Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 17 Juni 2026
FOKUS

Selamat Merayakan Paskah

- Minggu, 20 April 2014 21:09 WIB
504 view
Selamat Merayakan Paskah
Hari ini umat Kristiani merayakan Paskah. Secara substansial perayaan Paskah ini sebenarnya adalah peringatan atas kebangkitan Kristus mengalahkan maut yang berbau kematian dan penderitaan. Dengan Paskah, manusia pun dimampukan untuk mengalahkan kehidupan duniawi. Dalam via dolorosa, tergambar bagaimana penderitaan yang dialami Yesus Kristus terpatri dalam setiap langkahnya, hingga kemudian berakhir dalam derita di kayu salib. Tetapi semuanya itu kemudian berhasil dikalahkan. Apa artinya bagi kita kini dan bagi negera kita?

Teringat dengan persoalan bangsa, salah satu persoalan yang selama ini sering dibicarakan oleh para pimpinan KPK adalah menjamurnya perilaku hedonisme. Perilaku ini terwujud ke dalam perilaku korupsi yang umumnya dilakukan untuk memperkaya diri sendiri dalam rangka mempertontonkan kebiasaan hidup yang ingin terlihat mewah dan pongah. Pada sisi sebaliknya, makna pengendalian diri dan keinginan untuk berkorban sama sekali tidak disukai. Manusia (Indonesia) umumnya sulit untuk menerima kenyataan diri apa adanya, bahkan cenderung menginginkan sesuatu yang jauh dari kebutuhannya.

Perilaku hedonisme ini sayangnya semakin booming di kalangan kelompok usia muda yang ditinjau dari sudut pandang historisnya, sama sekali tidak pernah mengalami perlawanan terhadap Orde Baru, apalagi perjuangan kemerdekaan. Jadi wujud penderitaan dan sifat nasioannya mereka-meminjam istilah Ben Anderson-sama sekali tidak ada. Mereka hidup dalam kemajuan teknologi dan kemapanan yang berada dimana-mana dan umumnya disebarluaskan oleh media.

Mudah menemukan anak-anak muda sekarang bergaya hidup jet-set. Mereka berperilaku mewah dengan segala kebiasaan dan embel-embelnya, mulai dari apa yang dikenakan, apa yang dilakukan. Bahkan kebiasaan baru muncul meliputi bagaimana mereka berkomunikasi di antara mereka. Semuanya itu tentunya memerlukan biaya hidup yang tidak sedikit. Semuanya menuntut uang dalam jumlah besar dan itu tentunya tidak bisa didapatkan hanya mengandalkan gaji dalam jumlah sedikit.

Maka tidak heran kemudian jika yang terjadi adalah masifnya korupsi. Tidak usah menyebut perilaku korupsi kelas atas. Di kalangan masyarakat "bawah" yang namanya korupsi amat terlihat jelas dari pungli yang dialami di kantor pemerintah, rumah sakit, puskesmas, sekolah, bahkan di lahan parkir sekalipun. Bukan hanya itu, lahan pemakaman juga menjadi lokasi korupsi.

Maka tidak heran jika jumlah uang yang dikorupsi oleh mereka yang menjadi koruptor kakap, bukan lagi ratusan juta. Sudah mencapai puluhan miliar. Mantan Kepala SKK Migas misalnya, di persidangan mengakui bahwa suap kepadanya mencapai Rp. 10 miliar rupiah. Belum lagi kasus-kasus kerugian uang negara lain yang dilakukan oleh para koruptor dan terungkap di pengadilan KPK.

Semuanya memperlihatkanĀ  manusia tidak mampu melawan keduniawian yang memang terasa lebih menyenangkan dan menjanjikan. Manusia Indonesia kontemporer bukanlah manusia yang berjuang melawan sesuatu yang salah, tetapi kemudian memilih terlarut dan terbenam ke dalam hedonisme yang semakin luar biasa itu. Akibatnya jelas. Bukan hanya pada perilaku melawan hukum, tetapi juga melawan "takdir" bahwa sebenarnya kebiasaan buruk bisa dilawan bahkan bisa dibuat tidak berdaya karena Kristus telah mati melawan semuanya itu.

Perlu memang menggalang semangat Paskah ini menjadi suatu momen yang mengubah seseorang, mengubah komunitas, mengubah masyarakat dan kemudian mengubah negara. Tanpa keinginan untuk mengubah semuanya itu maka Paskah pun maknanya menjadi kering dan sama sekali tidak berarti. Prinsip bahwa kedagingan dan kemanusiaan yang membawa perilaku buruk bisa dilawan dengan prinsip Paskah harusnya terus menerus kita dengungkan. Paskah membawa harapan bahwa ada sesuatu yang bisa kita lakukan. Dan yang bisa dilakukan itu adalah perilaku baik yang memperbaiki bangsa ini. Dengan cara itu maka Paskah bisa menjadi berkat bagi negara kita. Selamat Paskah (***)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru