Baku Tembak Antarsuku di Papua Nugini, 64 Orang Tewas


217 view
Baku Tembak Antarsuku di Papua Nugini, 64 Orang Tewas
(Foto: Tangkapan layar-abc.net.au)
BERJAGA-JAGA: Petugas polisi berjaga-jaga di dekat kota Wabag, setelah 64 mayat berlumuran darah (kanan bawah diblur) ditemukan di dataran tinggi Papua Nugini, Minggu (18/2). 
Port Moresby (SIB)
Bentrokan antara suku-suku yang melibatkan baku tembak terjadi di daratan tinggi Papua Nugini. Sedikitnya 64 orang ditemukan tewas berlumuran darah di lokasi bentrokan sengit tersebut.
Asisten Komisioner Kepolisian Papua Nugini, Samson Kua, dalam pernyataan seperti dilansir AFP, Senin (19/2), melaporkan bahwa puluhan jenazah ditemukan setelah apa yang diyakini sebagai aksi penyergapan antarsuku terjadi pada Minggu (18/2) dini hari waktu setempat.
Bentrokan antarsuku itu dilaporkan terjadi di dekat kota Wabag, yang berjarak sekitar 600 kilometer sebelah barat laut ibu kota Port Moresby.
“Kami meyakini masih ada beberapa jenazah... di luar sana di semak-semak,” ucap Kua saat berbicara kepada AFP.
Kepolisian setempat menerima sejumlah foto dan video mengerikan yang diklaim diambil dari lokasi kejadian. Foto dan video mengerikan itu menunjukkan jenazah-jenazah dalam keadaan telanjang dan berlumuran darah tergeletak di pinggir jalanan, ada juga yang ditumpuk di belakang truk bak terbuka.
Bentrokan ini diduga masih berkaitan dengan konflik yang terjadi antara suku Sikin, Ambulin dan Kaekin yang ada di dataran tinggi Papua Nugini.
Klan-klan dataran tinggi disebut telah saling berperang selama berabad-abad di Papua Nugini. Namun masuknya pasokan senjata otomatis menjadikan bentrokan lebih mematikan dan semakin meningkatkan siklus kekerasan.
Dalam pernyataannya, Kua menyebut para anggota kelompok suku yang terlibat bentrok menggunakan berbagai jenis persenjataan modern, mulai dari senapan SLR, Ak-47, M4, AR15 hingga M16, serta shotgun pump-action dan senjata api rakitan.
Diyakini bahwa pertempuran masih berlangsung di area-area pedesaan terpencil di dekat Wabag.
Dataran tinggi Papua Nugini sering menjadi lokasi bentrokan antarsuku, dengan sejumlah pembunuhan massal terjadi beberapa tahun terakhir. Pemerintahan Port Moresby berupaya menekan, memediasi, memberikan amnesti dan mengerahkan strategi lainnya untuk meredakan tindak kekerasan itu, namun tidak berhasil.
Militer Papua Nugini mengerahkan sekitar 100 tentaranya ke area tersebut, namun peran mereka terbatas dan pasukan keamanan masih kalah jumlah dan persenjataan.
Pembunuhan seringkali terjadi di komunitas-komunitas terpencil, dengan anggota-anggota suku melancarkan serangan atau penyergapan sebagai balas dendam atas serangan sebelumnya. Warga-warga sipil, termasuk wanita hamil dan anak-anak, telah menjadi target di masa lalu.
Pembunuhan yang terjadi seringkali sangat kejam, dengan para korban dibacok dengan parang, dibakar, dimutilasi atau disiksa.
Kepolisian setempat, secara pribadi, mengeluhkan bahwa mereka tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menjalankan tugas pengamanan, karena para personelnya dibayar sangat rendah sehingga beberapa senjata milik kepolisian berakhir di tangan para anggota suku yang berkonflik.
Oposisi dari pemerintahan Perdana Menteri (PM) James Marape menyerukan pada Senin (19/2) agar lebih banyak polisi dikerahkan dan menuntut komisioner pasukan keamanan untuk mengundurkan diri. (**)
Penulis
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com