Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 05 Oktober 2026
FOKUS

Jangan Putus Asa

Redaksi - Minggu, 17 Mei 2020 10:25 WIB
419 view
Jangan Putus Asa
wordpress
Ilustrasi
Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak beberapa bulan ini, selain mengakibatkan krisis kesehatan juga krisis keuangan, ekonomi, sosial budaya dan berbagai sisi kehidupan masyarakat lainnya. Jumlah penderita dan pasien meninggal dunia masih terus bertambah, demikian juga masyarakat yang terdampak.

Apalagi hari kemenangan Hari Raya Idul Fitri 1441 H sudah di ambang pintu, kebutuhan hidup dan silaturahmi juga bakal semakin meningkat. Sementara itu, kebijakan mudik juga masih dirasakan adanya kekurangtegasan pemerintah, sehingga kadang membingungkan masyarakat, apa bisa mudik atau tidak. Begitu dikasih sedikit kelonggaran, massa yang mau bepergian pun sudah membludak di Bandara Soetta tanpa memerdulikan physical distancing. Bahkan surat keterangan kesehatan bebas Covid-19 pun sudah diperjualbelikan secara online meskipun belum diketahui keasliannya.

Selain itu, pemerintah di tengah pandemi ini malah menaikkan kembali iuran BPJS Kesehatan yang sebelumnya sudah dibatalkan Mahkamah Agung. Memang, kondisi keuangan negara saat ini sudah sangat sulit. Apalagi dalam menangani virus corona ini, pemerintah membutuhkan uang dalam jumlah besar yang tidak berbunga, seperti iuran BPJS ini. Namun kenaikan iuran ini akhirnya akan membebani masyarakat terutama kalangan bawah.

Memang belum ada tanda-tanda kapan pandemi ini akan berakhir meskipun sejumlah prakiraan sudah disampaikan para ahli melalui survey dan data-data yang tersedia. Apalagi vaksin untuk mencegah dan membunuh virus ini, sampai saat ini belum juga ditemukan. Hal ini juga dibenarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Sehingga kalau virus corona bermutasi, maka kitalah yang harus siap beradaptasi.

Sudah terasa memang ada tanda-tanda kebosanan mengikuti anjuran pemerintah tentang protokol kesehatan. Jika masyarakat sampai tidak memedulikan protokol ini maka akan lebih berbahaya. Melihat tanda-tanda itu maka, dalam Doa Kebangsaan dan Kemanusiaan yang digelar virtual dan disiarkan langsung di kanal YouTube Kementerian Agama, Kamis (14/5/2020), Presiden Jokowi meminta masyarakat jangan sampai pesimis dan putus asa.

Doa kebangsaan dan kemanusiaan bersama tokoh lintas agama ini digelar bersamaan dengan Hari Doa dan Puasa Internasional yang meminta agar Tuhan mencabut Covid-19 di seluruh dunia. Semua umat diajak berdoa bersama, termasuk di Sumatera Utara agar pandemi ini cepat berlalu.

Kalau pak Jokowi minta agar rakyat tidak pesimis dan tidak putus asa, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi dalam doa bersama ini kelihatannya pasrah saja sama Tuhan. Menurutnya, virus ini adalah makhluk Tuhan , ciptaan Tuhan. Berarti ini semua adalah kehendak Tuhan. Menurutnya kita berusaha, tetapi hanya Tuhanlah yang bisa mengakhiri pandemi Covid-19 ini.

Dari pernyataan Presiden dan Gubernur Sumut ini terasa ada nada keputusasaan dalam penanganan pandemi ini. Padahal yang perlu dalam penanganan Covid-19 ini adalah kesadaran akan tugas dan fungsi masing-masing, yaitu pemerintah melindungi warga secara luas, tokoh lintas agama mendoakan agar para ilmuwan segera menemukan vaksin dan menyampaikan ajaran Tuhan untuk dipatuhi masyarakat. Sementara tugas masyarakat adalah mematuhi aturan Tuhan dan pemerintah.

Sampai saat ini belum diketahui apakah virus ini ciptaan Tuhan atau buatan manusia. Apa Tuhan sekejam itu mau menghukum manusia ciptaannya?. Atau apakah ini terjadi karena kesalahan dan ketelodoran manusia? Ini pun belum terjawab.

Namun sebagai mahluk berakal budi, maka kita pantang menyerah. Kita harus berakal mencegah dan menghindari serangan Covid-19, baik sebelum maupun nanti setelah vaksinnya ditemukan. Intinya, kita harus bisa beradaptasi agar terhindar dari serangannya.
Caranya, ayo ikuti apa yang disampaikan Presiden Jokowi. Harus disiplin. Disiplin dalam menjaga kesehatan, disiplin dalam meningkatkan imunitas, disiplin untuk mencuci tangan pakai sabun, disiplin untuk menjaga jarak yang aman, disiplin untuk memakai masker, disiplin untuk tidak mudik, disiplin bekerja di rumah, disiplin sekolah dari rumah dan disiplin beribadat di rumah. Semuanya itu membutuhkan kesabaran.

Sebagai umat beragama, doa memang wajib, namun dikabulkan atau tidak itu adalah urusan Tuhan. Sedangkan berdisiplin dan sabar adalah urusan manusia. Jadi adaptasi kita adalah dengan berdisiplin. Bagi yang berdisiplin dan sabar pasti akan bisa melalui wabah ini. Mau disiplin atau menyepelekannya, tergantung pilihan kita. Mudah bukan?. (*)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru