Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 03 Oktober 2026

Menjaga Kerukunan

Redaksi - Kamis, 05 November 2020 11:46 WIB
1.576 view
Menjaga Kerukunan
Internet
Ilustrasi
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang dikaruniai Tuhan memiliki banyak keberagaman. Beragam etnis, suku, budaya, bahasa dan agama. Apalagi negara ini terdiri dari ribuan pulau yang kecil-kecil dikelilingi samudera luas, nyaris tidak ada bandingannya di dunia.

Di satu sisi keberagaman ini merupakan kekayaan dan keuntungan, namun di sisi lain bisa juga menjadi bumerang karena banyaknya perbedaan. Jika salah-salah menata dan merawatnya, maka bukan tidak mungkin negara ini menjadi terpecah-pecah. Negara besar saja seperti Uni Soviet bisa terpecah-pecah pada Desember 1991, salah satu pemicunya juga karena keberagaman dan kurangnya nasionalisme.

Demikian halnya Indonesia, jika perbedaan dalam keberagaman yang ditonjolkan dan ditambah egoisme kalangan mayoritas yang selalu merasa benar sendiri, maka bisa memicu perpecahan. Terutama menyangkut agama dan aliran kepercayaan, jika tidak bisa saling menerima dan merasa hanya agama dan aliran kepercayaanya yang benar maka bakal terjadilah perpecahan.

Sebagai bangsa besar di dunia, baik wilayah dan jumlah penduduk, keberagaman ini sebenarnya merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dunia tentu sangat meminati keberagaman budaya, etnis, sejarah agama dan penginjilan, kuil, candi, serta peninggalan leluhur sebagai objek wisata. Sehingga bisa dimanfaatkan sebagai destinasi wisata untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya. Di samping itu, hasil seni budaya masing-masing daerah juga bisa bermanfaat menjadi komoditi atau produk untuk diperdagangkan.

Sayangnya potensi keberagaman itu sering terlupakan sehingga yang lebih menonjol adalah perbedaan, terutama menyangkut agama dan kepercayaan. Padahal seharusnya keduanya merupakan hak yang paling hakiki yang dimiliki warga dan tidak bisa diganggu gugat, bahkan harus dilindungi oleh negara.

Melihat banyaknya keberagaman itu, maka kita bersyukur memiliki Pancasila sebagai dasar negara yang menjadi pemersatu di antara perbedaan itu. Dan semua perbedaan itu sudah dapat diterima dan jelas tertera dan sudah terkandung dalam lambang negara yang tergantung di dada Burung Garuda yaitu "Bhinneka Tunggal Ika" (Berbeda-beda tetapi tetap satu).

Seiring dengan perkembangan zaman ditambah dengan era digitalisasi, maka pengaruh globalisasi tidak terhempang lagi. Hal itu juga diduga turut menggerus nilai-nilai nasionalisme yang dianut masyarakat Indonesia selama ini. Sehingga mau tidak mau, nilai-nilai nasionalisme dengan menerima keberagaman itu harus terus dirawat sehingga tidak sampai menimbulkan perpecahan.

Di samping kehadiran BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila) yang dipimpin mantan Presiden Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah, maka kehadiran FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) juga sangat diharapkan perannya untuk merawat keberagaman itu, khususnya terkait kerukunan umat beragama hingga ke akar rumput. Apalagi, pemerintah juga tetap mendanai kegiatan FKUB ini sebagaimana disampaikan Mendagri Tito Karnavian agar setiap Pemda menganggarkan hibah untuk FKUB.

Diharapkan FKUB ini, mulai dari pusat hingga daerah berperan aktif untuk mencegah jangan sampai terjadi konflik di masyarakat karena perbedaan agama. Pemimpin agama harus memberikan pencerahan kepada umat/jemaat bahwa keberagaman itu adalah anugerah Tuhan, bukan hanya untuk satu agama tetapi untuk semua agama. Sehingga jika umat sudah memahami itu, maka sikap permusuhan sesama umat beragama sudah pasti terhindarkan.

Jangan sampai warga beragama tetapi tidak ber-Tuhan. Tuhan tentu tidak pernah mengajarkan untuk bermusuhan, tetapi untuk saling bersaudara dan saling menolong. Jika kita menginginkan orang lain mengikuti agama kita maka berilah teladan dan contoh yang baik sebagaimana diajarkan agama masing-masing, bukan malah memusuhi, membenci dan menghasut umat yang tidak seagama dengan kita.

Selain itu, sesama pemimpin agama juga harus sering-sering bertemu menyatukan sikap dan langkah bagaimana meningkatkan kerukunan sesama umat beragama yang ada di Indonesia. Pemimpin umat harus saling bergandengan tangan, bahu membahu merawat persaudaraan, sehingga umat yang melihatnya juga akan saling bergandengan tangan di bawah. Karena negara ini adalah rumah kita bersama yang harus kita jaga dan rawat bersama. (*)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Rantauprapat Diselimuti Asap Lagi

Rantauprapat Diselimuti Asap Lagi

Rantauprapat(harianSIB.com)Kota Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, kembali diselimuti kabut asap, Jumat (2/10/2026). Kondisi tersebut memb