Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 03 Oktober 2026

Perayaan dengan Keteladanan

Redaksi - Sabtu, 31 Oktober 2020 10:46 WIB
680 view
Perayaan dengan Keteladanan
Surya.co.id
ilustrasi
Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal penanggalan Hijriah (tahun ini berlangsung sebulan penuh mulai 29 Oktober) diperingati mayoritas umat muslim di dunia, termasuk Indonesia.

Meski saat zaman kenabian peringatan Maulid belum dilakukan, namun saat ini menjadi perayaan besar yang diselenggarakan banyak umat di seluruh dunia.

Dalam Peringatan Maulid Nabi (Tinjauan Sejarah dan Tradisinya di Indonesia) yang ditulis Moch Yunus disebutkan, perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam beberapa waktu setelah Nabi Muhammad wafat.

Peringatan tersebut bagi umat muslim merupakan penghormatan dan pengingatan kebesaran dan keteladanan Nabi Muhammad SAW dengan berbagai bentuk kegiatan budaya, ritual dan keagamaan.

Momentum peringatan Maulid Nabi juga menjadi penyemangat untuk menyatukan semangat dan gairah keislaman.

Perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW di bangsa Arab, menurut catatan Ahmad Tsauri dalam Sejarah Maulid Nabi (2015), sudah dilakukan masyarakat muslim sejak tahun kedua hijriah.

Kala itu seorang bernama Khaizuran (170 H/786 M) yang merupakan ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad di Masjid Nabawi.

Dari Madinah, Khaizuran juga menyambangi Makkah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk Makkah.

Jika di Madinah bertempat di masjid, Khaizuran memerintahkan kepada penduduk Makkah untuk merayakan Maulid di rumah-rumah mereka.

Khaizuran merupakan sosok berpengaruh selama masa pemerintahan tiga khalifah Dinasti Abbasi yah, yaitu pada masa Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas (suami), Khalifah al-Hadi dan Khalifah al-Rasyid (putra).

Karena pengaruh besarnya tersebut, Khaizuran mampu menggerakkan masyarakat muslim di Arab. Hal ini dilakukan agar teladan, ajaran, dan kepemimpinan mulia Nabi Muhammad bisa terus menginspirasi warga Arab dan umat Islam.
Selain itu hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dapat dihidupkan umat Islam dengan semangat juang dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka.

Seorang jenderal dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara Irak saat ini) yang dikenal sebagai Salahuddin Ayyubi (masa kekuasaan 1174 M - 4 Maret 1193 M) mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini dirayakan secara massal.

Salahuddin ingin agar perayaan Maulid Nabi menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia dengan tujuan meningkatkan semangat juang, bukan sekadar perayaan ulang tahun biasa.

Namun gagasan Salahuddin tentang Peringatan Maulid Nabi (35-41) ditentang oleh para ulama, sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul fitri dan Idul Adha.

Salahuddin menegaskan, perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang. Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah An-Nashir di Bagdad, ternyata khalifah setuju.

Maka pada ibadah haji bulan Zulhijjah 579 Hijriyah (1183 Masehi), Sultan Salahuddin al-Ayyubi sebagai penguasa Haramain (dua tanah suci Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 Masehi) tanggal 12 Rabiul-Awwal dirayakan sebagai Hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Hingga saat ini pula, khususnya di Indonesia, peringatan Maulid Nabi semakin berkembang dengan berbagai kegiatan untuk meningkatkan iman dan takwa serta ilmu umat. Awalnya sekadar ceramah ustadz atau ulama, kini sudah berkembang menjadi berbagai kegiatan MTQ, cerdas cermat, lomba adzan, seni kaligrafi bagi anak-anak remaja, bahkan kegiatan sosial.

Malah di berbagai daerah sudah mentradisi kegiatan silaturahmi dan perayaan lainnya. Seperti Kenduri Maulid di NAD, di mana setiap warga membawa makanan dari rumah untuk makan bersama di masjid, sekalian mendengarkan ceramah mubaligh. Begitu juga di berapa daerah lain merayakannya dengan nama dan cara berbeda.

Semua itu sangat baik untuk menambah iman, takwa, ilmu dan keterampilan umat Islam sebagai meneladani Nabi Muhammad SAW. Seiring dengan perkembangan zaman yang terus dinamis, keteladanan Rasulullah SAW pun tak akan luntur, bahkan diharapkan semakin baik. (***)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Rantauprapat Diselimuti Asap Lagi

Rantauprapat Diselimuti Asap Lagi

Rantauprapat(harianSIB.com)Kota Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, kembali diselimuti kabut asap, Jumat (2/10/2026). Kondisi tersebut memb