Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 05 Oktober 2026

Rekonsiliasi Versus Negosiasi

- Kamis, 25 Juli 2019 10:10 WIB
368 view
Rekonsiliasi Versus Negosiasi
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri akhirnya bertemu Ketua Umum Partai Gerindra yang juga mantan Capres 02 Prabowo Subianto. Pertemuan ini sudah lama ditunggu banyak pihak setelah kontestasi menegangkan di Pemilihan Presiden 2019. Seperti diketahui Joko Widodo yang diusung PDIP bersama koalisinya memenangkannya setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memberi putusan.

Sebenarnya antara Mega dan Prabowo bukan tidak pernah akrab. Mereka pernah berpasangan sebagai Capres dan Cawapres pada Pemilu Presiden 2009. Memang koalisi itu terkesan mendadak sebab kabarnya beredar satu hari menjelang pendaftaran ke KPU kala itu.

Kemarin keduanya bertemu dalam "diplomasi nasi goreng". Megawati menyebutkan perbedaan pilihan dalam Pemilu merupakan hal yang wajar. Untuk menyatukan perbedaan yang ada diperlukan dialog antarpihak terkait.

Sebaliknya Prabowo malah sempat menyinggung tentang perbedaan pandangan politik antarkeduanya. Namun perbedaan ini ditanggapi sebagai sebuah sikap politik yang tidak prinsipil. Dia menyebut dirinya dan Mega sama-sama patriot, sama-sama komit pada NKRI dan harga mati.

Banyak pihak memaknai pertemuan kedua tokoh politik ini sebagai negosiasi atau kompromi bagi-bagi kekuasaan. Apalagi terungkap ada pernyataan penyusunan kabinet merupakan hak prerogatif Presiden. Kemudian ada saran Mega agar Prabowo berkomunikasi langsung dengan Jokowi.

Meski ada pembicaraan politik itu wajar sebab yang bertemu adalah ketum parpol. Paling tidak, ini terobosan di tengah kebuntuan komunikasi politik selama ini. Pertemuan Jokowi dan Prabowo di MRT memang telah memecahkan kebekuan itu.

Diharapkan ada rekonsiliasi lanjutan antara partai-partai pendukung Capres. Misalnya, ada kerinduan publik menunggu cairnya hubungan SBY dan Mega. Sebenarnya sudah mulai ada kontak saat Ani SBY meninggal dunia.

Tetapi rekonsiliasi bukanlah upaya bagi-bagi kekuasaan. Tetapi saling memaafkan dan membangun silaturahmi sebagai sesama anak bangsa. Perbedaan pasti masih ada, disebabkan berbagai cara pandang.

Saatnya menyatukan energi untuk membangun bangsa. Kontestasi berikutnya adalah 2024 mendatang. Apakah sebagai pemerintah atau di luar pemerintahan, lakukan yang terbaik. Rakyat akan menilai dan mengambil keputusan kembali lima tahun mendatang.(**)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru