Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 05 Oktober 2026
Tajuk

Jaminan Keamanan Perayaan Natal

- Senin, 23 Desember 2019 11:43 WIB
411 view
Jaminan Keamanan Perayaan Natal
liputan6.com
Kapolri Jenderal Polisi Idham Aziz dan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto telah menegaskan agar anggotanya menjaga kekompakan saat mengamankan perayaan Natal 2019 dan malam Tahun Baru 2020 (Nataru).
Kapolri Jenderal Polisi Idham Aziz dan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto telah menegaskan agar anggotanya menjaga kekompakan saat mengamankan perayaan Natal 2019 dan malam Tahun Baru 2020 (Nataru). Jika tidak kompak, ada saja yang berusaha menyusup agar TNI Polri terpecah. Masih ada kelompok-kelompok radikal di Indonesia yang menginginkan adanya gangguan keamanan yang bisa memicu kerusuhan yang lebih besar.

Negara menaruh harapan besar terhadap TNI Polri agar Nataru terlaksana dengan aman, tertib, dan baik. Itu sebabnya gangguan sekecil apapun mesti diwaspadai dan diselesaikan dengan cepat. Misal masih ada di beberapa daerah yang muncul gerakan intoleran.

Perayaan Natal yang merupakan salah satu ekspresi kebebasan beribadah, dilarang di beberapa daerah. Memang tidak terjadi konflik horizontal, karena larangan itu tidak disikapi secara reaktif. Namun, jika dibiarkan bisa menjalar ke daerah lain dan memicu terjadinya gesekan.

Pemerintah daerah (Pemda) sebaiknya jangan berdalih atas larangan perayaan Natal tersebut. Meski itu merupakan sikap sekelompok masyarakat, negara tak bisa membiarkannya. Saat muncul ancaman kebebasan beribadah, maka Pemda harus berada di garis terdepan menghadapinya.

Pemda tak perlu takut sebab mereka bertindak atas nama konstitusi. Jangan lupa, TNI Polri ada bersama mereka setiap saat. Jadi jangan takut dengan kemungkinan teror atau perlawanan dari kelompok tertentu.

Pemerintah pusat harus berani menegur dan menindak Pemda yang gagal menjamin terselenggaranya kebebasan menjalankan kewajiban agama. Indonesia merupakan negara kesatuan, dan bukan federal. Meski ada keunikan suatu daerah, tetapi tetap harus patuh pada konstitusi.

Di sisi lain, masih adanya sikap intoleran terhadap perayaan Natal, harus menjadi pembelajaran bagi umat kristiani bagaimana hidup dalam berbangsa dan bernegara. Tak perlu reaktif dan melakukan perlawanan secara fisik. Serahkan kepada negara untuk bersikap dan bertindak sesuai konstitusi.

Rayakanlah Natal sesuai jiwa dengan semangatnya. Jangan dengan pamer kemewahan dan eksklusif. Natal bermakna berbagi bagi sesama, tanpa memandang agama. Perayaan Natal tidak hanya berliturgi secara seremonial saja, mari menyentuh masyarakat sekitar yang masih berkekurangan.

Besok sudah malam memasuki malam Natal. Tingkatkan kewaspadaan dengan memulai dari diri sendiri. Gereja tak boleh lengah dan jemaat harus rela sedikit repot manakala harus diperiksa sebelum beribadah.(**)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru