Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 05 Oktober 2026
Tajuk

Cegah Penyebaran Virus ASF

- Kamis, 19 Desember 2019 11:34 WIB
565 view
Cegah Penyebaran Virus ASF
kompas.com
Ilustrasi
Populasi babi di Sumatera Utara tercatat berjumlah 1,27 juta ekor berdasarkan statistik 2018. Populasi ini merupakan kedua terbesar setelah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berjumlah 2,43 juta ekor. Hingga 13 Desember lalu, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut mencatat jumlah kematian babi telah mencapai 27.070 ekor.

Laporan awal menyebutkan kolera babi (hog cholera) sebagai penyebab kematian, dengan virus African swine fever (ASF) masih dalam tahap indikasi. Kementerian Pertanian telah mengumumkan secara resmi terjadinya wabah tersebut akibat ASF. Kini FAO dilaporkan masih menyusun rekomendasi atas permintaan Indonesia.

ASF merupakan virus mematikan yang menyerang baik babi domestik maupun babi liar namun tidak menular pada manusia. Di Cina, setidaknya populasi babi berkurang 130 juta ekor atau 40 persen dari populasi total per September. Kondisi ini berdampak pada menurunnya pasokan dan kenaikan harga.

Sudah ada 11 negara Asia telah melaporkan wabah kematian babi akibat virus ASF. Pertama sekali dilaporkan menjangkiti peternakan di Cina pada Agustus 2018. Negara-negara yang terjangkit mencakup Mongolia, Korea Utara, Korea Selatan, Filipina, Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Timor Leste.

ASF dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Babi hutan telah diidentifikasi sebagai salah satu dari beberapa kemungkinan penyebab penyebarannya, serta dapat menyebar melalui serangga seperti kutu. Namun, virus ini juga dapat bertahan hidup beberapa bulan dalam daging olahan, dan beberapa tahun dalam daging babi beku.

Jelas, virus ASF sangat berbahaya bagi peternakan babi. Jika terjangkit virus tersebut dapat berakibat pada kesakitan dan kematian pada ternak babi dengan tingkat mencapai 100 persen. Dari sini bisa diprediksi semua babi di Sumatera Utara bisa mati akibat virus ini, apabila tak ada tindakan antisipatif.

Hingga kini belum ada vaksin yang efektif melawan virus ASF. Langkah yang paling efektif adalah mencegah babi yang sehat agar tak terkena virus. Kemudian yang teridentifikasi terkena, tak ada pilihan, selain memusnahkannya agar jangan menyebar ke yang lainnya.
Kita tak perlu khawatir dengan virus ASF ini akan menular ke manusia. Itu sebabnya tak perlu menyebarkan hoaks seolah berbahaya jika mengonsumsi dagingnya. Asal tentunya tetap memedomani cara memasak yang sehat dan benar.

Pemerintah diharapkan segera melakukan tindakan untuk mencegah meluasnya wabah ini. Peternak perlu diedukasi agar memahami apa sebenarnya yang terjadi. Bagaimanapun wabah ini telah memukul ekonomi masyarakat yang hidupnya selama ini tergantung dari peternakan babi. (**)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru