Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 03 Oktober 2026

Sumpah Pemuda Tetap Jadi Pemersatu

Redaksi - Rabu, 28 Oktober 2020 11:37 WIB
1.122 view
Sumpah Pemuda Tetap Jadi Pemersatu
Internet
Ilustrasi
Tanggal 28 Oktober 2020 diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda ke-92. Ada makna mendalam bagi sejarah bangsa ini dalam isi Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada 1928, yakni ikrar bertanah air satu, berbangsa satu dan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda tercetus dalam Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Namun dua tahun sebelumnya, seperti diungkap Sudiyo lewat buku Perhimpunan Indonesia sampai dengan Lahirnya Sumpah Pemuda (1989), telah dilakukan Kongres Pemuda I mulai 30 April hingga 2 Mei 1926 di Batavia (Jakarta).

Kongres Pemuda I atau Kerapatan Besar Pemuda dihadiri perwakilan dari perhimpunan pemuda/pemudi termasuk Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Studerenden Minahasaers, Jong Bataks Bond, Pemuda Kaum Theosofi, dan masih banyak lagi.

Tujuan Kongres Pemuda I, antara lain mencari jalan membina perkumpulan pemuda yang tunggal, yaitu dengan membentuk sebuah badan sentral dengan maksud memajukan persatuan dan kebangsaan Indonesia. Lalu, demi menguatkan hubungan antara sesama perkumpulan pemuda kebangsaan di tanah air.

Namun, Kongres Pemuda I diakhiri tanpa hasil memuaskan bagi semua pihak. Setelah itu, digelar lagi beberapa pertemuan demi menemukan kesatuan pemikiran.

Maka disepakati Kongres Pemuda II yang dilangsungkan pada 27 dan 28 Oktober 1928 di Batavia. Tujuan Kongres Pemuda II antara lain: (1) Melahirkan cita-cita semua perkumpulan pemuda-pemuda Indonesia, (2) Membicarakan beberapa masalah pergerakan pemuda Indonesia; serta (3) Memperkuat kesadaran kebangsaan dan memperteguh persatuan Indonesia.

Kongres ini diikuti lebih banyak peserta dari kongres pertama, termasuk Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Katholikee Jongelingen Bond, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun dan lainnya.

Hadir pula beberapa perwakilan dari pemuda peranakan kaum Tionghoa seperti Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie.

Gedung yang menjadi tempat dibacakannya Sumpah Pemuda merupakan rumah pondokan atau asrama pelajar/mahasiswa milik seorang keturunan Tionghoa bernama Sie Kok Liong. Gedung yang terletak di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat, kini diabadikan sebagai Museum Sumpah Pemuda.

Setelah melalui prosesi panjang selama 2 hari, maka pada 28 Oktober 1928, para peserta Kongres Pemuda II bersepakat merumuskan tiga janji tadi yang kemudian disebut sebagai Sumpah Pemuda.

Menurut Azyumardi Azra, seperti dikutip Asvi Warman Adam dalam buku Menguak Misteri Sejarah (2010), Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda merupakan salah satu tonggak sejarah bangsa Indonesia dalam mengawali kesadaran kebangsaan.

Sementara dalam buku Literasi Politik (2019) yang ditulis Gun Gun Heryanto dan kawan-kawan diungkapkan, bahwa ikrar sebagai satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa merupakan ikrar yang sangat monumental bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Ikrar ini atau Sumpah Pemuda yang dibacakan di arena Kongres Pemuda II dan dihadiri kaum muda lintas suku, agama, dan daerah, pada 17 tahun kemudian, melahirkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada 17 Agustus 1945.

Makna yang terkandung adalah bahwa peristiwa bersejarah itu mengajarkan nilai-nilai persatuan bangsa. Sumpah Pemuda membuktikan, perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia ternyata dapat disatukan sebagai perwujudan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu".

Sumpah Pemuda juga memuat banyak nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai patriotisme, gotong-royong, musyawarah untuk mufakat, cinta tanah air, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan, kerukunan, kerja sama, cinta damai, serta tanggung jawab.

Maka, Sumpah Pemuda hendaknya bisa dijadikan sebagai inspirasi bagi generasi muda Indonesia sekarang untuk membawa negara ini ke arah perubahan yang lebih baik, bukan justru terpecah-belah dalam pusaran konflik antar sesama anak bangsa sendiri.

Situasi dan kondisi bangsa saat ini, dimana banyak pihak yang lebih mementingkan golongan, sangat tepat menjadikan Sumpah Pemuda sebagai bahan mengevaluasi diri agar kita tetap kompak dan bersatu. Perjuangan pendahulu kita mencetuskan Sumpah Pemuda jangan sia-sia karena egoisme dan kepentingan. Sumpah Pemuda harus jadi pemersatu, dan bila mau maju kita semua harus bersatu. (***)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Rantauprapat Diselimuti Asap Lagi

Rantauprapat Diselimuti Asap Lagi

Rantauprapat(harianSIB.com)Kota Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, kembali diselimuti kabut asap, Jumat (2/10/2026). Kondisi tersebut memb