Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 05 Oktober 2026
TAJUK RENCANA

Berantas Mafia Impor Alkes dan Obat-obatan

Redaksi - Senin, 20 April 2020 10:18 WIB
556 view
Berantas Mafia Impor Alkes dan Obat-obatan
kompasiana.com
Ilustrasi
Wabah virus corona (Covid-19) selain membuat panik dan takut ternyata berhasil menguak berbagai hal, khususnya dalam penyediaan alat-alat kesehatan dan bahan baku obat-obatan dalam negeri. Menteri BUMN Erick Thohir sampai geram karena mafia kelas kakap ternyata ada di balik impor alat kesehatan dan obat-obatan Indonesia.

Mengagetkan memang, karena Indonesia yang kaya dengan sumber bahan baku obat-obatan dan kaya dengan plasma nutfah harus tergantung dengan bahan baku obat impor. Tidak tanggung-tanggung, sesuai data Gabungan Industri Farmasi Indonesia, sekitar 90-95 persen bahan baku obat-obatan adalah impor dan sebagian besar dari China. Sisanya diimpor dari India, Jepang dan beberapa negara Eropa. Nilai impornya pun tidak tanggung-tanggung, menyedot devisa 2,5-2,7 miliar dolar AS setiap tahun. Kalau dirupiahkan dengan kurs sekarang bisa mencapai sekitar Rp40 triliun setiap tahun.

Demikian halnya dengan alat kesehatan, kita juga sangat tergantung impor. Bayangkan saja, negara besar dengan penduduk kurang lebih 271 juta ini masih harus mengimpor masker, rapid test dan PCR yang sangat dibutuhkan di tengah mewabahnya Covid-19. Bagaimana pemerintah mau cepat mengantisipasi dan mencegah penyebaran Covid-19 kalau masker pun harus impor. Akibatnya menjadi barang langka dan mahal di pasar. Belum lagi peralatan laboratorium dan bahan kimia yang harus diimpor.

Wajar saja begitu Covid-19 mewabah, pemerintah kalang kabut mengatasinya karena memang peralatan sangat terbatas. Untuk kebutuhan dalam negeri saja belum ada kemandirian bagaimana pula mau memenuhi ekspor untuk mendapatkan devisa.

Pandemi Covid-19 ini tentu saja harus menjadi cambuk dan pelajaran berharga bagi kita, khususnya pemerintah. Kelalaian yang terjadi selama pemerintahan sebelum Jokowi harus diperbaiki dengan meningkatkan dana riset industri kimia dasar dan pembangunan industri farmasi sehingga negara kita bisa menyediakan bahan kimia untuk obat-obatan.

Sejarah sudah membuktikan bahwa dulu para penjajah berebut hasil kekayaan alam kita yang melimpah, termasuk rempah-rempah dan bahan obat-obatan. Bahkan resep-resep obat-obat tradisional herbal kita juga mereka bawa ke negaranya. Sementara kita masih terlena dengan bahan baku dan obat impor.

Ini membuktikan bahwa sampai saat ini kita juga masih "terjajah" karena untuk memenuhi bahan baku obat pun kita masih harus tergantung kepada negara lain. Sementara para mafia masih beraksi dengan praktik-praktik kotor agar kita tetap impor bahan baku itu, karena dengan impor itu mereka akan meraup keuntungan besar. Bahkan tidak jarang mereka justru melibatkan oknum kekuasaan yang haus dengan komisi (fee). Karena terlalu asyik dengan dagang dan komisi maka kita terlena dengan tidak membangun industri farmasi dan alkes.

Selain itu, akhirnya kita menjadi panik begitu kegiatan sektor perdagangan (ekspor/impor) terganggu dan terhenti akibat Covid-19. Impor bahan baku obat dari China terhenti maka produksi dan penyediaan obat dalam negeri pun terancam.

Syukurlah kita bisa terbangun dengan gebrakan Menteri Erick Thohir mengungkapkan keterlibatan mafia ini. Kita harapkan mafia ini bisa dihabisi dengan membangun industri farmasi dan riset yang kuat di dalam negeri mengingat kebutuhan obat-obatan sangat tinggi. Selain itu, inilah saatnya KPK dan Kejaksaan dilibatkan menjerat mafia ini sehingga kerugian negara dan rakyat dapat diselamatkan.

Hanya saja kita juga khawatir apakah bisa tuntas, mengingat kekuatan jaringan mafia biasanya sangat erat dan dekat dengan para pejabat pengambil keputusan seperti mafia migas di masa-masa sebelum pemerintahan Jokowi.

Namun mengingat Presiden Jokowi yang tidak punya beban lagi untuk maju pada periode selanjutnya, maka inilah saatnya aksi mafia ini diputus dan dibongkar dan dalangnya bisa diseret ke pengadilan. Dengan terbongkarnya mafia impor bahan baku obat dan alkes ini maka kita harapkan penyediaan obat dan alkes lebih terjamin dengan harga yang lebih murah dan efisien.

Semoga Menteri BUMN komit membantu aparat kejaksaan dan KPK menyeret para mafia ini ke pengadilan. (*)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru