Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 17 Juni 2026

Kabar Baik Bagi Guru Honorer

Redaksi - Minggu, 22 November 2020 11:21 WIB
747 view
Kabar Baik Bagi Guru Honorer
Dok. Kemendikbud
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. 
Keluhan para guru-guru honorer, dosen dan tenaga pendidikan non-PNS dari sekolah maupun PTN/PTS akhirnya disahuti pemerintah. Sehingga tidak lagi hanya karyawan swasta berpenghasilan di bawah Rp5 juta yang mendapatkan BLT (Bantuan Langsung Tunai) pemerintah berupa subsidi gaji, tetapi juga para tenaga pendidik non-PNS itu.

Kabar gembira terkait subsidi gaji sebesar Rp1,8 juta yang akan diberikan sekaligus itu secara langsung sudah disampaikan Mendikbud Nadiem Makarim saat mengikuti rapat kerja di Komisi X DPR RI yang ditayangkan secara virtual, Senin (16/11/2020). Sehingga para tenaga honorer dan tenaga pendidik lainnya tidak perlu meragukannya tetapi wajib mensyukurinya.

Sesuai data yang ada, total tenaga dan guru honorer yang diusulkan untuk mendapatkan subsidi gaji itu sebanyak 2.034.732 orang. Terdiri dari dosen, guru dan tenaga pendidik, tenaga honorer perpustakaan, tenaga laboratorium, dan tenaga administrasi di semua sekolah dan pada PTN dan PTS. Total anggaran yang diusulkan mencapai Rp3,6 triliun.

Melihat angka-angka yang diusulkan menerima subsidi gaji itu, maka yang mendominasi adalah guru honorer sejumlah 1,6 juta orang. Suatu angka vantastis yang diperkirakan terus bertambah, padahal hampir setiap tahun pemerintah merekrut tenaga guru PNS sesuai kebutuhan daerah. Sehingga timbul kecurigaan, jangan-jangan penyediaan guru-guru honorer ini bukan karena kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak, tetapi jadi ajang KKN oleh pejabat yang berwenang.

Dalam kaitan ini, maka perlu kembali penataan jumlah dan penempatan guru-guru PNS di setiap sekolah. Jangan sampai para guru menumpuk di satu sekolah, sementara di sekolah lainnya sangat minim. Hal ini memberi kesempatan bagi kepala sekolah dan pejabat berwenang untuk mengangkat guru dan tenaga pendidik honorer sesuka hatinya.

Hal ini sering ditandai dengan banyaknya mutasi atau perpindahan guru dari desa dan daerah-daerah terpencil/terisolir ke perkotaan. Seharusnya mutasi itu bisa dilakukan dengan melihat kebutuhan guru dan siswa di satu sekolah. Anehnya, meskipun di satu sekolah ada kekurangan guru, mutasi tetap juga terlaksana.

Dalam kaitan ini maka ke depan, sebaiknya mutasi guru dan tenaga pendidik PNS dikesampingkan demi menjaga ketersediaan guru di satu sekolah. Sekaligus juga memperkecil pengangkatan guru honorer yang bisa membebani anggaran negara. Apalagi sudah menjadi ketentuan bahwa mereka bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia.

Selain itu, pemberian bantuan subsidi gaji ini diharapkan dapat memberi kegairahan bagi para guru dan tenaga pendidik honorer dalam melaksanaka tugas-tugasnya. Jangan hanya mengeluh saja kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Tunjukkanlah prestasi dan baktimu untuk mendidik para siswa yang tidak tersentuh guru PNS, sehingga pada akhirnya guru honorer dapat dipertimbangkan menjadi guru PNS.

Demikian halnya tenaga-tenaga dosen, tenaga laboratorium, tenaga perpustakaan lainnya yang masih honorer. Mari sama-sama menunjukkan prestasi meningkatkan mutu pendidikan dan mutu lulusan secara terukur. Jika hal itu berhasil dilakukan maka sebaiknya mereka juga diangkat jadi PNS.

Kedepan kita harapkan semua yang honorer-honorer ini dapat diseleksi ketat dan diutamakan untuk diangkat jadi PNS. Yang tidak memenuhi kualifikasi maka sebaiknya diberhentikan saja. Semua tenaga pendidikan sebaiknya diisi guru dan dosen PNS, sehingga tidak memberi kesempatan lagi mengangkat keluarga dan kroni-kroninya menjadi tenaga honorer.

Jika tenaga-tenaga honorer yang direkrut bukan karena kebutuhan dan kemampuan tetapi karena KKN masih tetap dipertahankan menjadi guru dan tenaga pendidik, maka sudah bisa dibayangkan bagaimana kualitas lulusan siswa dan mahasiswa kita. Akhirnya rencana jangka panjang "Indonesia Maju" duapuluh lima tahun lagi tidak akan tercapai jika kualitas sumber daya manusia kita tidak berkualitas. (*)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru