Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 Juli 2026

Indeks Literasi Keuangan Indonesia Masih Rendah

- Kamis, 02 Juni 2016 10:16 WIB
514 view
Indeks Literasi Keuangan Indonesia Masih Rendah
Harus diakui masih banyak rakyat Indonesia yang belum paham dengan sistem keuangan dan perbankan. Mereka masih menganggap aneh bank, bahkan cenderung dijauhi. Uangnya disimpan di bawah bantal sehingga rawan untuk dicuri. Tak jarang menilai menabung di bank merupakan perbuatan dosa.

Kondisi ini tentunya sangat ironis, di tengah besarnya populasi masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan di Indonesia hanya 21,7 persen. Angka ini tertinggal jauh dibandingkan penetrasi di Filipina sudah di atas 30 persen dan Malaysia 60-70 persen.Tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia khususnya di daerah pedesaan dan daerah-daerah terpencil masih sangat rendah.

Dunia perbankan dan lembaga keuangan yang masih berkonsentrasi di kota-kota besar mengakibatkan akses masyarakat ke perbankan masih didominasi masyarakat perkotaan. Rakyat desa masih banyak buta dengan perbankan. Bukan saja karena tak memiliki pemahaman, tetapi karena jaringan bank masih sangat terbatas untuk menjangkau warga pedesaan.

Penyebab rendahnya tingkat literasi keuangan di Indonesia antara lain dipicu kurang imbangnya tingkat pertumbuhan industri jasa keuangan dan kesadaran masyarakat terhadap produk keuangan. Di satu sisi industri keuangan sudah berkembang pesat, ternyata di sisi lain masih saja ada masyarakat yang memilih menyimpan uang di rumah. Harusnya, pemahaman warga atas jasa keuangan sudah membaik.

Rendahnya literasi ini tentu akan merugikan masyarakat itu sendiri. Warga akan mudah tertipu karena tidak memahami produk keuangan yang terus berkembang. Misalnya seperti penawaran produk kartu kredit dan produk-produk keuangan lainnya. Banyak penawaran yang tidak sepenuhnya dipahami masyarakat. Mereka akhirnya terjerumus pada ketentuan yang malah dianggap sebagai penipuan.

Ini menjadi pekerjaan rumah bagi OJK untuk meningkatkan daya saing industri keuangan dalam negeri. Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh dan berkembang. Tapi, karena tingkat kesadaran keuangan rendah maka menjadi penghambat. OJK mesti bekerja keras untuk melakukan edukasi kepada masyarakat.

Mengingat luasnya Indonesia, mustahil OJK mengerjakannya sendiri. Mereka harus bergandengan tangan dengan industri. Dengan dukungan teknologi dan perangkat media yang masif bisa membantu pemahaman masyarakat untuk berinteraksi dengan industri jasa keuangan. Apalagi jika media massa dilibatkan, maka penyebaran dan penyadaran bisa dilakukan secara efektif dan efisien.

Era digitalisasi melalui smartphone sebenarnya menjadi peluang perbankan untuk meningkatkan literasi masyarakat terhadap produk-produk mereka. Pengguna smartphone atau internet yang sudah mencapai 80 persen dari seluruh penduduk di Indonesia menjadi peluang perbankan untuk melakukan sosialisasi secara masif terkait produk mereka. Warga di desa pun sudah mulai melek teknologi informasi, hanya masih perlu diarahkan agar dimanfaatkan untuk hal yang positif.

Literasi keuangan memang tugas utama OJK. Tetapi jika indeksnya tetap rendah, dampaknya akan dirasakan seluruh penjuru negeri. Diharapkan semua pihak melakukan penyadaran sesuai bidang masing-masing. Pendidikan, pemuka agama, media dan teknologi bisa dimanfaatkan memberi pencerahan agar warga makin melek keuangan dan perbankan.(**)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru