Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 05 Oktober 2026
TAJUK

Membangun Empati dari Fenomena Covid-19

Redaksi - Selasa, 07 April 2020 10:28 WIB
506 view
Membangun Empati dari Fenomena Covid-19
kabar banten
Ilustrasi
Fenomena Covid-19 menyentuh hampir semua sendi kehidupan manusia. Segala rencana pun berubah total demi mencegah wabah yang sudah meluas di lebih 200 negara, termasuk Indonesia.

Salah satu kegiatan besar umat Islam yakni bulan puasa Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) kali ini pun ikut terdampak. Idul Fitri 1 Syawal 1441 H (Lebaran 2020) diprediksi jatuh pada 24 Mei 2020. Sementara status tanggap darurat Covid-19 di Sumatera Utara berlaku hingga 29 Mei 2020. Artinya, Lebaran kali ini di tengah kondisi tanggap darurat, sehingga mudik pun terancam tak dilakukan warga.

Apalagi bulan suci Ramadan yang tinggal menghitung hari, diprediksi akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bulan mulia umat Islam ini biasanya diisi dengan salat tarawih, di mana hampir semua masjid dan musola disesaki jamaah yang ingin memperoleh pahala besar.

Namun kali ini diprediksi berbeda, karena untuk mencegah pandemi Covid-19, jamaah diimbau melaksanakan salat sunat itu di rumah saja.

Kondisi ini tentu akan membuat perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Sebagian memilih tetap melaksanakan salat tarawih berjamaah di masjid atau musola, sementara sebagian yang lain memilih di rumah saja karena tidak mau mengambil risiko tertular atau menularkan Covid-19.

Demikian juga Lebaran nanti, jauh hari Gubernur Sumut Edy Rahmayadi sudah meminta masyarakat di perantauan supaya tidak mudik dan warga yang ada di Sumut tidak ke luar. Dia juga meminta agar Lebaran nanti bersilaturahmi menggunakan teknologi internet, antara lain lewat video call atau media sosial lainnya. Katanya, ini untuk kebaikan bersama melindungi diri dan keluarga dari penyebaran Covid-19.

Suasana seperti ini tentu dianggap mengurangi "kenikmatan" Ramadan dan Lebaran tahun ini. Dan mungkin tidak semua masyarakat akan mematuhi imbauan pemimpinnya karena menganggap dirinya bakal tidak terinfeksi virus mematikan itu. Hal ini bisa dilihat dari postingan masyarakat di medsos maupun komentar-komentar di grup Whats App. Mereka bahkan terkesan hanya pasrah terhadap sang pencipta, tanpa mau berupaya mencegahnya dengan menjalankan social distance, physical distance atau aturan lainnya agar terhindar dari penularan virus.

Bahkan dalam menanggulangi penularan Covid-19 ini, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas sudah menyatakan, mudik atau pulang kampung saat pandemi hukumnya haram karena khawatir penularan virus dari satu daerah ke daerah lainnya. Katanya, salah satu tujuan diturunkannya Agama Islam oleh Allah SWT untuk menjaga dan melindungi jiwa manusia. Oleh karena itu, kalau kita akan melakukan suatu tindakan, tindakan itu tidak boleh mencelakakan diri sendiri atau orang lain.

Hal ini menunjukkan betapa keseriusan pemerintah dan ulama mengimbau masyarakat agar berperilaku disiplin dan mentaati aturan demi keselamatan jiwa manusia. Namun masih ada juga pro-kontra di masyarakat tentang upaya pencegahan itu.

Kondisi ini seharusnya menjadi evaluasi dan pembelajaran bersama, sehingga Covid-19 tidak hanya berdampak negatif dalam kehidupan masyarakat, tetapi juga menjadi hal yang positif.

Beberapa hal positif itu antara lain masyarakat bisa mengambil hikmah antara lain dengan terus menjaga kebersihan, pola hidup sehat, sederhana, cinta keluarga dan lain-lain. Satu hal yang paling penting, menumbuhkan rasa dan sikap empati yang tinggi dalam setiap individu.

Makna empati sebagai menempatkan diri di posisi orang lain inilah nilai paling tinggi dalam kehidupan manusia. Karena sebagai apapun dia; masyarakat, pemerintah, tokoh agama dan lainnya, bila sudah memiliki empati, pasti akan sangat menyayangi dan menghargai orang lain seperti kepada dirinya sendiri.

Dan dalam semua agama, nilai-nilai ini ada disampaikan.

Misalnya tentang imbauan tidak melakukan mudik pada Lebaran nanti, orang yang berempati pasti mampu dan mau mengurangi "kenikmatannya' demi keselamatan dirinya dan orang lain. Bahkan dengan berempati melaksanakan imbauan dengan tidak melakukan mudik, akan merasakan 'kenikmatan" lain sebagai pahlawan pemutus pandemi virus berbahaya.

Membangun ini tentu tidak mudah, tetapi harus terus-menerus dikembangkan dan diajarkan kepada masyarakat, sehingga ke depannya, apapun yang terjadi, akan mudah memecahkan suatu permasalahan, termasuk fenomena Covid-19. (***)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru