Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 05 Oktober 2026

Menata Hidup Bersama Covid-19

Tajuk
Redaksi - Jumat, 24 April 2020 10:54 WIB
403 view
Menata Hidup Bersama Covid-19
suara.com
Ilustrasi
Dirjen WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) Tedros Adhanom dalam konprensi pers virtual di Jenewa Swiss, Kamis kemarin menyatakan bahwa virus corona (Covid-19) akan bersama kita untuk waktu yang lama. Berarti kita masih harus menempuh jalan panjang dan harus bisa bertahan hidup dengan Covid-19.

Covid-19 tidak akan habis dan kita pun tidak mau habis. Masyarakat pun harus disadarkan dan diedukasi dalam menata hidup yang baru bersama Covid-19. Kondisi saat ini sangat membosankan dan bisa membuat panik. Tetapi kita tidak boleh menyerah kepada musuh tak terlihat. Kalau tak bisa kita kalahkan maka kita harus bisa hidup bersama musuh. Berarti kita harus berubah dan menyesuaikan diri supaya bertahan hidup.

Protokol kesehatan "stay at home", berdiam diri di rumah disebut turut membantu mencegah penyebaran Covid-19, tapi sampai kapan? Secara lambat laun, kita tentu saja harus keluar dari kondisi ini, namun harus tetap menjaga diri dengan kebiasaan yang baru. Yang masih belum berubah kebiasaannya maka akan habis ditelan Covid-19.

Kita harus kerja, cari makan maka akan keluar dari persembunyian (rumah). Namun kebiasaan kita keluar dari rumah harus berubah, akan selalu pakai masker dan membawa hand sanitizer. Artinya, memakai masker akan menjadi kebiasaan normal yang baru. Maka akan berkembang inovasi model masker yang baru, sehingga tidak merubah penampilan meskipun wajahnya tertutup sebagian.

Kita juga akan terbiasa sering-sering mencuci tangan pakai sabun begitu sampai di rumah. Langsung ganti baju, mandi dan rutin pakai shampo. Maka shampo inovasi baru, tidak merusak rambut meskipun rutin dipakai, produksinya akan berkembang. Sedangkan di luar rumah kita akan sering-sering menggunakan hand sanitizer. Kita akan normal dengan kehidupan baru yang teratur, baik di rumah maupun di luar rumah, termasuk soal kebersihan, makan, tidur dan olah raga.
Demikian halnya kehidupan sosial yang tidak mungkin kita tinggalkan. Nantinya akan menjadi terbiasa (normal) jika ketemu tidak lagi bersalaman dan cipika cipiki.

Saat berjumpa akan terbiasa hanya dengan menundukkan kepala atau melipat tangan, baik dengan keluarga maupun dengan teman.
Dari segi ekonomi, tentu harus bergerak tetapi akan lebih banyak dikendalikan lewat internet.
Semua akan berjalan secara digital dan dikendalikan lewat internet. Perjalanan kita akan terpantau pemerintah melalui gawai. Bisnis dan perbankan juga akan dikendalikan lewat digital, sehingga kita akan terbiasa tanpa uang cash dan tidak perlu lagi ke bank, cukup lewat gadget.

Sektor-sektor lainnya seperti pendidikan, perdagangan, transportasi, keagamaan, pertahanan, keamanan pasti akan menemukan kehidupan normal yang baru. Misalnya, bus-bus antar kota dalam provinsi maupun luar provinsi hampir total berhenti saat pandemi ini. Apa ini akan dibiarkan jadi besi tua? Tentu saja tidak dan harus operasional kembali, tetapi penumpangnya harus dikurangi, pakai masker dan sebelum naik bus harus cuci tangan dan bus nya pun harus disemprot disinfektan. Ini akan menjadi kebiasaan normal.

Demikian halnya soal keagamaan. Akan menjadi kehidupan normal beribadah lewat saluran televisi secara langsung, padahal selama ini hal itu dianggap seperti tidak beribadah. Sama seperti kejadian di Eropa, gereja - gereja kosong bukan berarti mereka tidak beribadah. Mereka beribadah sambil berwisata, karena tidak ada lagi waktu khusus beribadah dan wisata karena kesibukan pekerjaan. Jadi beribadah sambil berwisata bakal menjadi kebiasaan hidup yang baru. Demikian halnya memasuki Ramadan 2020 ini, juga akan memasuki keadaan normal yang baru tanpa menghilangkan makna dan hikmahnya.

Termasuk sektor pendidikan yang pada awalnya sulit belajar secara daring, maka dengan kondisi ini akan memaksa terbiasa dengan sistem itu. Segala sektor akan terbiasa dengan gaya hidup yang baru. Mau tidak mau semua akan menerima kebiasaan yang baru ini dan tidak mungkin kembali kepada kehidupan normal yang lama. Baik di rumah tangga, sekolah, komunitas, rumah ibadah, pasar, transportasi dan lainnya.

Jangan lagi hanya berdiam diri menunggu berakhirnya pandemi Covid-19 ini. Semua harus bangkit dan lakukan penyesuaian diri dengan keadaan normal yang baru.
Selamat memasuki keadaan normal yang baru dan tetap berharap Covid-19 cepat berlalu.(*)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru