Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 03 Oktober 2026

Vaksin dan Keyakinan Masyarakat

Redaksi - Jumat, 20 November 2020 10:44 WIB
517 view
Vaksin dan Keyakinan Masyarakat
Foto:Ist /Istimewa
Ilustrasi vaksin Covid-19. 
Hingga saat ini masih banyak masyarakat yang ragu dengan rencana vaksinasi Covid-19 yang diperkirakan mulai dilakukan pada akhir 2020 atau awal 2021. Keraguan berupa kehalalan dan keampuhan vaksin karena banyaknya berita dan isu yang menyatakan vaksin berisiko buruk bagi kesehatan.

Keberanian Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyatakan siap menjadi orang yang pertama kali divaksinasi corona merupakan sebuah langkah tepat untuk meyakinkan masyarakat. Karena vaksin memang sudah diuji sesuai standar WHO dan ketentuan lainnya.

Dengan pernyataan Jokowi ini diharapkan kesadaran dan keinginan masyarakat untuk divaksin semakin tinggi. Masyarakat sudah percaya bahwa vaksin itu aman, karena orang namor satu Indonesia saja berani duluan divaksin. Bahkan setelah ini masyarakat diharapkan akan berbondong berharap lebih duluan divaksin supaya terhindar dari virus mematikan itu.

Sementara Jokowi mengungkapkan, para dokter hingga tenaga medis juga akan menjadi prioritas.

"Yang akan divaksin pertama adalah nanti tenaga kesehatan, mulai dari dokter, para perawat dan juga tenaga medis, para medis yang ada. Itu yang diberikan prioritas," kata Jokowi.

Selanjutnya, prajurit TNI dan anggota Polri, ASN untuk pelayanan publik yang ada di depan hingga guru.
Sebelumnya Kementerian Kesehatan bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dengan dukungan UNICEF dan WHO melakukan survei nasional tentang penerimaan vaksin Covid-19. Hasilnya tigaperempat responden menyatakan telah mendengar tentang vaksin Covid-19.

Lalu duapertiga responden menyatakan bersedia menerima vaksin Covid-19. Namun demikian, tingkat penerimaan berbeda-beda di setiap provinsi. Hal ini dilatarbelakangi oleh status ekonomi, keyakinan agama, status pendidikan, dan wilayah.

Survei berlangsung pada 19-30 September 2020 dengan tujuan untuk memahami pandangan, persepsi, serta perhatian masyarakat tentang vaksinasi Covid-19. Pada pelaksanaannya, survei tersebut mengumpulkan tanggapan lebih dari 115 ribu orang dari 34 provinsi yang mencakup 508 kabupaten/kota atau 99 persen dari seluruh kabupaten/kota.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi menjelaskan, pada kelompok masyarakat dengan informasi yang lebih banyak seputar vaksin misalnya, mereka cenderung akan menerima pemberian vaksin Covid-19.

Hal yang sama juga terjadi pada responden dengan kepemilikan asuransi kesehatan, sebagian besar dari mereka lebih mungkin menerima vaksin Covid-19. Ini menegaskan bahwa saat ini masih dibutuhkan informasi yang akurat tentang vaksin Covid-19.

Survei menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia telah mendengar tentang vaksin Covid-19 dan bersedia menerimanya.
Sementara itu, hasil survei menunjukkan adanya kelompok yang ragu dan sebagian kecil yang menolak. Dari tujuh persen responden yang menolak, menyebutkan faktor keamanan, efektivitas, serta kehalalan vaksin sebagai faktor pertimbangan mereka.

Dari segi geografis, Provinsi Papua melaporkan tingkat penerimaan vaksin paling tinggi dengan 75 persen, kemudian diikuti Jawa dan Kalimantan. Provinsi Aceh memiliki tingkat penerimaan terendah dengan 46 persen. Selain Aceh, daerah dengan penerimaan terendah terdapat di Pulau Sumatera, Sulawesi dan Maluku.

Dari hasil survei itu bisa dilihat bahwa persoalan kehalalan menjadi faktor penting sebagai penentu tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin. Lihat saja Provinsi Aceh dan Pulau Sumatera yang masyarakatnya dikenal fanatik religius menjadi daerah dengan penerimaan terendah. Untuk ini diperlukan pendekatan komunikasi yang lebih baik kepada masyarakatnya. Keterlibatan ulama dan tokoh masyarakat masih menjadi penentu.

Kita berharap kesediaan Presiden Jokowi sebagai orang pertama yang divaksin corona menjadi langkah awal yang baik untuk mengakhiri pandemi Covid-19 di negeri ini. Bila kepercayaan masyarakat dengan vaksinasi semakin tinggi, tentu ada persoalan baru yang muncul yakni ketersediaan vaksin yang terbatas. Belum semua masyarakat Indonesia bisa divaksin. Untuk menghindari anggapan diskriminatif, perlu secepatnya usaha menyediakan vaksin mencukupi kebutuhan seluruh masyarakat.

Persoalan pandemi Covid-19 memang sangat berat bagi siapapun. Tapi tidak ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan, asalkan semua pihak sungguh-sungguh ingin merubah keadaan menjadi lebih baik. Setiap orang mempunyai tanggung jawab masing-masing dan harus tetap melakukan protokol kesehatan.(***)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Rantauprapat Diselimuti Asap Lagi

Rantauprapat Diselimuti Asap Lagi

Rantauprapat(harianSIB.com)Kota Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, kembali diselimuti kabut asap, Jumat (2/10/2026). Kondisi tersebut memb