu. Teduh seperti air yang menelusuri kerongkongan manusia yang sedang kehausan. Terbukti suara ibu sedikit melembut, walau aku tahu bahwa urusanku dengannya belum selesai. 

Aku sadar akan perbuatanku. Tetapi aku tak mampu untuk tidak mengulanginya lagi. Dan hanya itulah yang dapat kuperbuat bagi wanita itu. Setiap pagi aku mempersembahkan bunga baginya. Sudah beberapa tahun lamanya aku mempersembahkan bunga kepada Bunda Maria. Perbuatan itu kulakukan sejak aku mendapat peran sebagai Maria dalam fragmen kelahiran Yesus. Kala itu banyak orang memberikan pujian kepadaku. "Wajahmu mirip sekali dengan Bunda Maria. Saya yakin kamu kelak akan seperti dia," ungkap salah seorang ibu sesudah beberapa kali memperhatikan wajahku dan patung Bunda Maria yang kebetulan ada di dekatnya. 

Perkataan itu selalu kusimpan dalam lubuk hatiku yang terdalam, meski aku tidak tahu apa maksud dari perkataan itu. Hanya, sejak saat itu aku semakin tertarik pada Bunda Maria. Secara sedikit demi sedikit, aku lalu mencari tahu tentang ibu Yesus itu. Para pastor, suster, dan frater selalu menjadi tempat bagiku mengajukan pertanyaan tentang Maria. 

"Adel, suster mau mengajari kamu doa Salam Maria," Sr. Agrisa bertutur ketika melihatku duduk di depan patung Bunda Maria. 

Tanpa bersuara aku menganggukkan kepala. Sr. Agrisa lalu mengeluarkan dari sakunya dua buah Rosario bercorak mawar. Satu digunakannya sendiri, dan satu lagi diberikan kepadaku. Dengan perlahan-lahan, Sr. Agrisa melafalkan doa salam Maria. Setelah Sr. Agrisa beberapa kali mengulangi doa itu, aku sudah bisa mengucapkannya sendiri. Doa itu begitu sederhana, tapi sangat menyentuh hati sesudah aku mengucapkannya berulang kali. Bahkan di hari-hari berikutnya, apabila aku tidak mengucapkannya sekali saja satu hari aku merasa ada yang kurang dalam diriku.

Berperan sebagai Bunda Maria dan rajin mendaraskan doa salam Maria ternyata membuatku semakin merasa dekat dengan Bunda Maria. Kedekatan itu sungguh kurasakan, saat seluruh perhatian ibu tercurah pada kakakku yang sedang menderita penyakit komplikasi. Selama berbulan-bulan kakak harus diopname di rumah sakit. Aku pun sering tinggal sendirian di rumah. Terkadang aku dititipkan di rumah paman dan bibi di samping rumahku sampai ayah pulang kerja. Awalnya adalah masa-masa yang sulit bagiku berpisah dari ibu, sehingga aku sering  menangis. Aku hanya bisa bertemu dengannya pada sore hari. Ibu malah mau tidak punya waktu untukku, saat aku menemuinya di rumah sakit. Perhatiannya hanya tertuju pada adik kecilku dan kakak yang sedang sekarat tidak berdaya.

Berbulan-bulan tanpa ditemani ibu menjadikan wanita bernama Maria itu sebagai tempat curhatku. Setiap hari aku selalu bercerita tentang pergulatan hidupku. Aku katakan padanya kalau aku sedang merindukan ibu. Aku ingin tidur bersamanya, ingin dipeluknya, dan disuapi lagi seperti yang dilakukan ibu kepada kakak di rumah sakit. Tetapi inginku tak pernah terealisasi. Ayahlah yang menemaniku walaupun tidak bisa setiap saat dilakukannya. Jika ayah harus menemani ibu berjaga di rumah sakit, maka paman dan bibi menemaniku di rumah. Dalam kesedihan itu, Bunda Maria kurasakan hadir sebagai sosok ibu yang mengayomiku dan meninabobokanku sampai tertidur lagi.

"Wajahmu mirip sekali dengan Bunda Maria. Saya yakin kamu kelak akan seperti dia." Sekarang aku menyadari dan membenarkan perkataan itu. Kini, aku menjalani kehidupan yang dipilih Bunda Maria. Tentu aku bukan menjadi ibu yang mengandung Putra Allah. Tetapi aku mempersembahkan tubuh dan jiwaku secara murni di hadapan Allah. Aku menjadi seorang biarawati. Nama Maria pun menjadi pilihanku, ketika pimpinanku mengharuskanku memilih nama orang kudus menjadi nama biaraku. 

"Nama orang kudus bukan hanya sekedar menjadi pengganti nama panggilanmu di biara. Kamu memilih nama orang kudus sebagai namamu, agar kamu dapat meniru dan meneladan kehidupannya dalam perjalanan panggilan hidup membiaramu," pimpinanku menerangkan arti dan makna dari sebuah nama orang kudus yang akan kugunakan sebagai seorang biarawati.

Aku mengamini dan melaksanakan perkataan pimpinanku. Doa-doa salam Maria selalu kudaraskan setidak-tidaknya tiga kali dalam sehari. Di bulan yang penuh rahmat ini, aku malah semakin intensif mendoakan salam Maria. Lewat doa-doa itu aku berharap dapat terbantu dalam mendekatkan diri kepada Yesus Kristus, Putranya. Dengan doa-doa salam Maria, aku bersama Maria berdoa kepada Yesus agar diriku dan semua orang dapat meneladan Bunda Maria. Yah, aku menyampaikan semua itu karena aku tahu peran Bunda Maria tidak hanya ditunjukkan Gereja dalam karya keselamatan dengan mengandung Yesus dalam rahimnya. 

Bunda Maria unggul dalam keutamaan-keutamaan. Dia adalah model umat beriman, Maria adalah teladan dalam kerendahan hati, Maria adalah Bunda Pertolongan Abadi, Maria adalah Bunda Penghibur Orang yang Berdukacita, dan banyak lagi keutamaan yang dimilikinya. Keutamaan-keutamaan itulah yang kuharapkan dapat kuterapkan dalam hidupku dan dalam hidup setiap orang yang berdoa bersama Maria di bulan yang secara khusus dijadikan Gereja sebagai bulan penghormatan kepada Bunda Maria ini. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru