Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 05 Oktober 2026

Disiplin dan Kesadaran Kolektif

Tajuk
Redaksi - Rabu, 29 April 2020 13:10 WIB
466 view
Disiplin dan Kesadaran Kolektif
tribunnews.com
Ilustrasi
Sejumlah negara di Eropa dikabarkan mulai membuka lockdown, di antaranya Italia, Belanda, Jerman, Spanyol dan Prancis. Sementara Indonesia sesuai prediksi ilmuwan Singapura, baru mulai bebas dari virus Corona (Covid-19), Juni mendatang.
Prediksi itu adalah berdasarkan analisis statistik dari data-data pasien Covid-19 sejak ditemukan pertama kali di Indonesia 2 Maret 2020 dan diperkirakan sudah melewati titik balik yang titik puncaknya 20 April 2020 dengan 450 kasus baru dalam satu hari.

Dibanding dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura, Malaysia,Thailand dan Vietnam maka Indonesia tergolong terlama. Bahkan berada di peringkat 24 dari 27 negara yang data-data Covid-19 dianalisis.

Sampai saat ini vaksin atau pun obat untuk menghentikan serangan Covid-19 belum ditemukan. Jadi berakhirnya serangan Covid-19 di sejumlah negara bukan karena vaksin atau obat. Sehingga timbul pertanyaan, kenapa di negara lain bisa lebih cepat berakhir, sementara di Indonesia lambat?.

Sebagaimana diberitakan harian ini, Senin (27/04/2020), Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Letjen Doni Monardi menilai cepat atau lambatnya pandemi berakhir di Indonesia bergantung pada tingkat kedisiplinan masyarakat. Jadi kata kuncinya adalah disiplin pribadi, kesadaran kolektif dan gotongroyong.

Disiplin dan kesadaran bukan kata-kata yang baru kita dengar. Bahkan karena sering didengar mungkin jadi sering pula terabaikan. Inilah persoalan utama bangsa Indonesia selama ini. Padahal semua tahu bahwa kedua kata itulah kunci utama keberhasilan, bukan hanya menghadapi virus Corona tetapi dalam segala aspek kehidupan.

Bangsa dan negara kita tergolong memiliki kedisiplinan yang sangat rendah dibanding negara-negara lain. Jepang dan Singapura adalah dua negara yang tidak memiliki sumber kekayaan alam, tetapi merupakan negara maju karena disiplin. Diduga, disiplin lah kunci utama negara itu cepat mengatasi dan mengakhiri Covid-19.

Lantas apa yang harus dilakukan pemerintah? Presiden Jokowi menegaskan tidak akan memberlakukan lockdown, tetapi memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dengan tetap mengedepankan himbauan mematuhi protokol kesehatan.
Supaya Covid-19 ini cepat berakhir maka harus ada ketegasan pemerintah menegakkan disiplin. Tidak efektif lagi hanya himbauan karena jangankan himbauan pemerintah, perintah Tuhan saja pun sudah diabaikan banyak warga.

Mengharapkan kedisiplinan dan kesadaran warga saat ini jauh dari keniscayaan. Warga sudah terbiasa tidak berdisiplin, maka justru dianggap keanehan dan kebodohan jika berdisiplin. Padahal disiplin pribadi pun juga kurang efektif jika tidak dilakukan secara kolektif. Karena meskipun warga berdisiplin tetapi kalau tidak dilakukan kolektif maka warga yang disiplin pun akan menjadi korban karena ketidakdisiplinan warga lainnya.

Berbeda jika warga kita berkunjung ke Singapura dan Malaysia misalnya, warga kita malah sangat berdisiplin seperti warga mereka karena takut kena hukuman. Tetapi kenapa warga kita di dalam negeri sulit untuk berdisiplin? Jadi kata kunci untuk menegakkan disiplin adalah penegakan hukum yang tegas. Maka saatnya hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, sehingga bangsa dan negara cepat bebas dari Covid-19 dan ke depan menjadi negara maju, berbudaya, dan berdisiplin.(*)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru