Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 05 Oktober 2026

Teladan Raja Sisingamangaraja XII

- Selasa, 18 Juni 2019 13:49 WIB
1.501 view
Teladan Raja Sisingamangaraja XII
Sudah 112 tahun Raja Sisingamangaraja XII pergi ke keabadian. Raja Batak bernama Patuan Bosar dengan gelar Ompu Pulo Batu ini gugur 17 Juni 1907 di daerah Sionom Hudon di perbatasan Kabupaten Taput dan Kabupaten Dairi. Selama 29 tahun dia berjuang hingga tetes darah penghabisan, tanpa ada kata menyerah.

Meski harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, Raja Sisingamangaraja XII terus menggelorakan semangat perlawanan terhadap penjajah. Taktik perang gerilya diterapkannya dalam menghadapi Belanda yang unggul dalam persenjataan modern. Sejarah mencatat untuk menangkap pemimpin Batak ini, Belanda mengerahkan pasukan khususnya yang dipimpin Kapten Christoffel.

Bersama Raja Sisingamangaraja XII, ada dua putranya yakni Raja Patuan Nagari dan Raja Patuan Anggi serta putri tercintanya Siboru Lopian yang ikut berjuang hingga akhir. Mereka tetap setia mendampingi ayahandanya meski keadaan sudah sangat sulit. Sungguh anak yang sangat berbakti terhadap orangtua, yang patut diteladani generasi muda sekarang.

Ada catatan menarik mengapa Raja Sisingamangaraja XII bisa bertahan selama 29 tahun dalam perjuangannya. Selain karena kegigihannya, ada yang menarik dari catatan sejarah, yakni rakyat membantunya. Ada solidaritas yang terbangun di antara orang Batak, meski dibujuk Belanda, tetap tidak mau membocorkan persembunyiannya.

Meski pada akhirnya, ada orang yang menghianatinya, dengan memberi tahu Belanda, di mana Raja Sisingamangaraja XII tinggal. Dalam keadaan terkepung tepi sungai Sibulbulon, meski diminta menyerah, dia lebih memilih melawan hingga tetes darah penghabisan. Putra-putrinya ikut berkorban nyawa dalam perjuangan melawan penjajah.

Padahal, penjajah Belanda sudah pernah melakukan upaya pendekatan (diplomasi). Sisingamangaraja XII ditawarkan untuk diangkat sebagai Sultan Batak, dengan berbagai hak istimewa sebagaimana lazim dilakukan Belanda di daerah lain. Asal mau saja menyerah sudah menjadi Sultan, namun Sisingamangaraja XII dengan tegas menolak tawaran itu.

Selama hidupnya, Sisingamangaraja XII mendatangi para tokoh Batak dan mengajaknya bersatu. Gaya kepemimpinannya yang kharismatik mampu merangkul orang-orang yang berbeda untuk bersama-sama melawan penjajah. Dalam pasukannya ada dari Aceh, yang jelas beragama Islam.

Pemimpin Batak ini sempat dimakamkan di kawasan Tangsi Tarutung Tapanuli Utara. Lalu pada tahun 1953, dimakamkan kembali di Makam Pahlawan Nasional Pagar Batu Balige yang telah dibangun Pemerintah. Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional dianugerahkan dengan Surat Keputusan Pemerintah Republik Indonesia No 590 tertanggal 19 November 1961.

Semangat juangnya perlu dilestarikan dan diteladani generasi muda saat ini. Mari menggelorakan semangat juang dan toleransi dari Sisingamangaraja XII yang masih relevan hingga kini. Jika dulu musuh adalah penjajah Belanda, kini adalah kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Mari berjuang demi kesejahteraan dan kejayaan bangsa Batak. (**)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru