Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 05 Oktober 2026

Rektor Asing untuk 100 Besar Dunia

- Selasa, 30 Juli 2019 15:22 WIB
456 view
Rektor Asing untuk 100 Besar Dunia
Presiden Jokowi mewacanakan akan mendatangkan tenaga pengajar hingga rektor dari luar negeri untuk membantu pendidikan di Indonesia. Targetnya dalam rangka meningkatkan ranking perguruan tingginya mencapai 200 bahkan 100 besar dunia. Meski tidak semudah membalikkan tangan, ada optimisme hal itu bisa dicapai.

Pemerintah menargetkan 2020 sudah ada satu perguruan tinggi di Indonesia yang dipimpin rektor terbaik luar negeri. Ditargetkan pada 2024, ada lima perguruan tinggi Indonesia yang dipimpin oleh rektor luar negeri. Hanya perlu ada revisi berbagai regulasi terkait yang masih mengganjal.

Praktik rektor asing memimpin perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi publik di suatu negara sebenarnya lumrah dilakukan di luar negeri. Antara lain diterapkan di negara-negara Eropa, bahkan negara jiran Singapura juga melakukan hal yang sama. NTU, Nanyang Technological University yang berdiri tahun 1981 ternyata mengimpor rektor dan dosen asing sehingga bisa masuk 50 besar dunia.

Kemenristekdikti saat ini memperkirakan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) sudah layak dipimpin rektor terbaik dari luar negeri. PTNBH juga diperkirakan layak berkolaborasi atau mengundang dosen luar negeri untuk mengajar dan meneliti. Sebab PTNBH memiliki ranking tertinggi di antara perguruan tinggi lain di Indonesia.

Wacana masuknya rektor asing memantik polemik di dalam negeri. Kelompok yang setuju menilainya positif sebab akan memacu semangat kompetisi di antara dosen untuk meningkatkan kualitas. Hanya target dan sistem evaluasi harus jelas sehingga tidak sekadar proyek prestisius, tanpa dampak apa-apa ke pendidikan nasional.

Kelompok yang kontra menilai wacana masuknya rektor asing bisa berefek negatif. Bagaimana nasionalisme yang bersangkutan, dan komitmennya untuk Indonesia. Belum lagi banyaknya aturan yang mesti ditabrak, sebab selama ini pemilihan rektor berdasarkan penjaringan dan kompetisi secara berjenjang.

Diharapkan wacana rektor asing ini tak perlu ditanggapi secara reaktif. Setelah membuat regulasi yang memungkinkannya, sebaiknya satu atau dua saja sebagai model. Jika ternyata memang melejitkan prestasi pendidikan Indonesia, barulah dievaluasi untuk ditambah beberapa kampus negeri lainnya.

Perlu dicatat, rektor bukanlah satu-satunya faktor yang membuat sebuah kampus berkualitas. Ada banyak aspek lainnya, seperti dosen, mahasiswa, kurikulum, fasilitas dan instrumen lainnya. Akan sia-sia mengundang rektor asing jika tak ada perbaikan menyeluruh sistem pendidikan nasional.

Jadi, sepanjang berdampak positif, boleh saja dicoba rektor asing memimpin satu atau dua PTN Indonesia. Biar semua kampus, baik swasta dan negeri ada yang bisa menjadi perbandingan. Dengan demikian pendidikan Indonesia bisa masuk 100 besar dunia, bahkan lebih hebat lagi. (**)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru