Senin, 15 Juli 2024

Pesan Keberagaman PGI di Hadapan Imam Besar Al-Azhar Mesir

Victor R Ambarita - Rabu, 10 Juli 2024 16:58 WIB
210 view
Pesan Keberagaman PGI di Hadapan Imam Besar Al-Azhar Mesir
Foto: Dok/PGI
Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt Gomar Gultom (kanan) bersalaman dengan Imam Besar Al-Azhar Mesir, Prof Dr Sheikh Ahmed el-Tayyeb pada acara Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan oleh PBNU di Hotel Pullman Central Park, Jakarta
Jakarta (harianSIB.com)
Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt Gomar Gultom menyambut penuh sukacita kehadiran Imam Besar Al-Azhar Mesir, Yang Mulia Prof Dr Sheikh Ahmed el-Tayyeb, di Indonesia.

"Kunjungan Yang Mulia sungguh merupakan suatu kehormatan bagi kami, bukan saja umat muslim di Indonesia, tetapi juga bagi kami gereja-gereja di Indonesia," kata Pdt Gomar Gultom, dalam keterangannya, pada acara Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan oleh PBNU dengan narasumber HE Prof DR Ahmed El-Tayeb (Imam Besar Masjid Al-Azhar Mesir), yang berlangsung di Hotel Pullman Central Park, Jakarta, Rabu (10/7/2024).

Menurut Pdt Gomar, di tengah dunia yang makin tercabik-cabik oleh ragam konflik dan peperangan dan oleh peradaban yang semakin mengedepankan kuasa dan harta, sebagai buah dari budaya kerakusan, acapkali perdamaian dan kemanusiaan sering tinggal menjadi slogan.

Baca Juga:

"Karena ternyata berbagai tatanan ekonomi dan politik global terbukti tidak mampu mengatasi berbagai kontestasi dalam berbagai lapangan hidup. Mereka yang lemah, miskin dan tak mampu bersuara, utamanya perempuan dan anak-anak, dari waktu ke waktu semakin terpinggirkan," ujarnya.

"Agama-agama yang sejatinya hadir untuk memanusiakan manusia ternyata juga sering bias oleh kepentingan sesaat, bahkan acap terjebak menjadi kendaraan bagi kepentingan ekonomi atau politik tertentu," tegas dia.

Baca Juga:

Akibatnya, lanjut Pdt Gomar, peran transformatif agama-agama yang menyejarah itu sering tinggal menjadi retorika karena hanya mengedepankan simbol-simbol agama dan kehilangan.

"Ditengah kecenderungan sedemikian, dunia sangat tertolong dengan komunike bersama Imam Besar Al-Azhar, Yang Mulia Prof Dr Sheikh Ahmed el-Tayyeb, dan Bapa Suci, Sri Paus Fransiskus, tentang Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama," jelas dia

Lanjutnya, Komunike yang dikenal dengan Dokumen Abu Dhabi ini menukik pada substansi hidup bersama sebagai umat manusia, yakni persaudaraan kemanusiaan, yang melewati batas-batas agama, suku bangsa, ras dan pilihan politik. Dan karenanya sangat relevan dengan masyarakat dunia saat ini.

"Pernyataan bersama Yang Mulia Imam Besar mestinya telah menohok masyarakat dunia, yang punya kecenderungan beragama secara artifisial. Segala simbol-simbol agama dikedepankan, tetapi substansi hidup beragama malah diabaikan, yakni persaudaraan kemanusiaan," urai dia.

"Yang Mulia Imam Besar telah memotivasi kita semua untuk lebih mengedepankan perdamaian dunia dan hidup bersama, dan ini tentu akan menguatkan kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah masyarakat majemuk seperti kami, Indonesia, yang sangat beragam baik dari segi bahasa, suku bangsa dan agama. Sekalipun masyarakat kami sangat beragam, kami terus menerus membangun hidup bersama atas dasar kemanusiaan dan persaudaraan di tengah keragaman yang ada," tambah dia.

Dalam hal ini, menurut Pdt Gomar, Indonesia beruntung oleh dua hal. Pertama, sebagai bangsa, Indonesia berdasar pada ideologi Pancasila, yang merupakan kesepakatan bersama para pendiri bangsa ini, yang diikat oleh semangat Bhinneka Tunggal Ika: "Meski berbeda-beda tetapi tetap satu adanya."

"Kedua, kami beruntung memiliki saudara-saudara Muslim, sebagai penduduk terbesar di Indonesia, yang mengedepankan Islam sebagai 'Rahmatan lil Alamin', yang dalam syiar keagamaannya, selalu bergandengan tangan dengan agama-agama lain," katanya.

Tidaklah berlebihan, menurut Pdt Gomar, bila dia mengatakan Islam Indonesia yang adaptif dengan perubahan zaman, koeksistensi dalam keberagaman dan menjunjung HAM dan demokrasi bisa menjadi sumbangan bagi peradaban dunia kini dan di masa depan.

Dengan semangat seperti itu, kata dia, melalui dialog dan kerjasama antar agama mengembangkan kehidupan beragama yang menukik kepada nilai-nilai substansial dari agama masing-masing dan tidak terjebak pada simbol-simbol maupun formalisme beragama.

"Kami senantiasa mengajak umat untuk beragama secara substansial agar mudah mempertemukan para penganut agama dari agama apapun, karena pada hakikatnya setiap agama ada dan hadir untuk mewartakan nilai-nilai yang kurang lebih sama yakni persaudaraan, perdamaian dan hidup bersama dengan rukun," bebernya.

"Bagi kami di Indonesia, ungkapan Dokumen Abu Dhabi yang menyebutkan 'Tuhan tidak perlu dibela', sudah sangat lama tertanam dalam sanubari kami," tambah dia.

Karena sekitar 25 tahun lalu, lanjut Pdt Gomar, Presiden keempat Indonesia yang juga mantan Ketua Umum PBNU, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, pernah mengungkapkan bahwa Tuhan itu tidak perlu dibela, karena Tuhan itu serba maha.

"Ganti membela agama dan Tuhan, selayaknyalah kita semua membela yang lemah dan tersingkirkan, karena dengan merekalah Tuhan mempersonifikasikan diriNya (Matius 25:40)," tuturnya.

"Semoga kehadiran Yang Mulia di Indonesia, dan ditambah lagi dengan rencana kehadiran Bapa Suci, Sri Paus, September yang akan datang, semakin memperkokoh komitmen kami, masyarakat dan bangsa Indonesia, untuk ikut membangun peradaban dunia yang damai dan menata hidup bersama yang lebih adil dan rukun," tutup Pdt Gomar.(*)

Editor
: Bantors Sihombing
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Dukung Pembangunan Rumah Ibadah, Pemko Binjai Serahkan Bantuan Dana Hibah
Papan Akselerasi, Cara BEI untuk Besarkan Korporasi Masa Depan
Ketua DPRD SU Prihatin Kondisi Anjungan Sumut di TMII DKI Jakarta Minim Fasilitas
Bandar Narkoba Pakai Drone dan CCTV Pantau Polisi
Pasokan Pupuk ke Petani Diklaim Aman, Jokowi: Subsidinya Naik Dua Kali Lipat
Sampai Juli 2024, PTPN IV Regional I Realisasikan Peremajaan Sawit Rakyat 744,93 Ha, Lampaui Taget
komentar
beritaTerbaru