Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 05 Oktober 2026

Kontradiksi di Danau Toba

- Minggu, 30 Juni 2019 09:28 WIB
505 view
Kontradiksi di Danau Toba
Pekan lalu, sempat viral di media sosial (medsos) tentang adanya truk berlogo pemerintah daerah membuang sampah ke Danau Toba. Meskipun camat setempat membantah itu bukan atas instruksinya, tetap saja tindakan tersebut tak bisa dibiarkan. Sebaiknya ada penyelidikan resmi dari inspektorat agar ada rekomendasi perbaikan ke depan.

Tanpa ada penelitian resmi tentang kasus tersebut, maka tindakan tersebut bisa terulang kembali. Sebab ternyata bukan kali ini saja ada pembuangan sampah ke Danau Toba. Tahun lalu sudah pernah terjadi dan tidak ada sanksi terhadap pejabat yang bertanggung jawab.

Bisa jadi memang sopir truk tersebut tidak dibekali pemahaman ke mana membuang sampah. Sebab berdasarkan klarifikasi ke pers, disebutkan saat itu memang sudah beberapa hari sampah warga tak diangkut. Penyebabnya, truk yang biasanya bertugas tidak masuk ke kawasan tersebut.

Jadi yang membuang sampah ke Danau Toba tersebut adalah truk pengganti. Pemerintahan adalah sistem, artinya siapapun mestinya tetap bisa melaksanakan layanan publik tanpa kendala. Sebab seharusnya sudah ada SOP (standar of procedure) bagaimana melakukan pembuangan sampah.

Perlu diungkap, selama ini ke mana tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Jangan-jangan tak ada manajemen persampahan, sehingga limbah masyarakat yang dikumpulkan dibuang begitu saja, tanpa ada lokasi permanen. Jika benar begitu faktanya, tentu harus ada evaluasi terhadap pejabat yang bertanggung-jawab atas sampah.

Persoalan mendasar sebenarnya, dari fakta ini, kesadaran aparat tentang bagaimana menjaga kebersihan Danau Toba, ternyata sangat rendah. Bisa dipahami jika warga biasa juga tak tahu membuang sampah ke danau merupakan tindakan menyalah. Ini potret buram tentang persepsi dan sikap aparat beserta masyarakat tentang Danau Toba.

Hal ini sangat kontradiktif dengan program dan perlakuan istimewa pemerintah pusat terhadap Danau Toba. Saat ini anggaran sangat besar dicurahkan untuk pengembangan kawasan Danau Toba untuk membangkitkan kembali pariwisata yang sempat melempem. Ternyata antara daerah dan pusat masih kurang sinergi.

Menjaga dan membangun Danau Toba tidak harus dengan proyek raksasa. Sebenarnya yang paling dibutuhkan adalah terciptanya budaya wisata. Turis akan datang jika ada keramahtamahan dan kebersihan. Sebab secara alami potensi Danau Toba sudah sangat dahsyat.

Hanya perilaku warga dan aparat yang masih sering menjadi batu sandungan. Ke depan tak boleh terulang lagi tindakan membuang sampah ke Danau Toba. Hal itu tidak lagi masalah sepele, sebab begitu viral di medsos, masyarakat internasional akan mengetahui dan menilainya buruk dalam waktu yang cepat. (**)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru