Kisah Anita Octalia Bertahan Melestarikan Tari Tradisional


197 view
Foto Dok
Anita Octalia
Di tengah modernitas saat ini, masih ada sosok yang setia melestarikan kesenian tradisional. Dia adalah Anita Octalia Susanto, penari tradisional asal Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Anita bercerita, mulai belajar menari sejak kelas satu SD. "Itu dulu waktu SD ikut ekstrakulikuler tari, lalu pas kelas 4 guru tari meninggal. Itu membuat saya bingung mau latihan di mana lagi, karena gak ada kenalan sanggar-sanggar," ungkapnya, Kamis (24/9).

"Baru saat 2017, saya kuliah semester 3 ini menemukan sanggar Sardulo Djojo, dan akhirnya bisa latihan menari lagi," sambung perempuan 23 tahun ini.

Anita juga bercerita, alasan dia menari karena suka dan ingin melestarikan budaya. "Juga kalau saya lihat minat bakat saya ada di situ," ucapnya yakin.

Dia bahkan tidak tertarik untuk berlatih tari kontemporer atau tari modern. "Saya yang lebih utama itu tari tradisional, karena setiap orang ada yang bisa luwes atau kaku. Saya juga tidak latihan tari kontemporer dan modern, hanya tradisional saja," ujarnya.

Biasanya, mahasiswa semester 7 UIN Malang ini berlatih Tari Jaipong, Jawa sampai Kalimantan.

Mahasiswa jurusan Pendidikan MI ini mengungkapkan, pentas tari yang paling berkesan adalah saat menari di lautan pasir Gunung Bromo saat Upacara Kasada. "Waktu itu ada sekitar 50 penari yang diseleksi se-Malang Raya," bebernya.

"Waktu itu yang ditarikan adalah tari reog. Tapi yang paling berkesan adalah waktu tari itu gerakan jadi berat karena pasir, dan waktu make up juga kena pasir terus," lanjutnya.

Terakhir, dia berharap, pandemi Covid-19 ini dapat segera berakhir. "Saya bisa pentas lagi. Pinginnya sih bisa banyak job lagi biar nambah pengalaman," terangnya.

"Karena juga lebih nyaman tampil langsung daripada secara virtual," pungkasnya. (Kumparan/d)